Es Gabus Mirip Spons belakangan ramai dibicarakan setelah sejumlah video viral di media sosial memperlihatkan es batu yang tampak kenyal dan tidak mudah hancur saat ditekan. Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran publik karena dianggap tidak wajar dan diduga mengandung bahan kimia berbahaya. Di tengah keresahan itu, Badan Pengawas Obat dan Makanan atau BPOM akhirnya memberikan penjelasan ilmiah untuk meluruskan informasi yang beredar di masyarakat.
Kronologi Viral Es Batu yang Tampak Seperti Busa
Perbincangan soal es batu yang teksturnya menyerupai spons mulai mencuat setelah beberapa unggahan warganet menunjukkan potongan es yang tidak langsung pecah saat dipatahkan. Dalam rekaman yang beredar, es tersebut tampak bisa ditekan dan kembali ke bentuk semula sehingga memicu dugaan adanya campuran zat asing. Publik kemudian mengaitkannya dengan isu pemakaian bahan kimia non pangan yang sengaja ditambahkan demi menekan biaya produksi.
Kekhawatiran bertambah karena es batu adalah bahan yang sangat sering dikonsumsi, baik di minuman kemasan, minuman kaki lima, maupun di rumah makan. Banyak orang mulai mempertanyakan keamanan es yang mereka beli, terutama dari pedagang kecil yang tidak memiliki label resmi. Situasi ini mendorong BPOM dan sejumlah dinas kesehatan daerah untuk melakukan penelusuran langsung ke lapangan.
Respons Cepat BPOM terhadap Keresahan Publik
BPOM menegaskan bahwa isu soal es batu menyerupai busa tidak bisa hanya disimpulkan dari tampilan visual di video. Lembaga ini menyatakan perlu ada pengujian laboratorium yang terukur untuk memastikan apakah benar ada bahan kimia tambahan yang tidak semestinya. Tim pengawas pangan kemudian mengambil sampel es dari beberapa lokasi yang diduga terkait dengan fenomena tersebut.
Dalam sejumlah pernyataan resmi, BPOM menjelaskan pihaknya mengedepankan pendekatan ilmiah sebelum mengeluarkan kesimpulan. Pengujian dilakukan terhadap parameter dasar seperti komposisi, kejernihan, kandungan mineral, hingga kemungkinan adanya cemaran kimia tertentu. Hasil awal menunjukkan bahwa karakter es yang tampak kenyal belum tentu menandakan adanya bahan berbahaya.
Penjelasan Ilmiah di Balik Tekstur Es yang Tidak Biasa
Secara ilmiah, bentuk dan tekstur es sangat dipengaruhi oleh cara pembekuan, suhu, serta kandungan zat terlarut di dalam air. Air yang dibekukan perlahan dalam wadah tertentu bisa menghasilkan es yang lebih padat di bagian luar dan sedikit berongga di bagian dalam. Kondisi ini membuat es tampak seperti memiliki struktur berlapis yang saat ditekan tidak langsung remuk seperti es batu biasa.
Selain itu, jika air mengandung mineral terlarut dengan kadar tertentu, struktur kristal es yang terbentuk bisa tampak lebih keruh dan tidak seragam. Kristal yang tidak homogen tersebut kadang terlihat seperti pori halus sehingga sekilas menyerupai spons. Namun fenomena ini tidak otomatis berarti ada zat tambahan berbahaya, melainkan bisa saja hanya efek dari kualitas air baku dan teknik pembekuan.
Peran Kristal Es dan Rongga Udara
Saat air membeku, molekul akan tersusun membentuk kristal yang teratur. Jika proses pembekuan berlangsung cepat di bagian permukaan dan lebih lambat di bagian tengah, sebagian udara dan zat terlarut bisa terjebak di dalam. Udara yang terperangkap akan membentuk rongga kecil yang membuat es tampak berpori ketika dipotong atau dipatahkan.
Rongga udara ini dapat memberi kesan seolah es lebih ringan dan agak lentur ketika ditekan. Padahal yang terjadi adalah tekanan itu menyebar melalui jaringan kristal dan ruang kosong di antara kristal. Kondisi tersebut dapat menimbulkan ilusi optik dan sensasi sentuhan yang membuat orang menganggap es itu menyerupai bahan spons.
Pengaruh Kualitas Air dan Suhu Pembekuan
Air yang digunakan untuk membuat es di banyak tempat bukan air murni tanpa mineral, melainkan air sumur, air ledeng, atau air yang hanya disaring sederhana. Setiap sumber air memiliki komposisi mineral berbeda sehingga membentuk pola kristal yang juga berbeda saat dibekukan. Mineral seperti kalsium dan magnesium dapat memengaruhi kejernihan dan kepadatan es yang dihasilkan.
