Skandal Perselingkuhan CEO Properti yang menyeret nama seorang pimpinan perusahaan besar dengan salah satu karyawannya mengguncang internal kantor dan dunia bisnis. Kasus ini memunculkan banyak pertanyaan tentang batas profesionalisme di ruang kerja yang serba mewah dan tertutup. Di balik dinding kaca dan lobi berkelas, muncul cerita lain tentang relasi kuasa, tekanan karier, dan rahasia yang lama disembunyikan.
Kronologi Hubungan Terlarang di Lingkungan Kantor
Kronologi hubungan terlarang di perusahaan properti ini bermula dari interaksi profesional yang terlihat biasa. Sang CEO dikenal sering berinteraksi langsung dengan tim di berbagai divisi, terutama pemasaran dan pengembangan proyek. Dalam suasana kerja yang dinamis dan kompetitif, kedekatan personal mulai terbentuk tanpa banyak disadari rekan kerja lain.
Menurut sumber internal, kedekatan itu pertama kali terlihat dari intensitas pertemuan di luar jam kantor. Karyawan yang terlibat disebut kerap diajak mengikuti rapat kecil di luar jadwal resmi, dengan alasan koordinasi proyek strategis. Lama kelamaan, frekuensi pertemuan informal meningkat, termasuk makan malam dan perjalanan kerja singkat yang hanya diikuti beberapa orang tertentu.
Isu mulai beredar di kalangan staf ketika ada perubahan pola komunikasi di kantor. Rekan kerja memperhatikan adanya perlakuan berbeda terhadap karyawan tersebut, mulai dari penugasan yang lebih fleksibel hingga akses langsung ke ruangan CEO. Meski belum ada bukti kuat saat itu, bisik-bisik di koridor kantor mulai mengarah pada dugaan hubungan personal yang melampaui batas profesional.
Awal Isu Tersebar di Internal Perusahaan
Awal isu ini menyebar di internal perusahaan berawal dari ketidaksengajaan. Beberapa karyawan mengaku melihat CEO dan karyawan tersebut keluar dari hotel yang sama usai sebuah acara perusahaan di luar kota. Mereka tidak datang dan pulang bersama, namun keberadaan di lokasi yang sama dengan jeda waktu berdekatan memunculkan tanya. Cerita itu kemudian menyebar pelan di antara lingkaran kecil staf.
Selain itu, jejak digital juga ikut memanaskan suasana. Beberapa staf yang mengelola jadwal perjalanan dinas menemukan pola pemesanan tiket dan hotel yang dianggap janggal. Nama CEO dan karyawan yang sama tercatat berangkat di hari yang sama, meski alasan perjalanan disebut berbeda. Data ini tidak langsung diungkapkan, namun menjadi bahan obrolan di belakang layar yang menambah kuat spekulasi.
Suasana kantor perlahan berubah menjadi penuh kecurigaan. Karyawan lain mulai membandingkan perlakuan yang mereka terima dengan apa yang didapatkan karyawan yang diduga terlibat hubungan khusus dengan pimpinan. Ketika promosi dan penugasan proyek besar jatuh ke orang yang sama, rasa tidak nyaman semakin menguat dan isu pun sulit dibendung.
Profil Singkat CEO dan Perusahaan Properti
Perusahaan properti yang terseret dalam kasus ini bukan pemain kecil. Perusahaan ini dikenal agresif mengembangkan kawasan hunian dan komersial di berbagai kota besar. Dengan nilai proyek triliunan rupiah, perusahaan tersebut kerap menjadi sorotan pelaku pasar dan media ekonomi. Sang CEO sendiri selama ini dipandang sebagai figur sukses yang mampu mengubah citra perusahaan menjadi lebih modern dan ekspansif.
CEO yang kini menjadi sorotan publik dikenal sebagai sosok karismatik dan dekat dengan media. Ia sering tampil dalam wawancara televisi, forum bisnis, dan seminar investasi. Di mata publik, ia adalah contoh pemimpin muda yang berhasil membawa perusahaan keluarga ke level korporasi modern. Reputasi inilah yang membuat skandal di ranah pribadi terasa kontras dengan citra profesional yang selama ini dibangun.
