Pahlawan Revolusi Indonesia merupakan gelar yang diberikan negara kepada sepuluh anggota militer dan kepolisian yang gugur dalam rangkaian peristiwa Gerakan 30 September 1965. Nama mereka terus dikenang melalui buku pelajaran, monumen, museum, nama jalan, pangkalan militer, gedung pemerintahan, serta upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila setiap 1 Oktober.
Sebagian masyarakat lebih mengenal tujuh perwira yang jenazahnya ditemukan di sebuah sumur tua di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur. Namun, jumlah Pahlawan Revolusi secara resmi bukan tujuh, melainkan sepuluh orang. Tiga nama lainnya adalah Karel Satsuit Tubun yang gugur di Jakarta, serta Katamso Darmokusumo dan Sugiyono Mangunwiyoto yang gugur di Yogyakarta.
Kesepuluh orang tersebut berasal dari latar belakang berbeda. Ada yang menduduki jabatan tertinggi di Angkatan Darat, bekerja dalam bidang intelijen, menangani urusan kehakiman militer, menjadi ajudan, bertugas sebagai anggota kepolisian, hingga memimpin komando teritorial di daerah. Seluruhnya kemudian memperoleh kenaikan pangkat secara anumerta dan dimasukkan dalam jajaran Pahlawan Nasional Indonesia.
Gelar Pahlawan Revolusi Ditetapkan Seusai Peristiwa 1965
Penetapan Pahlawan Revolusi dilakukan melalui sejumlah keputusan Presiden atau Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia pada 1965. Tujuh korban yang berkaitan dengan peristiwa di Jakarta ditetapkan melalui Ketetapan Presiden Nomor 111 KOTI Tahun 1965. Karel Satsuit Tubun ditetapkan melalui Nomor 114 KOTI Tahun 1965, sedangkan Katamso Darmokusumo dan Sugiyono Mangunwiyoto ditetapkan melalui Nomor 118 KOTI Tahun 1965. Arsip Angkatan Laut di Arsip Nasional Republik Indonesia juga mencatat adanya dokumen penganugerahan Pahlawan Revolusi melalui keputusan bernomor 111 KOTI dan 180 sampai 181 KOTI.
Dalam perkembangan hukum berikutnya, Undang Undang Nomor 20 Tahun 2009 menyatukan sejumlah bentuk gelar kepahlawanan yang sebelumnya tersebar dalam berbagai aturan. Penjelasan undang undang tersebut menyebut kategori terdahulu seperti Pahlawan Kemerdekaan Nasional, Pahlawan Proklamator, Pahlawan Kebangkitan Nasional, Pahlawan Revolusi, dan Pahlawan Ampera. Kedudukan mereka kini berada dalam kelompok Pahlawan Nasional.
Peristiwa politik dan keamanan pada 1965 masih terus dipelajari melalui arsip, kesaksian, penelitian, dan dokumen resmi. Artikel ini berfokus pada riwayat sepuluh orang yang memperoleh gelar Pahlawan Revolusi, tanpa menyederhanakan seluruh pergolakan politik Indonesia pada masa tersebut hanya melalui satu penjelasan.
“Penghormatan terhadap Pahlawan Revolusi perlu disertai kemauan mempelajari riwayat hidup mereka, bukan hanya menghafal nama dan pangkat yang tercetak di buku sekolah.”
Tujuh Perwira yang Berkaitan dengan Peristiwa Lubang Buaya
Tujuh nama paling dikenal dalam kelompok Pahlawan Revolusi adalah Ahmad Yani, Raden Suprapto, Mas Tirtodarmo Haryono, Siswondo Parman, Donald Isaac Panjaitan, Sutoyo Siswomiharjo, dan Pierre Andreas Tendean. Mereka menjadi sasaran penculikan pada malam 30 September hingga dini hari 1 Oktober 1965 di Jakarta.
