Reiner Braun adalah salah satu karakter paling rumit dalam sejarah anime modern. Attack on Titan tidak hanya membangun cerita tentang perang dan monster, tetapi juga tentang manusia yang tergilas oleh sistem dan ideologi. Reiner menjadi simbol dari kehancuran moral itu. Ia adalah prajurit, korban, sekaligus penjahat dalam satu tubuh yang sama. Namun perdebatan panjang di antara penggemar sering bermuara pada satu pertanyaan penting. Apakah penderitaannya membuatnya pantas untuk dimaafkan.
Pertanyaan ini muncul karena Attack on Titan memberi layar yang sangat besar bagi perjalanan emosional Reiner. Trauma, rasa bersalah, dan kehancuran mental yang ia alami memang nyata. Namun di balik semua itu, aksinya tetap menyisakan luka yang sulit dihapus bagi banyak karakter lain.
“Saya selalu melihat Reiner sebagai kaca retak. Ia mungkin pernah utuh, tetapi serpihan tajamnya tetap melukai siapa saja di sekelilingnya.”
Reiner Braun Prajurit Marley yang Dibesarkan untuk Membenci
Untuk memahami kompleksitas Reiner, kita harus memulainya dari awal kehidupannya di Marley. Ia tumbuh sebagai salah satu dari kaum Eldian yang hidup di bawah diskriminasi. Marley memanfaatkan Eldian sebagai alat perang, mencuci otak mereka sejak kecil dengan ideologi bahwa menjadi Warrior adalah satu satunya cara untuk mendapatkan kehormatan.
Reiner adalah anak yang merindukan pengakuan. Ia tidak lahir dengan bakat terbaik, tetapi ia lahir dengan rasa lapar akan validasi. Sistem Marley melihat ini sebagai celah yang sempurna untuk manipulasi. Ia dilatih, dididik, dan diindoktrinasi agar percaya bahwa merusak dinding Paradis adalah tindakan heroik.
Bagian menyedihkan dari kisah Reiner adalah bahwa ia tidak pernah diberikan pilihan nyata. Hidupnya ditentukan oleh negara, oleh ketidakadilan, dan oleh mimpinya menjadi pahlawan palsu. Ia berjalan ke Paradis bukan sebagai monster, tetapi sebagai anak kecil yang ingin diterima oleh dunia.
Namun di sinilah paradoksnya dimulai.
“Kebaikan hati yang tidak pernah mendapatkan ruang untuk tumbuh dapat berubah menjadi kekejaman tanpa disadari.”
Tindakan Reiner yang Mengubah Dunia Paradis
Begitu misi Marley dimulai, menunjukkan keteguhan yang membuatnya menjadi ancaman terbesar bagi umat manusia di dalam dinding. Dalam satu momen dramatis, ia menghancurkan gerbang Shiganshina sebagai Armored Titan dan membuka jalan bagi Titan untuk masuk dan menyerang penduduk sipil.
Serangan itu menyebabkan ribuan nyawa hilang. Kota hancur. Anak anak yatim. Keluarga pecah. Trauma kolektif tercipta. Dunia Paradis kehilangan fondasi kedamaian yang semu, dan semuanya bermula dari tindakan bersama Bertholdt.
Di titik ini, jelas bahwa bukan lagi sekadar korban sistem. Ia sudah menjadi pelaku kekerasan yang berdiri pada garis depan tragedi. Meski ia melakukannya dengan dalih tugas, hasilnya tetap merupakan kehancuran total bagi masyarakat Paradis.
Serangan ini kemudian menjadi titik awal seluruh konflik besar Attack on Titan. Tanpa aksi Reiner, Eren tidak akan menjadi monster seperti saat ini, dan dunia tidak akan tenggelam dalam perang total.
Inilah momen ketika tercatat sebagai salah satu penjahat terbesar dalam sejarah anime.
“Tidak peduli seberapa mulia niat yang ditanamkan padanya, kehancuran tetaplah kehancuran.”