Secara internal, CEO ini juga dikenal tegas dan sangat terlibat dalam pengambilan keputusan strategis. Banyak karyawan mengakui bahwa gaya kepemimpinannya mendorong perusahaan tumbuh cepat, meski di sisi lain menimbulkan tekanan kerja yang tinggi. Dalam suasana seperti ini, jarak antara atasan dan bawahan sering kali menjadi tipis, terutama bagi mereka yang terlibat langsung dalam proyek prioritas.
Reputasi Bisnis yang Tercoreng Isu Pribadi
Reputasi bisnis yang selama ini dibangun dengan pencapaian finansial kuat kini harus berhadapan dengan isu pribadi. Investor dan mitra bisnis mulai mempertanyakan stabilitas manajemen ketika nama CEO lebih sering muncul di pemberitaan terkait skandal, bukan lagi soal ekspansi proyek. Walau pengembangan properti tetap berjalan, sorotan publik beralih pada integritas pemimpinnya.
Di era informasi yang serba cepat, isu kehidupan pribadi petinggi perusahaan mudah meluas ke ranah profesional. Keterkaitan antara perilaku pribadi dan kepercayaan publik menjadi semakin erat. Bagi perusahaan yang mengandalkan kepercayaan konsumen untuk menjual properti bernilai tinggi, kabar miring seperti ini berpotensi mengganggu citra merek di mata calon pembeli.
Beberapa pengamat menilai bahwa kasus ini menunjukkan rapuhnya batas antara ranah pribadi dan profesional bagi tokoh publik di sektor bisnis. Selama ini, banyak pelaku pasar melihat performa perusahaan hanya dari angka penjualan dan laporan keuangan. Namun ketika skandal muncul, faktor etika dan budaya perusahaan ikut menjadi bahan penilaian baru bagi investor maupun masyarakat.
Dinamika Relasi Atasan dan Bawahan
Dinamika relasi atasan dan bawahan di perusahaan besar selalu menjadi area sensitif. Dalam kasus ini, posisi CEO sebagai pimpinan tertinggi dan karyawan sebagai bawahan langsung atau tidak langsung menimbulkan pertanyaan soal kesetaraan. Walau hubungan tersebut mungkin disebut suka sama suka, perbedaan posisi membuat banyak pihak menilai ada unsur relasi kuasa yang tidak seimbang.
Dalam struktur korporasi, atasan memiliki kendali atas banyak aspek kehidupan kerja bawahan. Mulai dari penilaian kinerja, penugasan proyek, hingga peluang promosi, semua dapat dipengaruhi oleh preferensi pribadi. Ketika atasan dan bawahan menjalin hubungan personal, sulit bagi lingkungan sekitar untuk percaya bahwa semua keputusan tetap objektif. Kesan pilih kasih mudah muncul dan menurunkan kepercayaan rekan kerja lain.
Karyawan yang terlibat dalam hubungan seperti ini juga berada dalam posisi rentan. Di satu sisi, ia mungkin merasakan keuntungan jangka pendek berupa akses, kepercayaan, dan peluang karier. Namun di sisi lain, ia bisa menjadi pihak yang paling terdampak ketika hubungan berakhir buruk atau terungkap ke publik. Stigma dan penilaian negatif dari lingkungan kerja kerap menempel pada pihak yang posisinya lebih lemah.
Batas Profesional yang Kabur di Kantor Mewah
Batas profesional di kantor dengan fasilitas mewah sering kali tampak lebih longgar. Ruang kerja yang dirancang modern, lengkap dengan lounge, ruang santai, dan area informal, bisa mendorong interaksi yang lebih personal. Di satu sisi, ini dianggap mendukung kreativitas dan kolaborasi. Namun di sisi lain, suasana yang terlalu cair dapat membuka peluang kedekatan yang melampaui ranah kerja.
Dalam kasus yang mencuat ini, kantor pusat perusahaan properti digambarkan sebagai ruang kerja dengan desain premium. Ada ruang rapat tertutup yang kedap suara, area kerja eksekutif yang terpisah, dan fasilitas eksklusif bagi jajaran manajemen. Ruang seperti ini memudahkan pertemuan tertutup yang sulit dipantau karyawan lain. Di sinilah banyak spekulasi tentang bagaimana hubungan terlarang itu bisa bertumbuh tanpa cepat terdeteksi.