Sebagian gugur di kediaman masing masing, sedangkan sebagian lainnya dibawa hidup hidup dari rumah. Jenazah mereka kemudian ditemukan di sebuah sumur tua di Lubang Buaya dan diangkat pada 4 Oktober 1965. Pemakaman kenegaraan dilaksanakan di Taman Makam Pahlawan Kalibata sehari setelahnya. Kawasan tempat penemuan tersebut kini menjadi bagian dari kompleks Monumen Pancasila Sakti.
Jenderal Ahmad Yani, Pemimpin Tertinggi Angkatan Darat
Ahmad Yani lahir di Purworejo, Jawa Tengah, pada 19 Juni 1922. Ia pernah mengikuti pendidikan militer pada masa Hindia Belanda serta bergabung dengan Pembela Tanah Air saat pendudukan Jepang. Setelah Proklamasi Kemerdekaan, ia masuk Tentara Keamanan Rakyat dan terlibat dalam perjuangan mempertahankan Republik Indonesia.
Karier Ahmad Yani meningkat melalui berbagai penugasan militer. Ia pernah memimpin operasi menghadapi Darul Islam dan Tentara Islam Indonesia di Jawa Tengah, menjadi Atase Militer Indonesia di Amerika Serikat, serta mengikuti pendidikan staf dan komando di luar negeri. Pada 1962, Ahmad Yani diangkat sebagai Menteri atau Panglima Angkatan Darat menggantikan Abdul Haris Nasution.
Pada dini hari 1 Oktober 1965, sekelompok pasukan mendatangi rumahnya di Jalan Latuharhary, Menteng, Jakarta. Ahmad Yani menolak dibawa dan ditembak di rumah tersebut. Jenazahnya kemudian dibawa menuju Lubang Buaya. Setelah wafat, pangkatnya dinaikkan secara anumerta menjadi jenderal.
Raden Suprapto, Perwira yang Berpengalaman di Medan Perjuangan
Raden Suprapto lahir di Purwokerto pada 20 Juni 1920. Sebelum Indonesia merdeka, ia pernah mengikuti pendidikan militer Koninklijk Nederlands Indisch Leger. Pendidikan itu tidak selesai karena pasukan Jepang mengambil alih Hindia Belanda pada 1942.
Seusai Proklamasi, Suprapto bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat. Ia pernah bertugas sebagai ajudan Panglima Besar Jenderal Soedirman, Kepala Staf Tentara dan Teritorium IV Diponegoro, serta menjalankan pekerjaan di Staf Angkatan Darat dan Kementerian Pertahanan. Pengalamannya meliputi urusan lapangan, administrasi, dan penyusunan organisasi pertahanan.
Pasukan penculik datang ke rumah Suprapto di kawasan Menteng pada dini hari 1 Oktober. Ia dibawa dengan alasan diminta menghadap Presiden Soekarno. Suprapto kemudian dibawa menuju Lubang Buaya dan gugur bersama sejumlah perwira lainnya. Negara menaikkan pangkatnya menjadi letnan jenderal secara anumerta.
M.T. Haryono, Perwira dengan Kemampuan Bahasa dan Diplomasi
Mas Tirtodarmo Haryono lahir di Surabaya pada 20 Januari 1924. Ia sempat menempuh pendidikan kedokteran di Ika Dai Gakko pada masa pendudukan Jepang. Setelah Indonesia merdeka, Haryono memilih bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat dan memulai pengabdian militernya dengan pangkat mayor.
Kemampuan berbahasa Belanda, Inggris, dan Jerman membuat Haryono dipercaya menjalankan sejumlah tugas yang berkaitan dengan perundingan. Ia pernah menjadi sekretaris delegasi militer Indonesia dalam pembicaraan dengan Belanda dan Sekutu. Menjelang 1965, ia menjabat Deputi III Menteri atau Panglima Angkatan Darat yang menangani pembinaan dan perencanaan.
