Kader NU Blitar Raya hari ini berdiri di atas fondasi panjang perjuangan para kiai dan pejuang lokal yang mengabdikan hidupnya untuk agama, bangsa, dan masyarakat. Di antara nama yang paling kuat melekat dalam ingatan warga adalah KH Imam Suhrowardi, sosok ulama yang tidak hanya dikenal di lingkungan pesantren, tetapi juga di ruang sosial dan kebangsaan. Warisan perjuangannya tidak berhenti pada cerita masa lalu, melainkan terus hidup dalam gerak organisasi, kerja sosial, dan cara berpikir generasi muda di Blitar dan sekitarnya.
Jejak Historis NU di Blitar dan Lahirnya Tradisi Kader
Sejarah kehadiran Nahdlatul Ulama di Blitar tidak bisa dilepaskan dari dinamika pesantren dan tokoh agama yang mengakar di desa desa. Blitar sejak awal merupakan salah satu titik penting penyebaran Islam tradisional yang bercorak ahlussunnah wal jamaah. Di wilayah inilah jaringan kiai, santri, dan masyarakat membangun pola hubungan yang kuat, melahirkan kultur keagamaan yang khas dan tahan terhadap perubahan zaman.
Dalam konteks itu, NU hadir bukan sekadar organisasi keagamaan, tetapi juga ruang pengkaderan sosial dan kebangsaan. Para kiai memanfaatkan forum pengajian, madrasah diniyah, dan majelis taklim sebagai tempat pembentukan karakter. Dari situ lahir generasi yang tidak hanya cakap membaca kitab, tetapi juga peka terhadap problem masyarakat dan siap turun ke lapangan.
Latar Sosial Politik Blitar dan Pengaruhnya pada Gerakan Ulama
Blitar memiliki catatan panjang sebagai daerah yang aktif dalam pergerakan nasional dan dinamika sosial politik. Kedekatan Blitar dengan pusat kekuasaan di Jawa Timur, serta posisi geografis yang strategis, menjadikan wilayah ini sering menjadi arena pertemuan gagasan besar antara Islam, nasionalisme, dan gerakan rakyat. Di tengah arus itu, para ulama di Blitar dihadapkan pada pilihan untuk sekadar mengurus ritual atau terjun mengawal perubahan sosial.
Banyak kiai kemudian mengambil posisi sebagai penjaga nilai dan penopang moral masyarakat. Mereka tidak menutup diri dari isu isu kebangsaan, melainkan mengaitkannya dengan ajaran agama. Dari pola inilah lahir tipe ulama yang tidak kaku, yang mampu berdialog dengan berbagai kelompok, dan pada saat yang sama tetap teguh menjaga tradisi keilmuan pesantren.
Pesantren dan Majelis Sebagai Pusat Kaderisasi
Pesantren di Blitar berfungsi sebagai pusat pembentukan karakter dan gerakan. Di tempat ini, santri belajar disiplin, kebersamaan, dan tanggung jawab sosial. Mereka ditempa bukan hanya dengan kitab kuning, tetapi juga dengan praktik hidup sederhana dan dekat dengan masyarakat. Kiai memposisikan diri sebagai pengasuh yang membimbing, bukan sekadar pengajar di depan kelas.
Majelis taklim dan pengajian rutin di kampung kampung juga berperan besar. Warga yang hadir tidak hanya mendapat bekal ilmu agama, tetapi juga diajak memahami situasi sekitar, mulai dari persoalan ekonomi, pendidikan, hingga konflik sosial. Pola ini membuat NU di Blitar tumbuh sebagai kekuatan kultural yang dekat dengan warga, dan dari sinilah bibit kader yang militan dan realistis bermunculan.