Ketiadaan kebijakan internal yang jelas tentang hubungan personal di tempat kerja memperburuk situasi. Jika perusahaan tidak memiliki pedoman yang tegas, karyawan akan kesulitan menilai mana batas yang boleh dan tidak boleh dilanggar. Dalam lingkungan kerja yang serba tertutup dan hierarkis, ketidakjelasan ini bisa dimanfaatkan oleh pihak yang memiliki kuasa lebih besar.
Suasana Kantor Setelah Isu Mencuat
Suasana kantor setelah isu hubungan terlarang mencuat berubah drastis. Beberapa karyawan menggambarkan atmosfer kerja menjadi kaku dan penuh bisik-bisik. Rapat yang biasanya berlangsung dinamis menjadi canggung, terutama ketika CEO atau karyawan yang terlibat hadir di ruangan. Banyak staf memilih menahan pendapat karena khawatir setiap komentar akan dikaitkan dengan isu yang sedang beredar.
Divisi sumber daya manusia dikabarkan menerima banyak keluhan informal. Keluhan itu bukan hanya soal dugaan hubungan pribadi, tetapi juga mengenai ketidakadilan dalam pembagian tugas dan kesempatan. Karyawan mulai berani membandingkan data, melihat siapa saja yang mendapat promosi, proyek prestisius, atau fasilitas tambahan. Dalam suasana seperti ini, kepercayaan terhadap manajemen menurun tajam.
Beberapa tim bahkan melaporkan menurunnya produktivitas. Fokus kerja terganggu oleh obrolan mengenai rumor yang beredar. Karyawan merasa sulit memisahkan urusan pribadi pimpinan dengan tanggung jawab profesional mereka. Ketika topik skandal menjadi bahan perbincangan utama di pantry dan grup percakapan internal, konsentrasi pada target bisnis ikut tergerus.
Reaksi Karyawan Senior dan Junior
Reaksi karyawan senior dan junior terhadap isu ini tidak selalu sama. Karyawan senior yang sudah lama bekerja di perusahaan cenderung lebih berhati-hati. Mereka memahami risiko berbicara terbuka tentang pimpinan puncak. Banyak dari mereka memilih mengamati situasi sambil menunggu sikap resmi perusahaan. Namun di balik layar, mereka juga mengakui adanya keresahan yang sulit diabaikan.
Karyawan junior, terutama generasi muda yang baru beberapa tahun bergabung, cenderung lebih vokal di ruang-ruang informal. Mereka mempertanyakan standar etika perusahaan dan rasa keadilan di tempat kerja. Bagi mereka, isu ini bukan sekadar gosip, tetapi menyentuh langsung rasa percaya terhadap sistem penilaian kinerja dan kesempatan karier. Ketika melihat ada yang dianggap mendapat keistimewaan, motivasi kerja bisa ikut menurun.
Perbedaan cara merespons ini menciptakan jarak baru di antara karyawan. Sebagian memilih diam demi keamanan posisi, sementara yang lain ingin perubahan dan kejelasan. Tanpa komunikasi terbuka dari manajemen, jarak ini berpotensi berkembang menjadi perpecahan halus di dalam organisasi. Kondisi ini membuat upaya pemulihan kepercayaan menjadi semakin rumit.
Sikap Resmi Manajemen dan Dewan Komisaris
Sikap resmi manajemen atas isu ini menjadi sorotan berikutnya. Pada tahap awal, perusahaan memilih tidak banyak berkomentar. Beberapa pernyataan singkat yang disampaikan juru bicara hanya menegaskan bahwa perusahaan fokus pada operasional dan kinerja bisnis. Tidak ada penjelasan langsung mengenai isu hubungan pribadi yang beredar di media sosial dan grup pesan internal.
Tekanan mulai meningkat ketika pemberitaan media mulai mengangkat kasus ini dengan lebih rinci. Nama perusahaan dan jabatan CEO disebut dalam berbagai laporan, meski tanpa menyebut identitas karyawan. Dalam situasi seperti ini, dewan komisaris tidak bisa sepenuhnya diam. Mereka dituntut pemegang saham untuk memastikan tata kelola perusahaan tetap berjalan baik, terlepas dari isu pribadi yang melibatkan pimpinan.