Suhu pembekuan yang tidak stabil juga berperan besar. Di fasilitas produksi kecil, freezer atau mesin pembeku sering mengalami fluktuasi suhu karena sering dibuka tutup atau daya listrik yang tidak konstan. Perubahan ini membuat proses pembekuan tidak merata, sehingga bagian tertentu dari es menjadi lebih padat sementara bagian lain lebih rapuh dan berongga. Kombinasi faktor ini memunculkan tekstur yang bagi orang awam terlihat mencurigakan.
Klarifikasi BPOM Soal Dugaan Bahan Kimia Tambahan
Menjawab kekhawatiran publik, BPOM menekankan bahwa sampai saat ini belum ada bukti kuat secara laboratorium yang menunjukkan penggunaan bahan kimia non pangan untuk membuat es tampak seperti spons. Lembaga ini mengingatkan masyarakat agar tidak langsung mempercayai klaim yang beredar hanya berdasarkan video singkat tanpa data pendukung. Menurut BPOM, proses investigasi terhadap produk pangan selalu mengacu pada standar pengujian yang ketat.
BPOM juga menyampaikan bahwa jika ditemukan adanya penggunaan bahan kimia berbahaya, lembaga ini memiliki kewenangan untuk menarik produk dari peredaran dan menindak pelaku sesuai aturan. Namun untuk kasus es dengan tekstur tidak biasa, banyak sampel yang diperiksa justru menunjukkan tidak ada penambahan zat yang dilarang. Kondisi ini memperkuat penjelasan bahwa fenomena tersebut lebih berkaitan dengan faktor fisik dan kualitas air.
Batasan Penggunaan Bahan Tambahan Pangan
Dalam regulasi nasional, bahan tambahan pangan diatur secara rinci termasuk jenis, batas maksimum, dan tujuan penggunaannya. Bahan tambahan hanya boleh dipakai jika memiliki fungsi jelas seperti pemanis, pengawet, pewarna, atau penstabil, dan harus tercantum pada label. Untuk produk es batu curah yang dijual tanpa kemasan, penggunaan bahan tambahan berisiko lebih besar karena tidak ada keterangan tertulis bagi konsumen.
Namun demikian, menambahkan bahan kimia industri ke dalam air untuk membuat es bukan hanya melanggar aturan, tetapi juga tidak memberikan keuntungan signifikan bagi produsen kecil. Biaya bahan kimia tertentu justru bisa lebih tinggi daripada sekadar menggunakan air baku dan listrik. Faktor inilah yang membuat dugaan bahwa produsen sengaja menambahkan zat aneh demi menciptakan es kenyal dinilai kurang rasional oleh sejumlah ahli.
Parameter Uji Laboratorium yang Diperiksa
Dalam pengujian yang dilakukan, laboratorium mengukur beberapa parameter penting seperti pH, konduktivitas, dan kandungan logam berat. Selain itu, diuji pula kemungkinan adanya senyawa organik tertentu yang sering dikaitkan dengan bahan kimia industri. Hasil pemeriksaan menjadi dasar bagi BPOM untuk menyatakan apakah es tersebut aman dikonsumsi atau tidak.
Jika ditemukan zat yang tidak lazim, laboratorium akan melakukan uji lanjutan untuk mengidentifikasi jenis senyawa dan kemungkinan sumbernya. BPOM kemudian menelusuri jalur distribusi dan proses produksi di lapangan. Langkah ini memastikan bahwa keputusan yang diambil tidak hanya berdasarkan spekulasi, melainkan didukung bukti ilmiah dan rantai data yang jelas.
Perspektif Ahli Pangan dan Kimia Lingkungan
Sejumlah pakar dari bidang teknologi pangan dan kimia lingkungan ikut memberi pandangan terkait fenomena es yang tampak seperti busa. Mereka menjelaskan bahwa persepsi publik sering kali dipengaruhi oleh visual yang dramatis di media sosial. Padahal, dari sudut pandang ilmiah, banyak fenomena fisik yang dapat menjelaskan tekstur es tanpa harus melibatkan bahan kimia berbahaya.
Ahli pangan menekankan bahwa es batu yang tampak tidak wajar perlu dianalisis dengan pendekatan menyeluruh. Hal ini mencakup kualitas air baku, kebersihan peralatan, kebiasaan produsen, serta kondisi penyimpanan. Sementara itu, pakar kimia lingkungan mengingatkan bahwa cemaran kimia biasanya meninggalkan jejak yang dapat dideteksi melalui uji laboratorium, sehingga sulit disembunyikan jika memang digunakan secara sengaja.