Figur KH Imam Suhrowardi dalam Ingatan Publik
Nama KH Imam Suhrowardi menempati posisi istimewa dalam narasi keulamaan di Blitar Raya. Ia dikenal sebagai kiai yang tegas namun hangat, sederhana namun berwibawa, dan sangat terbuka terhadap dialog dengan berbagai kalangan. Sosoknya tidak hanya dikenang di lingkungan santri, tetapi juga oleh para aktivis, tokoh masyarakat, dan pejabat lokal yang pernah bersinggungan dengan gagasan dan sikapnya.
Warisan utamanya bukan hanya bangunan fisik atau lembaga yang ia dirikan, tetapi cara pandang dan sikap hidup yang ia tunjukkan sehari hari. Ia menjadikan agama sebagai sumber kekuatan untuk bergerak, bukan sebagai alasan untuk menjauh dari realitas sosial. Dari sini, banyak yang menganggap bahwa gaya kepemimpinan kiai ini menjadi salah satu rujukan bagi kader kader muda yang ingin berkiprah di NU dan ruang publik.
Latar Belakang Keluarga, Pendidikan, dan Lingkungan
KH Imam Suhrowardi lahir dan tumbuh dalam lingkungan yang kuat dengan tradisi pesantren dan aktivitas keagamaan. Sejak kecil ia sudah akrab dengan suasana pengajian dan majelis kiai. Lingkungan keluarga yang religius membentuk karakter dasar yang disiplin dan terbiasa dengan rutinitas ibadah, sekaligus menanamkan rasa tanggung jawab terhadap masyarakat sekitar.
Pendidikan formal dan nonformal yang ia tempuh memperluas cakrawala berpikirnya. Ia tidak hanya belajar di satu pesantren, tetapi menimba ilmu dari berbagai kiai yang memiliki spesialisasi berbeda. Dari satu tempat ke tempat lain, ia menyerap bukan hanya ilmu fikih atau tauhid, tetapi juga adab, strategi dakwah, dan cara memimpin. Kombinasi ini membuatnya matang secara keilmuan dan sosial ketika kembali ke daerah asal.
Karakter Kepemimpinan dan Gaya Komunikasi
Salah satu ciri kuat KH Imam Suhrowardi adalah kemampuannya menggabungkan ketegasan dan kelembutan dalam satu waktu. Ia bisa sangat tegas jika menyangkut prinsip ajaran agama dan kepentingan umat, namun tetap lembut dalam menyampaikan kritik. Cara bicaranya lugas, tidak berputar putar, tetapi selalu menyisakan ruang dialog bagi lawan bicara.
Dalam forum formal maupun pertemuan kecil, ia cenderung menghindari bahasa tinggi yang sulit dipahami. Ia memilih istilah yang dekat dengan keseharian warga, sehingga pesan yang disampaikan mudah dicerna. Gaya komunikasi seperti ini membuatnya dekat dengan berbagai lapisan, mulai dari petani, pedagang, perangkat desa, hingga pejabat daerah yang datang meminta pandangan.
Nilai Nilai Perjuangan yang Diwariskan
Warisan KH Imam Suhrowardi tidak bisa dilepaskan dari nilai nilai yang ia pegang teguh sepanjang hidupnya. Nilai itu tercermin dalam sikap, keputusan, dan cara ia merespons situasi yang berkembang di sekelilingnya. Bagi banyak orang, nilai ini menjadi rujukan moral ketika dihadapkan pada pilihan sulit di ruang sosial maupun organisasi.
Nilai tersebut tidak diajarkan melalui slogan, melainkan melalui teladan nyata. Santri dan warga melihat langsung bagaimana ia mengatur waktu, mengelola pesantren, menyikapi perbedaan pendapat, dan berhubungan dengan otoritas. Dari situ, nilai nilai itu perlahan menyatu dalam cara berpikir dan bertindak para pengikutnya.