Dewan komisaris kemudian dikabarkan menggelar rapat khusus. Agenda rapat bukan hanya membahas performa bisnis, tetapi juga meminta klarifikasi langsung dari CEO terkait tuduhan yang beredar. Meski detail isi rapat tidak dipublikasikan, sumber internal menyebut adanya pembahasan serius mengenai kemungkinan konflik kepentingan dan pelanggaran etika di lingkungan kerja.
Pernyataan Publik dan Strategi Meredam Sorotan
Dalam menghadapi sorotan publik, perusahaan akhirnya mengeluarkan pernyataan resmi. Isi pernyataan menekankan bahwa perusahaan menghormati ranah pribadi setiap individu, namun juga berkomitmen menjaga profesionalisme dan keadilan di tempat kerja. Perusahaan menyatakan sedang meninjau ulang kebijakan internal dan akan mengambil langkah bila ditemukan pelanggaran terhadap aturan kerja.
Pernyataan ini disusun dengan bahasa yang hati-hati. Tidak ada pengakuan atau penolakan langsung terkait hubungan pribadi yang dituduhkan. Fokus disandarkan pada komitmen perusahaan terhadap tata kelola dan perlindungan karyawan. Strategi ini tampak dirancang untuk meredam spekulasi tanpa menambah bahan baru bagi pemberitaan media.
Selain pernyataan tertulis, manajemen juga melakukan pendekatan internal. Beberapa kepala divisi diminta menenangkan tim masing-masing dan memastikan pekerjaan tetap berjalan normal. Namun, tanpa penjelasan lebih terbuka, langkah ini belum sepenuhnya menghapus rasa curiga. Bagi sebagian karyawan, ketidakjelasan justru menambah ruang bagi rumor terus berkembang.
Posisi Karyawan yang Terlibat dalam Pusaran Isu
Posisi karyawan yang disebut terlibat dalam hubungan ini menjadi sorotan tersendiri. Di satu sisi, ia disebut menerima berbagai fasilitas dan kesempatan yang tidak dinikmati rekan kerja selevel. Di sisi lain, ia kini menghadapi tekanan psikologis dan sosial yang berat. Nama dan inisialnya beredar di lingkaran internal, meski perusahaan tidak pernah menyebut secara resmi.
Dalam situasi seperti ini, karyawan tersebut berada di persimpangan sulit. Melanjutkan bekerja seperti biasa tidak mudah karena setiap gerak-geriknya diawasi. Setiap keberhasilan kerja akan mudah dicurigai sebagai hasil kedekatan dengan pimpinan, bukan murni prestasi. Namun jika ia memilih mundur, itu bisa dianggap sebagai pengakuan tidak langsung atas rumor yang beredar.
Secara hukum, posisinya juga rumit. Jika hubungan tersebut memang terjadi dan ia merasa berada dalam tekanan relasi kuasa, ada ruang untuk mengajukan keberatan secara formal. Namun langkah seperti itu berisiko membuka lebih banyak detail ke publik dan memperpanjang sorotan media. Di sisi lain, jika ia merasa hubungan itu terjadi secara sukarela, ia tetap harus berhadapan dengan penilaian moral dari lingkungan kerja.
Tekanan Sosial dan Stigma di Lingkungan Kerja
Tekanan sosial di lingkungan kerja kerap menjadi beban terberat dalam kasus seperti ini. Karyawan yang diduga terlibat sering kali menjadi objek bisik-bisik dan pandangan sinis. Setiap kehadirannya di rapat atau proyek penting menimbulkan reaksi diam namun terasa. Rekan kerja mungkin tetap bersikap profesional di permukaan, tetapi sikap pribadi bisa berubah drastis.
Stigma yang menempel tidak mudah dihapus, bahkan jika nanti perusahaan menyatakan tidak ada pelanggaran aturan kerja. Dalam banyak kasus, persepsi karyawan lain sudah terlanjur terbentuk. Mereka melihat adanya ketimpangan kesempatan yang sulit dijelaskan secara objektif. Di titik ini, pemulihan nama baik menjadi tantangan besar, terutama jika perusahaan tidak menyediakan mekanisme dukungan psikologis.
Di luar kantor, tekanan juga bisa datang dari keluarga dan lingkungan sosial. Identitas karyawan mungkin tidak dipublikasikan media, tetapi di lingkaran tertentu informasi sering menyebar cepat. Kombinasi tekanan internal dan eksternal berpotensi memengaruhi kesehatan mental. Tanpa dukungan yang memadai, kasus seperti ini bisa meninggalkan luka panjang bagi individu yang terlibat.
