Kondisi Desa Sade saat ini pascakebakaran masih berada dalam tahap penanganan darurat setelah api melalap kawasan permukiman adat di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026. Kawasan yang sebelumnya dipenuhi rumah tradisional beratap alang alang kini menyisakan puing, abu, serta berbagai barang milik warga yang rusak akibat kobaran api.
Desa Adat Sade selama ini dikenal sebagai salah satu pusat kebudayaan Sasak sekaligus tujuan wisata utama di Lombok Tengah. Wisatawan datang untuk melihat rumah tradisional, aktivitas menenun, lumbung, pola permukiman serta kehidupan masyarakat yang masih mempertahankan kebiasaan turun temurun.
Peristiwa kebakaran membuat aktivitas tersebut berubah dalam waktu sangat singkat. Berdasarkan pembaruan data pemerintah hingga 24 Agustus 2026, sebanyak 167 bangunan tercatat terkena kebakaran. Dari jumlah tersebut terdapat 75 rumah adat, 69 toko kerajinan atau art shop, delapan lumbung alang serta berbagai fasilitas lain.
Sekitar 120 kepala keluarga dengan jumlah kurang lebih 320 jiwa tercatat terdampak. Tidak terdapat laporan korban jiwa dalam peristiwa tersebut, tetapi banyak keluarga kehilangan rumah, barang pribadi sekaligus sumber penghasilan.
Desa Sade Kini Didominasi Puing Bangunan
Pemandangan di Desa Sade setelah kebakaran sangat berbeda dibandingkan beberapa hari sebelumnya. Deretan rumah beratap alang alang yang menjadi ciri khas kawasan tersebut sebagian besar berubah menjadi sisa fondasi dan material terbakar.
Pada Minggu pagi setelah kejadian, warga terlihat kembali ke lokasi untuk mencari barang yang mungkin masih dapat digunakan.
Beberapa peralatan rumah tangga seperti piring, gelas, peralatan memasak serta benda berbahan logam masih ditemukan di antara puing. Sebagian lainnya sudah tidak dapat diselamatkan karena terkena api dan panas tinggi.
Warga harus memilah barang secara perlahan di tengah sisa material bangunan.
Pembersihan kemudian dilakukan bersama petugas gabungan. Pemerintah daerah, BPBD, TNI, Polri serta berbagai unsur lainnya berada di lokasi untuk membantu penanganan.
Sebagian area juga masih membutuhkan pengamanan karena menjadi bagian dari pemeriksaan penyebab kebakaran.
Sebanyak 167 Bangunan Tercatat Terkena Kebakaran
Angka kerusakan sempat berbeda pada laporan awal karena pendataan dilakukan ketika situasi masih dalam penanganan.
Pada awal kejadian muncul angka sekitar 120 hingga 129 rumah. Setelah dilakukan pendataan lebih terperinci, pemerintah mencatat 167 bangunan dalam berbagai fungsi ikut terkena kebakaran.
Jumlah tersebut tidak seluruhnya merupakan rumah tempat tinggal.
Data terbaru mencatat 75 rumah adat terbakar. Selain itu terdapat 69 art shop yang selama ini digunakan masyarakat untuk menjual kain tenun, pakaian, kerajinan serta berbagai produk khas Sasak.
Delapan lumbung alang juga tercatat terbakar.
Bangunan lain yang terkena api terdiri dari enam Berugak Sekepat dan empat Berugak Sekenam Besar. Fasilitas seperti masjid, Bale Beleq, toilet umum wisatawan, gerbang kampung adat serta Pelonggo turut masuk dalam daftar kerusakan.
Rincian tersebut memperlihatkan kebakaran tidak hanya mengenai hunian, tetapi hampir seluruh unsur penting dalam kegiatan masyarakat dan pariwisata.
“Kerusakan di Sade tidak dapat dilihat hanya dari jumlah rumah yang terbakar karena setiap bangunan juga berkaitan dengan kehidupan keluarga, pekerjaan serta keberadaan kebudayaan Sasak.”
Sekitar 320 Warga Harus Meninggalkan Rumah
Sebanyak 120 kepala keluarga atau sekitar 320 warga tercatat terkena langsung peristiwa kebakaran.