Konflik Identitas Reiner yang Meledak di Dunia Paradis
Ketika berbaur dengan pasukan Cadet Corps, sesuatu yang tidak direncanakan terjadi. Ia menemukan teman. Ia menemukan keluarga. Dan ia menemukan kenyataan bahwa para penduduk dinding yang ia pikir sebagai iblis ternyata hanyalah manusia biasa. Reiner mulai membangun identitas kedua tanpa sadar.
Dualitas ini menghancurkan mentalnya sedikit demi sedikit. Ia mulai melihat dirinya sebagai warga Paradis sekaligus prajurit Marley. Ia ingin menjadi pahlawan bagi dua dunia yang secara ideologis saling membenci. Dua identitas ini saling bertabrakan di dalam kepalanya.
Inilah awal dari gangguan mental yang semakin lama semakin parah. Ia menciptakan mekanisme pertahanan berupa kepribadian ganda. Sebagian dirinya ingin menyelesaikan misi. Sebagian lagi ingin melindungi teman temannya seperti Eren, Armin, dan Jean.
Meskipun penderitaan psikologis ini membuatnya lebih manusiawi, itu tidak menghapus fakta bahwa terus memainkan peran sebagai infiltrator yang merencanakan kehancuran Paradis. Trauma bukan alasan yang cukup untuk membenarkan tindakan itu.
Ada satu hal yang sering kita lupakan.
“Seseorang bisa menjadi korban dan pelaku secara bersamaan. Reiner adalah bukti paling nyata.”
Hubungan Reiner dan Eren Musuh yang Melihat Cermin Satu Sama Lain
Reiner dan Eren adalah dua sisi dari koin yang sama. Keduanya dibesarkan dengan ideologi yang salah. Keduanya menjalani hidup yang dikendalikan oleh negara. Dan keduanya melakukan tindakan yang menghancurkan tanpa memikirkan konsekuensinya secara pribadi.
Ada momen emosional ketika Eren duduk bersama Reiner di kediaman keluarga Marley dan berkata bahwa mereka sama. Ucapan itu terasa seperti hukuman paling menyakitkan. Ia tidak pernah menganggap dirinya monster, tetapi Eren memaksanya melihat dirinya sendiri secara jujur.
Pada satu titik, Reiner bahkan memohon untuk mati. Ia merasa seluruh hidupnya adalah kesalahan. Ia merasa semua yang ia lakukan menghancurkan dunia tanpa ada hasil.
Namun penyesalan tidak menghapus fakta bahwa Reiner telah memulai rantai kehancuran panjang yang tidak dapat dibatalkan.
Reiner dan Eren mirip, tetapi bukan berarti keduanya tidak bertanggung jawab atas tindakan masing masing.
“Mirip bukan berarti sama. Dan sama bukan berarti pantas dimaafkan.”
Penyesalan Reiner yang Terlambat untuk Menghentikan Tragedi
Semakin dalam cerita berlanjut, semakin besar rasa bersalah. Ia ingin mati, tetapi dunia menuntutnya untuk tetap hidup dan terus bertarung. Ia ingin meminta maaf, tetapi ia tahu tidak ada kata kata yang bisa mengubah kenyataan yang ia ciptakan.
Penyesalannya adalah salah satu bagian paling menyayat hati dalam Attack on Titan, tetapi pada akhirnya itu hanyalah penyesalan. Tidak ada tindakan konkret yang ia lakukan untuk membalikkan keadaan. Ia tetap bertarung untuk Marley sampai akhirnya dunia runtuh dihadapan mereka semua.
Inilah alasan mengapa sebagian penggemar mengatakan bahwa penderitaan tidak bisa dijadikan alasan untuk membenarkan tindakannya. Ia mungkin manusia yang tersiksa, tetapi ia tetap pelaku dari salah satu pembantaian terbesar dalam cerita.