Komitmen Kebangsaan dan Cinta Tanah Air
Bagi KH Imam Suhrowardi, mencintai tanah air adalah bagian dari pengamalan iman. Ia memandang negara sebagai rumah bersama yang harus dijaga, meskipun di dalamnya terdapat banyak kekurangan dan persoalan. Sikap ini membuatnya konsisten mendorong umat Islam untuk aktif berkontribusi, bukan sekadar berdiri di pinggir mengkritik tanpa solusi.
Dalam berbagai kesempatan, ia menekankan pentingnya menjaga persatuan dan menghindari konflik horizontal. Ia mengingatkan bahwa perpecahan hanya akan melemahkan umat dan membuka peluang bagi pihak yang tidak bertanggung jawab. Pesan itu terus diulang dalam pengajian, pertemuan organisasi, hingga pembicaraan pribadi dengan kader yang sedang menghadapi dilema politik.
Moderasi Beragama dan Sikap Terbuka
Salah satu ciri kuat yang melekat pada sosoknya adalah sikap moderat dalam beragama. Ia menolak cara pandang yang mudah mengkafirkan atau menyesatkan kelompok lain hanya karena perbedaan pandangan. Bagi dirinya, perbedaan adalah keniscayaan yang harus dikelola dengan ilmu dan kesabaran, bukan dengan amarah dan kebencian.
Ia juga terbiasa berdialog dengan kelompok di luar NU dan pesantren. Ia tidak merasa identitas keagamaannya terancam hanya karena duduk bersama pihak lain. Sebaliknya, ia memandang dialog sebagai kesempatan untuk menjelaskan ajaran dengan cara yang lebih bijak. Sikap terbuka ini kemudian menjadi salah satu ciri khas yang diadopsi banyak kader di Blitar.
Keteguhan Moral dan Integritas Pribadi
Integritas pribadi menjadi salah satu hal yang paling sering disebut ketika orang mengenang KH Imam Suhrowardi. Ia dikenal sangat hati hati dalam hal keuangan dan bantuan yang masuk ke pesantren atau kegiatan sosial. Ia berusaha memastikan bahwa setiap bantuan disalurkan sesuai niat pemberi dan kebutuhan masyarakat, bukan untuk kepentingan pribadi.
Dalam urusan jabatan dan kekuasaan, ia mengambil posisi yang jelas. Ia tidak menutup mata terhadap dunia politik, tetapi menolak jika diminta memanfaatkan pengaruh keulamaannya untuk kepentingan sempit. Sikap ini menjadi pelajaran berharga bagi kader muda yang sering dihadapkan pada godaan posisi dan materi ketika mulai aktif di organisasi dan pemerintahan.
Regenerasi Aktivis dan Santri di Blitar Raya
Regenerasi menjadi salah satu titik tekan utama dalam perjalanan NU di Blitar. Tanpa regenerasi yang baik, warisan nilai dan perjuangan mudah terputus di tengah jalan. Di sinilah peran KH Imam Suhrowardi terasa kuat, karena ia sejak awal menyadari pentingnya menyiapkan generasi penerus yang siap memikul tugas lebih besar.
Ia tidak ingin gerakan berhenti pada dirinya, sehingga berbagai kanal pengkaderan dibuka selebar mungkin. Santri, pemuda, dan aktivis lokal diberi ruang untuk belajar, mencoba, dan bahkan melakukan kesalahan selama masih dalam koridor yang bisa diperbaiki. Pola ini menciptakan atmosfer yang mendorong keberanian sekaligus tanggung jawab.
Pola Pembinaan di Lingkungan Pesantren
Di lingkungan pesantren, pola pembinaan yang diterapkan tidak hanya fokus pada aspek kognitif. Santri dilatih untuk disiplin dalam ibadah, rapi dalam urusan administrasi, dan peduli terhadap kebersihan lingkungan. Mereka juga dilibatkan dalam berbagai kegiatan yang mengasah kepemimpinan, seperti mengelola organisasi santri dan mengatur jadwal kegiatan.