Setelah api berhasil dikendalikan, persoalan berikutnya adalah tempat tinggal sementara.
Sebagian warga memilih tinggal bersama anggota keluarga atau kerabat yang rumahnya berada di sekitar kawasan Sade. Pola kekerabatan masyarakat membantu penyediaan tempat tinggal sementara pada hari pertama setelah kejadian.
Pemerintah daerah juga mempersiapkan lokasi yang dapat digunakan warga selama pembangunan kembali belum dilakukan.
Terdapat sekitar 40 rumah khusus di bagian utara yang sebelumnya telah dibangun di sekitar kawasan Desa Rembitan. Rumah tersebut menjadi salah satu pilihan yang sedang dipertimbangkan untuk menampung warga.
Tenda pengungsian turut disediakan BPBD sebagai langkah awal.
Kebutuhan tempat tinggal menjadi perhatian karena pembangunan rumah adat tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat.
Makanan dan Kebutuhan Dasar Mulai Disalurkan
Setelah fase pemadaman selesai, perhatian pemerintah beralih pada kebutuhan warga.
Makanan menjadi salah satu kebutuhan paling mendesak karena sebagian warga kehilangan tempat menyimpan bahan pangan serta perlengkapan memasak.
Bantuan mulai datang dari berbagai pihak.
BPBD menyalurkan kebutuhan untuk pengungsian, sedangkan Kementerian Sosial mengirim berbagai barang yang diperlukan keluarga.
Bantuan tersebut mencakup ratusan paket sembako, perlengkapan keluarga, kasur serta tenda gulung. Tenda serbaguna juga disiapkan untuk kebutuhan bersama.
Bulog NTB turut menyalurkan sekitar satu ton beras bagi masyarakat Sade.
Bantuan dari komunitas, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, perusahaan hingga individu juga terus berdatangan.
Pemerintah daerah melakukan koordinasi agar distribusi bantuan dapat diarahkan sesuai kebutuhan warga.
Anak Anak Menjadi Salah Satu Kelompok yang Mendapat Perhatian
Kebakaran terjadi pada malam hari ketika sebagian masyarakat sudah berada di rumah. Situasi tersebut membuat sejumlah warga harus meninggalkan tempat tinggal dengan cepat.
Anak anak termasuk kelompok yang mendapatkan perhatian dalam penanganan setelah kejadian.
Pemerintah daerah menyatakan keberlangsungan pendidikan perlu tetap dijaga meskipun keluarga mereka sedang mengalami kesulitan tempat tinggal.
Peralatan sekolah yang terbakar juga perlu didata.
Selain kebutuhan pendidikan, kondisi psikologis anak turut diperhatikan.
Tim kesehatan dari sejumlah instansi mulai melakukan pendampingan kepada warga. Pemeriksaan tidak hanya diarahkan pada kesehatan fisik, tetapi juga keadaan psikologis setelah mengalami kejadian besar.
Tim Rumah Sakit Mutiara Sukma NTB, misalnya, melakukan asesmen terhadap kelompok anak sekolah dan orang dewasa.
Pendampingan seperti ini diperlukan karena pengalaman melihat rumah terbakar dapat meninggalkan rasa takut, terutama pada anak.
Warga Kehilangan Tempat Tinggal Sekaligus Sumber Penghasilan
Bagi masyarakat Desa Sade, rumah dan pekerjaan sering berada dalam lingkungan yang sama.
Banyak perempuan Sasak menjalankan aktivitas menenun di sekitar tempat tinggal. Produk tersebut kemudian dijual kepada wisatawan melalui art shop yang berada di dalam kampung.
Ketika 69 art shop ikut terbakar, persoalan warga menjadi semakin luas.
Sebagian kain tenun yang membutuhkan waktu panjang untuk dibuat ikut hangus. Peralatan tenun juga ditemukan rusak di sejumlah titik.
Pedagang kehilangan stok barang, sementara pemandu wisata menghadapi berkurangnya aktivitas kunjungan.
Sebelum kebakaran, wisatawan domestik dan asing dapat datang setiap hari. Mereka berjalan melalui lorong sempit kampung sambil melihat rumah adat, proses menenun serta kehidupan masyarakat Sasak.
Saat ini aktivitas tersebut belum dapat berlangsung seperti biasanya karena perhatian utama masih diarahkan pada keselamatan serta pemulihan warga.