Ilmu di Balik Struktur Padatan Beku
Dalam kajian fisika, air yang membeku dapat menghasilkan struktur yang sangat bervariasi. Pada suhu pembekuan tertentu, kristal dapat tumbuh memanjang dan membentuk pola seperti jarum atau serat halus. Pola ini jika dilihat sepintas dapat menyerupai jaringan tipis seperti busa. Saat disentuh, lapisan kristal yang saling bertaut memberi kesan elastis meski sebenarnya tetap rapuh.
Fenomena lain yang sering terjadi adalah rekristalisasi ketika es disimpan lama pada suhu yang naik turun. Kristal kecil bergabung menjadi kristal lebih besar dan meninggalkan ruang kosong di sekitarnya. Proses ini membuat tekstur es berubah tanpa adanya penambahan zat apa pun. Kondisi semacam ini umum dijumpai pada es yang disimpan di freezer rumah tangga maupun di tempat usaha kecil.
Faktor Psikologis dalam Menilai Keanehan Produk
Para ahli psikologi komunikasi menilai bahwa narasi yang mengaitkan es dengan bahan kimia berbahaya mudah menyebar karena memicu rasa takut. Ketika orang sudah memiliki prasangka bahwa suatu produk tidak aman, setiap keanehan kecil akan diperbesar dan dianggap bukti. Fenomena bias konfirmasi membuat publik cenderung hanya mencari informasi yang mendukung kekhawatirannya.
Video yang menampilkan es tampak kenyal sering kali tidak menunjukkan konteks lengkap seperti suhu sekitar, kondisi freezer, atau cara pembuatan. Tanpa penjelasan menyeluruh, penonton mengisi kekosongan informasi dengan asumsi pribadi. Inilah mengapa lembaga seperti BPOM berulang kali mengimbau agar masyarakat tidak terburu menyimpulkan sebelum ada data resmi.
Praktik Produksi Es Batu di Lapangan
Produksi es batu di Indonesia sangat beragam, mulai dari pabrik besar hingga usaha rumahan. Di tingkat industri, prosesnya umumnya mengikuti standar kebersihan dan keamanan yang ketat, termasuk penggunaan air yang sudah diolah dan pemantauan kualitas berkala. Es dari pabrik besar biasanya berbentuk balok besar atau tabung dengan lubang di tengah dan dipasok ke restoran, hotel, dan pedagang minuman.
Di sisi lain, banyak pedagang kecil yang membuat es sendiri menggunakan freezer rumahan atau mesin sederhana. Air yang dipakai sering berasal dari sumur atau air ledeng yang hanya disaring seadanya. Kondisi freezer yang penuh dan sering dibuka tutup membuat suhu tidak stabil, sehingga es yang dihasilkan memiliki bentuk dan tekstur yang tidak seragam. Di sinilah sering muncul es yang tampak aneh di mata konsumen.
Kebersihan Peralatan dan Risiko Kontaminasi
Walau isu yang mengemuka adalah soal tekstur mirip spons, aspek kebersihan sebenarnya jauh lebih penting untuk diperhatikan. Peralatan yang jarang dibersihkan dapat menjadi sumber bakteri dan jamur yang berbahaya bagi kesehatan. Wadah pembeku yang berkerak, air yang disimpan terbuka, serta lingkungan produksi yang lembap berkontribusi pada penurunan kualitas es.
BPOM dan dinas kesehatan daerah dalam berbagai kesempatan mengingatkan pelaku usaha kecil untuk menjaga sanitasi. Edukasi diberikan mengenai cara membersihkan freezer, mengganti air secara berkala, serta pentingnya menggunakan sumber air yang layak. Upaya ini diharapkan dapat mengurangi risiko penyakit yang ditularkan melalui makanan dan minuman, termasuk dari es batu.
Tantangan Pengawasan pada Usaha Skala Kecil
Pengawasan terhadap usaha kecil yang memproduksi es batu bukan perkara mudah. Banyak di antaranya beroperasi tanpa izin resmi dan tidak terdata secara administratif. Petugas harus melakukan penelusuran dari hilir, misalnya dengan memeriksa pedagang minuman, lalu mencari tahu pemasok es yang digunakan. Proses ini memakan waktu dan sumber daya.
Meski begitu, BPOM menegaskan bahwa pelaku usaha yang kedapatan memproduksi es dengan cara yang membahayakan kesehatan tetap dapat dikenai sanksi. Pendekatan yang ditempuh biasanya kombinasi antara penindakan dan pembinaan. Tujuannya bukan hanya menghentikan pelanggaran, tetapi juga mendorong pelaku usaha untuk beralih ke praktik yang lebih aman dan higienis.