Ketika pasukan datang ke rumahnya pada dini hari 1 Oktober, Haryono berusaha melakukan perlawanan. Ia ditembak sebelum jasadnya dibawa menuju Lubang Buaya. Pangkatnya kemudian dinaikkan secara anumerta menjadi letnan jenderal.
S. Parman, Perwira Intelijen Angkatan Darat
Siswondo Parman lahir di Wonosobo pada 4 Agustus 1918. Ia pernah menempuh pendidikan kedokteran, tetapi tidak menyelesaikannya setelah kedatangan Jepang. Pada masa pendudukan, Parman bekerja dalam lingkungan kepolisian militer Jepang dan memperoleh pengetahuan mengenai penyelidikan serta intelijen.
Setelah kemerdekaan, S. Parman bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat. Ia menjalankan tugas dalam bidang intelijen dan pernah dikirim ke luar negeri untuk memperdalam kemampuan tersebut. Menjelang peristiwa 1965, ia menjabat Asisten I Menteri atau Panglima Angkatan Darat yang berkaitan dengan urusan intelijen.
S. Parman dijemput dari kediamannya dengan alasan harus menghadap Presiden. Ia dibawa menuju Lubang Buaya dan kemudian ditemukan dalam keadaan meninggal dunia. Negara memberikan kenaikan pangkat menjadi letnan jenderal secara anumerta.
D.I. Panjaitan, Perwira Logistik yang Taat Menjalankan Tugas
Donald Isaac Panjaitan lahir di Balige, Sumatera Utara, pada 9 Juni 1925. Pada masa pendudukan Jepang, ia memperoleh pendidikan militer dan bergabung dengan Gyugun di Pekanbaru. Setelah Indonesia merdeka, Panjaitan ikut membangun Tentara Keamanan Rakyat di wilayah Sumatera.
Ia pernah menjalankan sejumlah jabatan dalam struktur militer, termasuk Kepala Staf Operasi Tentara dan Teritorium I Bukit Barisan, Atase Militer Indonesia di Bonn, Jerman Barat, serta pejabat yang menangani urusan logistik Angkatan Darat. Pendidikan dan penugasannya membentuk reputasi sebagai perwira yang tertib dan teliti.
Pada dini hari 1 Oktober, pasukan bersenjata memasuki rumah Panjaitan. Ia mengenakan seragam sebelum menemui mereka. Panjaitan kemudian ditembak di halaman rumah dan jasadnya dibawa ke Lubang Buaya. Pangkatnya dinaikkan secara anumerta menjadi mayor jenderal.
Sutoyo Siswomiharjo, Perwira di Bidang Kehakiman Militer
Sutoyo Siswomiharjo lahir di Kebumen pada 28 Agustus 1922. Ia pernah bekerja di lingkungan pemerintahan sebelum bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat. Perjalanan dinasnya banyak berkaitan dengan administrasi, organisasi, dan hukum militer.
Sutoyo pernah menjadi ajudan Kolonel Gatot Subroto, Kepala Bagian Organisasi Resimen II Polisi Tentara, serta pejabat di Inspektorat Kehakiman Angkatan Darat. Menjelang wafat, ia memegang jabatan Inspektur Kehakiman atau Oditur Jenderal Angkatan Darat. Posisi tersebut memiliki tanggung jawab besar dalam penegakan aturan di lingkungan militer.
Pada dini hari 1 Oktober, Sutoyo dibawa dari rumahnya dengan alasan mendapat panggilan dari Presiden. Ia kemudian gugur dan ditemukan bersama enam perwira lainnya di Lubang Buaya. Pangkatnya dinaikkan menjadi mayor jenderal secara anumerta.
Pierre Tendean, Ajudan Muda yang Disangka A.H. Nasution
Pierre Andreas Tendean lahir di Jakarta pada 21 Februari 1939. Ia merupakan lulusan Akademi Teknik Angkatan Darat dan bertugas dalam kesatuan zeni. Pierre pernah mengikuti operasi militer di Sumatera sebelum dipercaya menjadi ajudan Jenderal Abdul Haris Nasution.