Aktivitas Wisata Desa Sade Belum Kembali Normal
Desa Sade merupakan salah satu tempat yang hampir selalu masuk dalam perjalanan wisata Lombok, terutama bagi wisatawan yang bergerak menuju kawasan Mandalika.
Posisinya yang relatif mudah dijangkau membuat kampung tersebut dikunjungi banyak rombongan.
Kebakaran membuat sebagian besar fasilitas wisata tidak dapat digunakan.
Gerbang kawasan ikut terdampak. Toilet umum juga masuk dalam daftar bangunan yang terbakar. Puluhan art shop yang biasanya melayani wisatawan tidak lagi beroperasi seperti sebelum kejadian.
Pemerintah NTB bahkan mulai menyiapkan sejumlah destinasi budaya alternatif untuk menerima wisatawan.
Beberapa lokasi yang disiapkan antara lain Kampung Adat Ende, Desa Adat Bayan, Kampung Tenun Sukarara serta Kampung Adat Pringgasela.
Langkah tersebut juga berkaitan dengan kebutuhan menjaga kesiapan pariwisata NTB menjelang periode kunjungan yang meningkat.
Pemerintah Membentuk Satgas Pemulihan Desa Sade
Pada Senin, 24 Agustus 2026, Pemerintah Provinsi NTB memutuskan membentuk satuan tugas khusus untuk penanganan Desa Adat Sade.
Satgas bertugas mempercepat proses pemulihan dan penataan kawasan.
Pembentukan tim khusus menjadi penting karena pekerjaan yang harus dilakukan melibatkan banyak sektor.
Pemerintah tidak hanya perlu membangun rumah warga. Kawasan tersebut memiliki status sebagai permukiman tradisional dan destinasi wisata budaya sehingga bentuk pembangunan tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan pendekatan konstruksi biasa.
Tokoh adat dan masyarakat harus dilibatkan.
Kementerian Kebudayaan, Kementerian Pariwisata, Pemerintah Provinsi NTB serta Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah juga mulai membicarakan bentuk pemulihan yang dapat diterapkan.
Penanganan dilakukan setelah kebutuhan warga pada masa darurat terpenuhi.
Masa Tanggap Darurat Ditetapkan Selama 14 Hari
Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah menetapkan status tanggap darurat setelah kebakaran.
Masa tersebut berlaku selama 14 hari terhitung sejak 23 Agustus 2026.
Pada tahap ini, pemerintah memusatkan pekerjaan pada pemenuhan kebutuhan dasar.
Sandang, pangan, tempat tinggal, kesehatan, keamanan serta pendidikan anak menjadi prioritas.
Pembersihan puing dilakukan secara bertahap.
Pendataan kerugian juga terus diperbarui karena banyak bangunan memiliki fungsi berbeda.
Status tanggap darurat memberikan ruang bagi instansi pemerintah untuk bergerak lebih terkoordinasi dalam penyediaan kebutuhan warga.
Setelah tahap tersebut selesai, perhatian akan beralih lebih besar pada rehabilitasi serta pembangunan kembali kawasan.
Rumah Adat Tidak Bisa Dibangun Seperti Rumah Biasa
Salah satu persoalan terbesar dalam membangun kembali Desa Sade adalah mempertahankan bentuk rumah tradisional Sasak.
Rumah Sade menggunakan bahan yang memiliki karakter khusus.
Atap umumnya dibuat dari alang alang. Dinding memanfaatkan anyaman bambu atau bedek, sedangkan beberapa unsur bangunan memakai kayu serta bahan yang tersedia di sekitar lingkungan.
Material semacam inilah yang memberikan karakter visual Desa Sade.
Pada saat bersamaan, bahan tersebut mudah terbakar.
Ketika api muncul pada malam kejadian, jarak antarbangunan yang cukup dekat membuat kobaran dapat berpindah sangat cepat.
Pemerintah kini harus mencari cara mempertahankan karakter rumah Sasak sembari meningkatkan perlindungan terhadap kebakaran.
Keputusan mengenai material tidak dapat dilakukan sepihak karena rumah tersebut merupakan bagian dari tradisi masyarakat.