Cara Sederhana Masyarakat Menilai Es yang Dikonsumsi
Di tengah perdebatan soal tekstur es, masyarakat sebenarnya bisa melakukan beberapa langkah sederhana untuk menilai kualitas es yang akan dikonsumsi. Salah satunya dengan memperhatikan kejernihan dan bau air setelah es mencair. Jika air hasil lelehan berbau tidak sedap atau keruh berlebihan, ada kemungkinan kualitas air bakunya kurang baik atau terjadi kontaminasi.
Selain itu, konsumen bisa memperhatikan lingkungan tempat es diproduksi atau dijual. Lokasi yang kotor, banyak serangga, dan peralatan yang tampak berkarat sebaiknya dihindari. Meski tekstur es mungkin tampak normal, risiko mikrobiologis tetap tinggi jika sanitasi buruk. Aspek kebersihan ini sering kali lebih relevan bagi kesehatan daripada sekadar tampilan es yang terlihat berbeda.
Uji Lelehan dan Sensasi di Mulut
Salah satu cara paling mudah mengecek es adalah dengan melihat bagaimana es tersebut mencair di suhu ruang. Es yang dibuat dari air biasa akan mencair perlahan dan meninggalkan air tanpa residu aneh. Jika setelah mencair muncul lapisan tipis yang terasa licin berlebihan atau meninggalkan serpihan yang tidak larut, konsumen patut waspada dan sebaiknya tidak mengonsumsinya.
Saat dikunyah, es yang aman umumnya akan mudah hancur dan tidak meninggalkan rasa asing selain rasa air. Jika ada sensasi lengket yang tidak biasa atau rasa kimia yang menyengat, sebaiknya segera dihentikan. Namun penilaian ini tetap perlu hati hati karena persepsi rasa bisa dipengaruhi oleh sugesti dan ekspektasi yang sudah terbentuk sebelumnya.
Memilih Sumber Es yang Lebih Terpercaya
Masyarakat disarankan untuk sebisa mungkin menggunakan es yang sumbernya jelas. Untuk kebutuhan rumah tangga, membuat es sendiri dari air yang sudah dimasak atau air galon bermerek dapat menjadi pilihan lebih aman. Sementara untuk konsumsi di luar rumah, memilih tempat makan atau minum yang terlihat menjaga kebersihan dan ramai pengunjung dapat mengurangi risiko.
Di beberapa kota, sudah banyak produsen es batu yang mencantumkan informasi sumber air dan izin usaha pada kemasan. Konsumen dapat memanfaatkan informasi ini untuk mengambil keputusan. Meski tidak menjamin seratus persen, transparansi semacam ini menunjukkan adanya upaya produsen untuk memenuhi standar keamanan pangan yang berlaku.
Peran Edukasi Publik dalam Meredam Kepanikan
Fenomena Es Gabus Mirip Spons menunjukkan betapa kuatnya pengaruh informasi visual di era digital. Tanpa edukasi yang memadai, masyarakat mudah terjebak dalam kepanikan dan saling menyebarkan kabar yang belum terverifikasi. Di sinilah peran lembaga resmi, media, dan kalangan akademisi menjadi penting untuk menjembatani penjelasan ilmiah dengan bahasa yang mudah dipahami.
BPOM bersama instansi terkait mulai aktif memanfaatkan kanal komunikasi resmi untuk menjawab isu isu yang berkembang. Penjelasan tidak hanya disampaikan melalui siaran pers, tetapi juga melalui media sosial dan kolaborasi dengan jurnalis. Tujuannya agar informasi yang sampai ke publik tidak terpotong potong dan tetap berpegang pada data yang dapat dipertanggungjawabkan.
Tanggung Jawab Media dan Kreator Konten
Media massa dan kreator konten memiliki peran besar dalam membentuk persepsi publik. Pemberitaan yang hanya menonjolkan sisi sensasional tanpa mengikutsertakan klarifikasi ilmiah dapat memperkeruh suasana. Di sisi lain, konten edukatif yang menjelaskan proses ilmiah di balik fenomena sehari hari dapat membantu masyarakat lebih kritis tanpa menjadi paranoid.
Kreator konten diharapkan melakukan verifikasi minimal sebelum mengunggah video atau narasi yang menyangkut keamanan pangan. Menghubungi narasumber kredibel, mengutip pernyataan resmi, dan memberi ruang bagi klarifikasi adalah langkah sederhana yang bisa dilakukan. Pendekatan ini tidak hanya menjaga kepercayaan penonton, tetapi juga berkontribusi pada ekosistem informasi yang lebih sehat.

Comment