Ketika pasukan bersenjata mendatangi kediaman Nasution, Pierre berada di kompleks rumah tersebut. Dalam keadaan gelap dan kacau, ia ditangkap karena disangka sebagai Nasution. Sejumlah laporan populer menyebut Pierre sengaja mengaku sebagai Nasution, tetapi rincian kejadian memiliki beberapa versi. Hal yang dapat dipastikan, ia dibawa oleh pasukan penculik dan kemudian gugur di Lubang Buaya.
Pierre merupakan korban termuda di antara tujuh orang yang ditemukan di sumur tersebut. Usianya baru 26 tahun. Negara menaikkan pangkatnya menjadi kapten secara anumerta dan menganugerahkan gelar Pahlawan Revolusi.
Karel Satsuit Tubun Gugur Saat Menjalankan Penjagaan
Karel Satsuit Tubun lahir di Tual, Maluku Tenggara, pada 14 Oktober 1928. Ia memilih karier sebagai anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia dan kemudian bergabung dengan Brigade Mobil. Penugasannya membawanya ke sejumlah wilayah, termasuk Jakarta.
Pada malam terjadinya penculikan para perwira Angkatan Darat, Karel sedang bertugas menjaga kediaman Wakil Perdana Menteri Johannes Leimena. Rumah Leimena berada tidak jauh dari kediaman Jenderal A.H. Nasution. Ketika mendengar keributan dan melihat kelompok bersenjata memasuki kawasan tersebut, Karel berusaha melakukan perlawanan.
Ia ditembak dan gugur di tempat tugasnya. Berbeda dari tujuh korban lain, jenazah Karel tidak dibawa ke Lubang Buaya. Negara memberikan kenaikan pangkat secara anumerta menjadi Ajun Inspektur Polisi Dua serta menetapkannya sebagai Pahlawan Revolusi melalui keputusan tersendiri.
Katamso dan Sugiyono Menjadi Korban di Yogyakarta
Rangkaian kekerasan pada awal Oktober 1965 tidak hanya berlangsung di Jakarta. Di Yogyakarta, Komandan Korem 072 Pamungkas Kolonel Katamso Darmokusumo dan Kepala Staf Korem Letnan Kolonel Sugiyono Mangunwiyoto diculik oleh kelompok yang menguasai sejumlah bagian kesatuan militer setempat.
Keduanya dibawa menuju kawasan Kentungan di utara Kota Yogyakarta. Mereka kemudian dibunuh secara terpisah dan dikuburkan dalam satu lubang. Jenazah Katamso dan Sugiyono baru ditemukan beberapa minggu kemudian. Keduanya ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi pada 19 Oktober 1965.
Katamso Darmokusumo, Komandan Korem 072 Pamungkas
Katamso Darmokusumo lahir di Sragen pada 5 Februari 1923. Ia memperoleh pendidikan militer pada masa Jepang dan bergabung dengan Pembela Tanah Air. Setelah kemerdekaan, Katamso masuk Tentara Keamanan Rakyat serta mengikuti berbagai penugasan untuk mempertahankan Republik.
Ia pernah bertugas di Jawa Tengah dan Sumatera Barat, termasuk menghadapi pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia. Pengalaman tersebut membawanya menduduki jabatan Komandan Korem 072 Pamungkas yang berpusat di Yogyakarta.
Pada 1 Oktober 1965, Katamso diculik dari kediamannya dan dibawa ke Kentungan. Ia dibunuh pada malam berikutnya. Setelah jenazahnya ditemukan, Katamso dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara, Yogyakarta. Pangkatnya dinaikkan menjadi brigadir jenderal secara anumerta.