Atap Alang Alang Menjadi Bagian yang Akan Dibicarakan
Atap alang alang merupakan salah satu ciri paling kuat pada permukiman Sade.
Bahan tersebut memberikan bentuk rumah yang selama ini dikenal wisatawan.
Namun, setelah kebakaran, penggunaannya kembali menjadi bahan pembicaraan.
Bupati Lombok Tengah menyatakan keputusan mengenai penggunaan alang alang harus didiskusikan bersama masyarakat dan tokoh adat.
Menghilangkan material tradisional seluruhnya dapat mengubah karakter kampung.
Sebaliknya, membangun kembali dengan sistem lama tanpa meningkatkan perlindungan kebakaran juga menimbulkan risiko.
Pilihan yang sedang dicari adalah cara menjaga keaslian arsitektur sambil memperkuat sistem keselamatan.
Sistem kelistrikan, jarak antarbagian bangunan, ketersediaan sumber air serta peralatan pemadaman kemungkinan menjadi bagian yang harus diperbaiki.
Akses Mobil Pemadam Menjadi Catatan Penting
Kepadatan rumah di dalam Desa Sade menjadi salah satu persoalan ketika kebakaran terjadi.
Lorong permukiman dibuat mengikuti pola tradisional dan tidak dirancang untuk kendaraan pemadam berukuran besar.
Ketika kebakaran meluas, akses menjadi tantangan bagi petugas.
Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah kini memasukkan akses penanganan keadaan darurat sebagai salah satu bahan evaluasi.
Namun, pelebaran jalan juga harus dilakukan hati hati karena struktur permukiman merupakan bagian dari karakter kampung adat.
Pemerintah perlu menemukan bentuk akses yang memungkinkan petugas mencapai sumber kebakaran tanpa mengubah keseluruhan pola kampung.
Penyediaan titik air dan peralatan pemadaman mandiri juga menjadi hal yang mendapat perhatian.
Artefak dan Peralatan Tradisional Mulai Didata
Kebakaran tidak hanya menghancurkan bangunan.
Berbagai benda yang digunakan masyarakat selama bertahun tahun juga ikut berada di dalam rumah ketika api muncul.
Dinas Kebudayaan NTB mulai melakukan inventarisasi benda yang masih dapat ditemukan.
Gerabah, perlengkapan menenun serta berbagai benda tradisional diperiksa dari sisa kebakaran.
Penyelamatan benda semacam ini penting karena tidak seluruh peninggalan dapat dibuat kembali dengan mudah.
Sebagian memiliki hubungan dengan kehidupan keluarga dan tradisi masyarakat setempat.
Cerita warga juga menjadi bagian yang perlu didokumentasikan.
Desa Sade diperkirakan telah dihuni selama ratusan tahun sehingga pengetahuan mengenai pola rumah, cara membangun, tata ruang, ritual serta kehidupan sosial banyak tersimpan melalui ingatan masyarakat.
Kerugian Tidak Hanya Berasal dari Bangunan
Perhitungan kerugian akibat kebakaran masih terus dilakukan.
Nilainya tidak cukup dihitung berdasarkan harga rumah.
Stok kain tenun, perhiasan, uang tunai, telepon seluler, perlengkapan rumah, alat usaha serta berbagai barang lain ikut terbakar.
Art shop yang menjadi tempat masyarakat memperoleh pendapatan juga kehilangan sebagian besar barang dagangan.
Kemudian terdapat persoalan berkurangnya pemasukan selama aktivitas wisata belum berjalan normal.
Pemandu yang biasanya menemani wisatawan keliling kampung kehilangan aktivitas kerja.
Penenun juga membutuhkan peralatan dan bahan agar dapat kembali menghasilkan kain.
Karena itu, bantuan tahap berikutnya perlu menyentuh pemulihan usaha masyarakat selain pembangunan tempat tinggal.
Tidak Ada Korban Jiwa Menjadi Hal yang Disyukuri Warga
Di tengah besarnya kerusakan, tidak adanya korban jiwa menjadi kabar yang sangat penting.
Api membesar dengan cepat ketika sebagian masyarakat sedang beristirahat.
Warga berusaha saling membangunkan serta keluar dari bangunan sebelum kobaran menyebar lebih luas.