Dampak Terhadap Proyek dan Mitra Bisnis Properti
Dampak skandal ini tidak hanya dirasakan di dalam kantor, tetapi juga pada hubungan dengan mitra bisnis. Perusahaan properti bergantung pada kepercayaan banyak pihak, mulai dari kontraktor, lembaga pembiayaan, hingga agen pemasaran. Ketika nama perusahaan terseret isu negatif, sebagian mitra memilih bersikap lebih berhati-hati. Mereka menunggu kepastian bahwa manajemen tetap solid dan komitmen kerja sama tidak terganggu.
Beberapa proyek besar yang sedang berjalan dilaporkan mengalami penundaan pengambilan keputusan. Investor menunggu kejelasan struktur kepemimpinan sebelum menyetujui langkah baru. Meski aktivitas konstruksi di lapangan tetap berjalan, proses administrasi dan persetujuan di tingkat manajemen menjadi lebih lambat. Hal ini berpotensi memengaruhi jadwal serah terima unit kepada konsumen.
Di pasar, persepsi konsumen juga ikut bergerak. Sebagian calon pembeli mungkin tidak terlalu memperhatikan isu internal perusahaan. Namun bagi segmen tertentu yang mengikuti berita bisnis, skandal di pucuk pimpinan bisa menimbulkan keraguan. Mereka mempertanyakan bagaimana perusahaan mengelola risiko dan menjaga integritas dalam jangka panjang. Keraguan ini bisa berujung pada keputusan menunda pembelian.
Respons Investor dan Pengamat Pasar
Respons investor terhadap kasus ini cukup bervariasi. Investor institusi yang memegang saham perusahaan biasanya melihat dua sisi. Di satu sisi, mereka menilai kinerja keuangan dan portofolio proyek masih menjadi faktor utama. Di sisi lain, mereka khawatir isu etika di level pimpinan dapat berujung pada masalah tata kelola yang lebih besar di kemudian hari. Sebagian mulai menanyakan rencana suksesi dan mekanisme pengawasan internal.
Pengamat pasar menyoroti bahwa kasus ini menambah daftar panjang skandal di kalangan eksekutif perusahaan besar. Mereka mengingatkan bahwa tata kelola modern tidak hanya bicara soal transparansi laporan keuangan, tetapi juga perilaku pribadi yang berdampak pada organisasi. Bagi mereka, perusahaan perlu memiliki aturan jelas soal hubungan personal di tempat kerja, terutama yang melibatkan perbedaan posisi signifikan.
Beberapa analis juga memperhatikan pergerakan harga saham perusahaan setelah isu ini mencuat. Fluktuasi mungkin tidak selalu ekstrem, namun sentimen negatif dapat muncul dalam jangka pendek. Jika perusahaan gagal memberikan penjelasan memadai, sentimen itu bisa bertahan lebih lama dan memengaruhi minat investor baru. Dalam dunia pasar modal, persepsi sering kali bergerak lebih cepat daripada fakta yang terverifikasi.
Kebijakan Internal dan Kelemahan Pengawasan Etika
Kasus ini menyingkap kelemahan kebijakan internal di banyak perusahaan besar. Banyak korporasi memiliki kode etik tertulis, namun implementasinya sering tidak jelas. Aturan tentang hubungan personal di tempat kerja, terutama antara atasan dan bawahan, kadang hanya disebut sekilas tanpa mekanisme penanganan yang konkret. Akibatnya, pelanggaran baru disadari ketika sudah berkembang menjadi skandal.
Di perusahaan properti yang kini disorot, beberapa karyawan menyebut belum pernah menerima sosialisasi khusus tentang batasan hubungan personal di lingkungan kerja. Orientasi karyawan baru lebih banyak membahas target penjualan, prosedur operasional, dan standar layanan. Topik etika relasi di kantor tidak mendapat porsi besar, seolah tidak dianggap sebagai sumber risiko serius bagi bisnis.
Kelemahan pengawasan juga tampak dari cara perusahaan merespons rumor awal. Ketika bisik-bisik mulai terdengar, tidak ada langkah proaktif untuk memeriksa kebenaran atau menenangkan karyawan. Situasi dibiarkan berkembang hingga akhirnya meledak menjadi isu besar. Dalam konteks ini, tanggung jawab bukan hanya pada individu yang terlibat, tetapi juga pada sistem pengawasan yang tidak sigap.