Penyesalan hanya terasa kuat bila ada upaya mengubah arah masa depan, tetapi Reiner selalu kembali pada perannya sebagai Warrior.
“Ada perbedaan besar antara menyesal dan bertanggung jawab.”
Mengapa Penderitaan Tidak Menghapus Status Penjahat Reiner
Dalam narasi Attack on Titan, tidak ada karakter yang sepenuhnya hitam atau putih. Bukan pengecualian. Ia adalah korban dari sistem dan juga pelaku kejahatan perang. Namun penderitaan tidak secara otomatis mencabut statusnya sebagai penjahat karena beberapa alasan penting.
Pertama, tindakannya menghancurkan hidup ribuan orang. Kedua, ia melanjutkan misi meskipun ia tahu dampaknya mengerikan. Ketiga, ia tidak pernah sepenuhnya melawan ideologi yang menghancurkannya. Ia tetap menjadi alat Marley hingga akhir.
Penderitaan mental yang ia alami menggugah simpati, tetapi empati tidak sama dengan pembenaran. Banyak karakter lain juga menderita tanpa melakukan kehancuran sebesar yang dilakukan Reiner.
Inilah kompleksitas cerita Attack on Titan. Semua orang terluka, tetapi tidak semua orang melukai orang lain. Reiner adalah seseorang yang terluka, namun juga melukai banyak pihak.
“Simpati tidak pernah menghapus dosa. Ia hanya membuat kita melihat dosa itu dengan perspektif yang lebih manusiawi.”
Sebagai Simbol dari Tragedi Sistemik Attack on Titan
Bukan sekadar karakter. Ia adalah simbol dari generasi muda yang dimusnahkan oleh sistem politik dan militer. Ia menunjukkan bahwa perang mencuri masa depan orang yang tidak pernah meminta untuk bertarung.
Namun simbolis bukan berarti bebas dari tanggung jawab. Menunjukkan bahwa seseorang yang dijebak oleh sistem tetap bisa menjadi pelaku kehancuran yang nyata.
Di sinilah letak kekuatan storytelling Attack on Titan. Pembaca dipaksa untuk memahami monster dari dua sisi. Bukan untuk membenarkan tindakan mereka, tetapi untuk memahami bagaimana monster itu terbentuk.
Dan dari sudut pandang itu, Reiner adalah tokoh tragis sekaligus antagonis besar dalam cerita.
Pada akhirnya, Reiner berdiri sebagai bukti bahwa manusia bisa tersesat sepenuhnya dalam jalan yang salah meskipun mereka tidak pernah berniat menjadi jahat.
“Bagi saya, Reiner bukan hanya karakter abu abu. Ia adalah warna gelap yang terbentuk dari campuran cahaya dan kegelapan.”
Mengapa Kisah Reiner Tetap Relevan bagi Penggemar
Kisah Reiner tetap menjadi favorit diskusi karena menggambarkan konflik manusia secara brutal dan jujur. Ia bukan penjahat tanpa alasan, tetapi ia juga bukan korban tanpa kesalahan. Inilah yang membuat banyak orang merasa koneksi emosional yang kuat.
Reiner adalah representasi dari seseorang yang dihancurkan oleh dunia sebelum ia memiliki kesempatan untuk menentukan siapa dirinya. Namun dunia tidak peduli pada kisah seseorang ketika konsekuensi dari tindakannya telah merenggut nyawa banyak orang.
Penggemar Attack on Titan tidak pernah sepakat mengenai status moral Reiner. Sebagian memaafkannya. Sebagian membencinya. Sebagian melihatnya sebagai bukti bahwa kebaikan bisa terdistorsi oleh propaganda.
Namun satu hal yang pasti. Reiner adalah karakter yang meninggalkan jejak kuat tidak peduli apakah ia dianggap korban atau penjahat.
Dalam dunia Attack on Titan, semua orang tersesat. Tetapi tidak semua orang membawa kehancuran sebesar Reiner Braun.

Comment