Material rumah yang mudah terbakar membuat waktu evakuasi sangat terbatas.
Angin pada malam tersebut juga disebut membantu api bergerak semakin cepat.
Banyak warga akhirnya tidak memiliki kesempatan menyelamatkan barang.
Pilihan utama adalah keluar dari kawasan dan memastikan anggota keluarga berada dalam keadaan aman.
“Rumah dan barang dapat dibangun kembali, tetapi keberhasilan seluruh warga menyelamatkan diri menjadi hal paling berharga dari kejadian besar yang menghancurkan sebagian kawasan Sade.”
Penyebab Kebakaran Belum Dinyatakan Secara Resmi
Sejak malam kejadian, beredar dugaan bahwa kebakaran berkaitan dengan gangguan listrik atau berasal dari salah satu bagian rumah warga.
Namun, hingga 24 Agustus 2026, penyebab tersebut belum dinyatakan sebagai hasil resmi penyelidikan.
Polresta Lombok Tengah bersama Puslabfor Polda Bali dan Inafis Polda NTB melakukan pemeriksaan tempat kejadian.
Tim mendatangi titik yang diduga menjadi lokasi awal munculnya api.
Puing diperiksa untuk menemukan petunjuk yang dapat membantu menentukan sumber kebakaran.
Langkah ini diperlukan agar penyebab tidak ditentukan hanya berdasarkan perkiraan saksi.
Hasil pemeriksaan juga dapat menjadi bahan perbaikan sistem keselamatan ketika Desa Sade dibangun kembali.
Jika ditemukan persoalan pada instalasi listrik, sistem tersebut harus ditata ulang. Jika ditemukan penyebab lain, bentuk pencegahannya tentu harus mengikuti temuan penyelidikan.
Pemulihan Akan Melibatkan Tokoh Adat dan Masyarakat
Pemerintah Provinsi NTB menegaskan pembangunan Desa Sade tidak akan dilakukan tanpa pembicaraan bersama masyarakat.
Tokoh adat akan terlibat dalam menentukan bentuk penataan.
Pendekatan tersebut diperlukan karena masyarakat Sade bukan penghuni kawasan wisata buatan. Mereka telah hidup dan mempertahankan kebiasaan Sasak secara turun temurun.
Rumah merupakan bagian dari aktivitas keluarga.
Lumbung memiliki fungsi dalam kehidupan masyarakat. Berugak digunakan sebagai ruang sosial. Bale Beleq mempunyai kedudukan tersendiri dalam struktur kampung.
Karena itu, pembangunan kembali harus memahami fungsi setiap bangunan.
Pemerintah juga perlu memastikan perubahan yang bertujuan meningkatkan keselamatan tidak menghapus ciri tradisional yang membuat Sade berbeda dari permukiman biasa.
Kondisi Desa Sade Saat Ini Masih Berada pada Tahap Awal Pemulihan
Hingga Senin malam, 24 Agustus 2026, kondisi Desa Sade saat ini pascakebakaran masih berpusat pada penanganan warga, pembersihan kawasan, penyelidikan penyebab serta penyusunan rencana pembangunan kembali.
Puing rumah masih menjadi pemandangan dominan pada bagian yang paling parah terbakar.
Warga belum seluruhnya dapat kembali menjalani aktivitas seperti sebelum kejadian. Sebagian tinggal bersama keluarga, sementara tempat tinggal sementara sedang disiapkan.
Satgas pemulihan telah dibentuk dan masa tanggap darurat masih berlangsung.
Kebutuhan pangan, kesehatan, perlindungan anak serta tempat tinggal menjadi pekerjaan pertama sebelum pembangunan rumah adat dimulai.
Pada saat bersamaan, pemerintah mulai mendata benda budaya yang masih dapat diselamatkan serta membicarakan bentuk penataan kawasan bersama masyarakat.
Pekerjaan berikutnya akan membutuhkan keputusan mengenai rumah adat, material atap, sistem kelistrikan, akses pemadam, sumber air serta perlindungan terhadap kawasan yang sebagian besar menggunakan bahan alami. Seluruh langkah tersebut harus berjalan bersama keinginan masyarakat Sade mempertahankan ciri permukiman Sasak yang selama ratusan tahun menjadi tempat tinggal mereka.

Comment