Sugiyono Mangunwiyoto, Kepala Staf Korem yang Bertahan pada Tugasnya
Sugiyono Mangunwiyoto lahir di Gunungkidul, Yogyakarta, pada 12 Agustus 1926. Ia pernah menjadi anggota Pembela Tanah Air sebelum bergabung dengan kesatuan militer Republik Indonesia. Sugiyono terlibat dalam perjuangan kemerdekaan dan melanjutkan kariernya setelah pengakuan kedaulatan.
Ia pernah bertugas sebagai ajudan Komandan Brigade, mengikuti pendidikan staf, serta menempati sejumlah posisi dalam komando teritorial. Menjelang Oktober 1965, Sugiyono menjabat Kepala Staf Korem 072 Pamungkas dan bekerja langsung bersama Katamso.
Sugiyono ditangkap ketika berusaha mengetahui keadaan komandannya. Ia kemudian dibawa ke Kentungan dan dibunuh. Jenazahnya ditemukan bersama Katamso, lalu dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara. Pangkat Sugiyono dinaikkan secara anumerta menjadi kolonel.
A.H. Nasution Selamat tetapi Kehilangan Putri dan Ajudannya
Jenderal Abdul Haris Nasution menjadi salah satu sasaran utama penculikan di Jakarta. Ia berhasil meloloskan diri dengan melewati tembok menuju halaman Kedutaan Besar Irak. Namun, putrinya yang masih kecil, Ade Irma Suryani Nasution, terkena tembakan dan meninggal beberapa hari kemudian.
Ajudannya, Pierre Tendean, ditangkap dan dibawa karena disangka sebagai Nasution. Seorang anggota kepolisian yang berjaga di sekitar kediaman Johannes Leimena, Karel Satsuit Tubun, juga gugur ketika berusaha menghadapi kelompok bersenjata.
A.H. Nasution tidak termasuk dalam daftar Pahlawan Revolusi karena selamat dari peristiwa tersebut. Ia baru memperoleh gelar Pahlawan Nasional pada 2002 atas pengabdian panjangnya dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.
“Riwayat sepuluh Pahlawan Revolusi memperlihatkan bahwa keberanian dapat hadir dalam berbagai kedudukan, mulai dari panglima, perwira staf, ajudan muda, hingga polisi yang menjaga sebuah rumah.”
Monumen Pancasila Sakti Menjadi Ruang Penyimpanan Ingatan Sejarah
Kompleks Monumen Pancasila Sakti berada di Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Di kawasan tersebut terdapat Monumen Pahlawan Revolusi, Museum Pengkhianatan PKI, Museum Paseban, rumah yang digunakan dalam rangkaian peristiwa, kendaraan bersejarah, serta sumur tua tempat tujuh jenazah ditemukan.
Monumen utama menampilkan tujuh patung Pahlawan Revolusi yang berdiri di hadapan relief peristiwa 1965. Patung Garuda Pancasila berukuran besar ditempatkan di bagian atas, sementara tulisan peringatan dipahat pada bagian depan bangunan. Kompleks ini digunakan sebagai lokasi utama upacara Hari Kesaktian Pancasila setiap 1 Oktober.
Pengunjung tidak hanya melihat patung dan ruang pamer. Mereka dapat mempelajari posisi rumah, sumur, kendaraan, pakaian, foto, dan benda yang dikaitkan dengan para korban. Meski penyajian museum lahir dari kebijakan sejarah pada periode tertentu, keberadaan arsip serta benda peninggalan tetap memberi bahan penting untuk memahami bagaimana negara mengenang peristiwa 1965.
Nama para Pahlawan Revolusi juga digunakan untuk jalan di berbagai kota. Jalan Jenderal Ahmad Yani, M.T. Haryono, D.I. Panjaitan, S. Parman, K.S. Tubun, Sutoyo, Katamso, Sugiyono, Suprapto, dan Pierre Tendean dapat ditemukan di banyak daerah. Penggunaan nama tersebut menjadikan riwayat mereka hadir dalam kehidupan masyarakat, dari alamat rumah dan sekolah hingga pusat pemerintahan serta jalur transportasi.

Comment