Kehadiran film terbaru karya Guillermo del Toro kembali membuktikan posisi sang sutradara sebagai maestro sinema modern. Karya terbarunya, adaptasi Frankenstein yang dibintangi Oscar Isaac dan Jacob Elordi, mencuri perhatian dunia setelah mendapatkan standing ovation selama 13 menit di Venice Film Festival. Momen ini seketika menjadi sorotan global, sebuah penanda bahwa film ini bukan sekadar remake, tetapi sebuah interpretasi ulang yang menyentuh ranah artistik dan emosional secara berbeda.
Publik langsung membanjiri media sosial dengan pujian, sementara kritikus memuji keberanian visual dan kedalaman naratif film tersebut. Del Toro yang dikenal dengan gaya visual gotik dan nuansa gelap namun puitis, sekali lagi menunjukkan bahwa ia mampu menghidupkan cerita klasik dengan perspektif yang segar tanpa kehilangan ruh sumber aslinya.
“Kalau ada sutradara yang bisa menghidupkan monster menjadi lebih manusiawi dari manusia itu sendiri, rasanya Guillermo del Toro adalah jawabannya.”
Momen Standing Ovation yang Menggema di Ruang Festival
Standing ovation yang berlangsung hingga 13 menit bukanlah hal yang terjadi setiap hari di Venice Film Festival. Banyak film besar, sutradara ternama, hingga bintang terkenal berdiri di panggung festival ini, namun hanya sedikit yang diberi apresiasi sepanjang itu.
Para penonton festival tampak enggan berhenti bertepuk tangan, dan tak sedikit yang berdiri sambil meneriakkan nama del Toro. Kamera menyorot sang sutradara yang tampak berkaca kaca, sementara Oscar Isaac dan Jacob Elordi saling memberikan tepukan bangga sesama pemain.
Reaksi ini menunjukkan bahwa film tersebut berhasil membangkitkan sesuatu yang lebih dari sekadar nostalgia. Penonton festival, yang biasanya sangat kritis, justru terhanyut dalam pengalaman sinematik yang mendalam.
Oscar Isaac sebagai Frankenstein yang Penuh Luka Batin
Oscar Isaac kembali menunjukkan kelasnya sebagai aktor dengan range emosional luar biasa. Dalam film ini, ia memerankan makhluk ciptaan Dr. Frankenstein dengan nuansa yang lebih manusiawi, jauh dari penggambaran monster brutal yang sering kita lihat dalam adaptasi sebelumnya.
Interpretasinya kuat, rapuh, dan penuh ekspresi halus yang membuat penonton merasa iba. Isaac membawa lapisan emosional yang membuat karakter Frankenstein terasa lebih seperti korban ketimbang ancaman.
Penampilannya bahkan disebut sebanding dengan permainan monumental dari para aktor yang pernah membintangi versi klasik film ini sebelumnya.
Jacob Elordi sebagai Dr. Frankenstein yang Kompleks
Jacob Elordi, yang namanya semakin melambung dalam beberapa tahun terakhir, tampil memukau sebagai Dr. Frankenstein. Dikenal lewat peran peran remaja, ia kini memperlihatkan kedewasaan artistik yang melampaui ekspektasi publik.
Elordi membawakan tokoh Frankenstein sebagai sosok dengan visi besar, namun juga dihantui rasa bersalah dan obsesi yang merusak. Penonton menyaksikan dengan jelas transformasi emosional karakter ini, dari ilmuwan brilian menjadi seseorang yang bergulat dengan hasil ciptaannya sendiri.
Sebagian kritikus bahkan menilai bahwa Elordi menciptakan salah satu interpretasi Dr. Frankenstein paling tragis dalam sejarah film.
“Melihat Elordi memerankan ilmuwan yang tersiksa adalah pengalaman yang membuat dada terasa tight, seolah kita ikut menanggung beban obsesinya.”
Sentuhan Khas Guillermo del Toro yang Tak Tergantikan
Guillermo del Toro sudah lama dikenal sebagai sutradara yang menggabungkan fantasi gelap dengan pesan kemanusiaan. Frankenstein versinya disebut sebagai karya paling personal sejak The Shape of Water. Ia bukan hanya mengangkat kisah monster, tetapi menggali sisi sisi lembut, kesepian, dan kerinduan akan identitas.