Pengasuh memberikan contoh langsung dalam hal ketepatan waktu, komitmen, dan kesederhanaan hidup. Santri melihat bagaimana kiai bangun lebih awal, menerima tamu tanpa pilih kasih, dan tetap meluangkan waktu mengajar meski jadwal padat. Dari situ, santri belajar bahwa menjadi pemimpin bukan soal posisi, tetapi soal kesiapan melayani dan menanggung beban.
Keterlibatan Pemuda dan Banom NU
Di luar pesantren, regenerasi juga dilakukan melalui badan otonom yang ada di NU. Ansor, IPNU, IPPNU, dan banom lain menjadi wadah bagi pemuda untuk mengasah diri. Mereka belajar mengelola kegiatan, menyusun program kerja, hingga bernegosiasi dengan berbagai pihak untuk menjalankan agenda organisasi. Proses ini mengajarkan banyak hal yang tidak didapat di ruang kelas formal.
Pengaruh nilai KH Imam Suhrowardi tampak dalam cara banom bergerak. Mereka didorong untuk aktif, tetapi tetap menjaga adab dan etika. Kritik boleh disampaikan, namun dengan cara yang bermartabat. Perbedaan pendapat boleh terjadi, tetapi tidak boleh berujung pada permusuhan. Kerangka nilai ini yang membuat dinamika organisasi tetap hidup tanpa terjerumus dalam konflik berkepanjangan.
Peran Kader NU Blitar Raya di Ranah Sosial
Kehadiran kader NU Blitar Raya terlihat jelas di berbagai lini kehidupan sosial. Mereka tidak hanya aktif di masjid dan pesantren, tetapi juga di lembaga pendidikan, organisasi kemasyarakatan, dan komunitas warga. Peran ini sejalan dengan semangat KH Imam Suhrowardi yang mendorong umat untuk hadir di tengah problem nyata masyarakat.
Mereka terlibat dalam penguatan ekonomi warga, peningkatan kualitas pendidikan, hingga pendampingan hukum dan advokasi sosial. Di banyak desa, wajah gerakan sosial sering kali identik dengan aktivitas warga yang memiliki latar belakang NU. Hal ini menunjukkan bahwa kader tidak berhenti pada urusan internal organisasi, tetapi melangkah lebih jauh ke ruang pengabdian publik.
Pendidikan, Dakwah, dan Literasi Keagamaan
Bidang pendidikan menjadi salah satu fokus utama. Banyak kader yang mengajar di madrasah, sekolah, dan lembaga pendidikan nonformal. Mereka membawa nilai nilai yang diwariskan para kiai, termasuk semangat moderasi dan cinta tanah air. Di kelas, mereka tidak hanya mengajarkan materi, tetapi juga menanamkan karakter dan etika sosial.
Dalam dakwah, pendekatan yang dipakai cenderung sejuk dan menghindari provokasi. Pengajian di kampung kampung diisi dengan penjelasan agama yang membumi, dikaitkan dengan persoalan yang dihadapi warga sehari hari. Pendekatan ini membuat dakwah terasa relevan dan tidak menggurui. Warga merasa didampingi, bukan sekadar dinasihati dari jauh.
Keterlibatan di Kegiatan Sosial dan Kemanusiaan
Kader NU di Blitar juga aktif dalam kegiatan sosial kemanusiaan. Ketika terjadi bencana atau musibah, mereka bergerak cepat menggalang bantuan dan mendistribusikannya ke titik titik terdampak. Gerakan ini sering kali dilakukan secara spontan, berangkat dari jaringan pengurus ranting hingga cabang yang sudah terbentuk lama.
Selain itu, mereka juga terlibat dalam pendampingan warga miskin, lansia, dan kelompok rentan. Program santunan, layanan kesehatan gratis, hingga pendampingan hukum menjadi bagian dari aktivitas rutin. Semangat yang dibawa adalah melanjutkan tradisi kepedulian yang sejak lama dijalankan para kiai, termasuk teladan yang diberikan KH Imam Suhrowardi.