Peran Divisi SDM dan Kebutuhan Mekanisme Laporan
Divisi sumber daya manusia memegang peran penting dalam mencegah dan menangani kasus seperti ini. Namun dalam praktiknya, posisi SDM sering kali terjepit. Di satu sisi, mereka bertugas melindungi kepentingan karyawan. Di sisi lain, mereka berada di bawah struktur yang sama dengan pimpinan yang mungkin terlibat dalam pelanggaran. Tanpa independensi yang cukup, divisi ini sulit bertindak objektif.
Mekanisme laporan internal seharusnya menjadi pintu bagi karyawan untuk menyampaikan kekhawatiran. Namun jika saluran itu tidak dirancang aman dan rahasia, karyawan enggan menggunakannya. Mereka khawatir laporan akan berbalik menjadi ancaman bagi posisi mereka. Dalam kasus yang menyeret pimpinan puncak, kekhawatiran ini menjadi semakin besar dan membuat banyak orang memilih diam.
Kebutuhan akan sistem pelaporan yang terpercaya kini menjadi sorotan. Beberapa pihak menilai perusahaan besar seharusnya menyediakan kanal independen, misalnya melalui pihak ketiga atau komite etik yang terpisah dari struktur operasional harian. Tanpa mekanisme seperti ini, kasus serupa berpotensi terulang, dan perusahaan akan terus berkutat dengan masalah yang sama di masa mendatang.
Sorotan Publik dan Media terhadap Skandal Korporasi
Sorotan publik dan media terhadap skandal di kalangan eksekutif perusahaan selalu tinggi. Kasus yang mencampur unsur kekuasaan, kemewahan, dan hubungan pribadi memiliki daya tarik tersendiri. Pemberitaan tidak hanya fokus pada aspek bisnis, tetapi juga detail kehidupan pribadi yang memancing rasa ingin tahu pembaca. Di sinilah tantangan etika pemberitaan ikut muncul.
Media dituntut menyeimbangkan hak publik untuk tahu dengan hak individu atas privasi. Dalam kasus ini, nama perusahaan dan jabatan CEO diberitakan karena dianggap menyangkut kepentingan banyak pihak. Namun identitas karyawan yang berada di posisi lebih lemah umumnya disamarkan. Meski begitu, di lingkungan internal, identitas tersebut sering kali sudah menjadi rahasia umum.
Di era media sosial, batas antara informasi terverifikasi dan rumor menjadi semakin tipis. Potongan cerita, tangkapan layar percakapan, hingga foto yang belum jelas asal-usulnya mudah beredar. Publik sering kali sulit membedakan mana fakta dan mana spekulasi. Dalam situasi seperti ini, setiap langkah perusahaan dan individu yang terlibat akan terus dipantau dan dinilai.
Opini Warganet dan Tekanan di Ruang Digital
Opini warganet di ruang digital memberi tekanan tambahan bagi semua pihak yang terlibat. Tagar dan komentar yang beredar di berbagai platform mencerminkan beragam pandangan, mulai dari yang kritis hingga yang bernada menghakimi. Banyak komentar tidak lagi membahas aspek profesional, tetapi menyerang kehidupan pribadi dan moral individu yang disorot.
Tekanan di ruang digital ini bisa memengaruhi langkah perusahaan dalam merespons kasus. Manajemen tidak hanya mempertimbangkan dampak hukum dan bisnis, tetapi juga sentimen publik yang bergerak cepat. Keputusan yang diambil terkadang lebih dipengaruhi kebutuhan meredam kemarahan warganet daripada pertimbangan jangka panjang. Hal ini membuat proses penanganan kasus menjadi semakin kompleks.
Bagi individu yang menjadi pusat isu, arus komentar di media sosial dapat menjadi beban berat. Meski tidak semua informasi benar, persepsi publik sudah terlanjur terbentuk. Upaya klarifikasi sering kalah cepat dengan penyebaran rumor. Dalam konteks ini, reputasi digital menjadi sesuatu yang sulit dikendalikan, terutama ketika skandal menyentuh aspek sensitif seperti hubungan pribadi di tempat kerja.

Comment