Film ini dikabarkan penuh elemen praktikal, prostetik detail, dan permainan cahaya yang menciptakan atmosfer gotik nan elegan. Del Toro mempertahankan visual puitis yang menjadi ciri khasnya, sambil menghadirkan narasi yang terasa intim dan emosional.
Para penonton menyebut film ini sebagai “sangat del Toro”, tetapi dalam format yang lebih matang dan menyayat hati.
Musik, Tata Artistik, dan Editing yang Menyelaras
Film ini tidak hanya kuat secara akting dan narasi. Musik latar, yang dikerjakan oleh komposer kenamaan, menghadirkan nuansa melankolis sekaligus epik, membuat setiap adegan terasa seperti lukisan bergerak. Tata artistik yang penuh detail menciptakan dunia gelap yang memikat mata, sementara editing yang rapi menonjolkan ritme emosional cerita.
Dalam beberapa adegan, penonton merasa seolah berada dalam mimpi buruk indah yang hanya bisa dihasilkan lewat karya sutradara yang benar benar memahami estetika sinema.
Cerita Frankenstein yang Diperbarui Tanpa Kehilangan Esensinya
Salah satu sorotan terbesar dari film ini adalah bagaimana cerita klasik Mary Shelley diinterpretasikan ulang. Del Toro menghindari klise pertarungan manusia melawan monster. Sebaliknya, ia menyoroti hubungan kompleks antara pencipta dan ciptaan, serta pertanyaan filosofis mengenai kemanusiaan.
Film ini disebut lebih menyentuh daripada menakutkan. Penonton dibuat merenung tentang siapa yang sebenarnya monster dalam kisah ini. Pembaruan naratif ini menjadi alasan utama mengapa film tersebut dipuji habis habisan di Venice.
Respons Kritikus yang Hampir Seragam
Setelah pemutaran perdana, berbagai publikasi film besar memberikan ulasan awal yang sangat positif. Banyak yang menilai Frankenstein versi del Toro akan menjadi kandidat kuat di musim penghargaan mendatang.
Beberapa bahkan menyebut film ini sebagai salah satu adaptasi novel klasik terbaik abad ini. Keberanian del Toro dalam menggabungkan horor, drama psikologis, dan estetika elegan menjadi daya tarik tersendiri.
Oscar Isaac dan Jacob Elordi juga diprediksi masuk dalam pembicaraan nominasi aktor terbaik dan pendukung terbaik.
Penonton Umum Menantikan Rilis Global
Setelah buzz besar dari Venice, publik kini menantikan kapan film ini akan rilis di bioskop. Antusiasme bermunculan dari seluruh dunia, terutama dari penggemar del Toro dan kedua aktor utamanya.
Film ini dianggap berpotensi menjadi fenomena budaya pop baru, terutama karena kombinasi cast populer, gaya sinematik unik, dan reputasi festival yang telah dibangun lewat apresiasi 13 menit tersebut.
Publik berharap film ini tidak hanya menawarkan visual memukau, tetapi juga perjalanan emosional yang mendalam sebagaimana para penonton Venice rasakan.
“Kadang yang kita cari dari film adalah rasa tersentuh secara mendalam, dan sepertinya inilah yang disuguhkan del Toro kali ini.”
Ekspektasi Industri Terhadap Masa Depan Film
Kesuksesan awal Frankenstein versi del Toro bisa menjadi momentum untuk lebih banyak adaptasi novel klasik dalam gaya artistik. Studio akan memperhatikan bagaimana film ini memengaruhi tren sinema ke depan, terutama dalam genre horor gotik dan drama fantasi.
Dari sisi kreatif, film ini juga menjadi bukti bahwa eksplorasi ulang kisah klasik masih sangat relevan jika ditangani dengan visi kuat dan pemahaman mendalam terhadap tema kemanusiaan.
Bagi del Toro sendiri, film ini mungkin akan menjadi salah satu karya yang paling sering dibicarakan dalam kariernya.

Comment