Kiprah di Bidang Politik dan Kebijakan Publik
Keterlibatan kader NU Blitar Raya di bidang politik merupakan konsekuensi logis dari semangat kebangsaan yang diajarkan para pendahulu. Politik dipandang sebagai salah satu instrumen untuk memperjuangkan kepentingan umat dan nilai nilai keadilan sosial. Namun, keterlibatan ini dijalankan dengan kehati hatian, agar tidak terjebak pada konflik kepentingan yang merusak marwah organisasi.
Banyak kader yang kemudian duduk di lembaga legislatif, eksekutif, maupun lembaga nonstruktural di tingkat daerah. Mereka membawa latar belakang ke-NU-an dan nilai pesantren ke ruang pengambilan keputusan. Di sinilah warisan pemikiran KH Imam Suhrowardi diuji, apakah benar benar menjadi pedoman atau sekadar menjadi label identitas.
Etika Politik dan Batasan yang Diajarkan Ulama
Dari berbagai cerita yang beredar di tengah warga, KH Imam Suhrowardi dikenal sangat menekankan etika dalam berpolitik. Ia tidak menutup mata terhadap pentingnya keterlibatan umat di ranah ini, tetapi memberi garis batas yang jelas. Politik harus dijalankan dengan kejujuran, amanah, dan tidak menghalalkan segala cara demi kemenangan.
Ia sering mengingatkan bahwa jabatan adalah amanah, bukan hadiah untuk dinikmati sendiri. Kader yang terjun ke politik diingatkan agar tidak melupakan akar sosialnya di tengah masyarakat. Mereka diminta tetap dekat dengan warga, tidak berubah sikap setelah duduk di kursi kekuasaan. Pesan seperti ini menjadi pegangan moral bagi banyak kader yang kemudian berkiprah di lembaga publik.
Peran dalam Penyusunan Kebijakan Daerah
Kader yang berada di lembaga legislatif dan eksekutif daerah memiliki peluang besar untuk mempengaruhi arah kebijakan. Mereka terlibat dalam pembahasan anggaran, penyusunan peraturan daerah, dan program program yang menyasar warga. Di titik ini, nilai nilai yang diwariskan pesantren diuji secara konkret, terutama ketika berhadapan dengan tarik menarik kepentingan.
Di beberapa sektor, kader berlatar belakang NU mendorong kebijakan yang berpihak pada pendidikan keagamaan, pemberdayaan ekonomi warga kecil, dan perlindungan sosial. Mereka juga berusaha menjaga agar kebijakan tidak bertentangan dengan nilai nilai keagamaan yang dianut mayoritas masyarakat. Peran seperti ini membuat kehadiran mereka terasa, meskipun tidak selalu terlihat di permukaan.
Warisan Pemikiran KH Imam Suhrowardi di Ruang Keilmuan
Selain di ranah sosial dan politik, warisan KH Imam Suhrowardi juga hidup di ruang keilmuan. Cara ia memahami teks agama dan memposisikannya dalam konteks lokal menjadi rujukan banyak pengajar dan peneliti muda. Ia tidak memisahkan antara kajian klasik dan realitas kekinian, tetapi berusaha menjembatani keduanya dengan pendekatan yang proporsional.
Pemikirannya tersebar melalui catatan, ceramah, dan ingatan para murid yang pernah belajar langsung. Meskipun tidak semua tertulis secara sistematis, esensi gagasannya tetap bisa ditelusuri dari pola sikap dan pandangan para santri yang kini menjadi pengasuh pesantren dan pengajar di berbagai lembaga.
Pendekatan Fikih yang Kontekstual dan Membumi
Dalam bidang fikih, KH Imam Suhrowardi dikenal tidak kaku. Ia berpegang pada mazhab yang dianut NU, namun tetap mempertimbangkan situasi konkret yang dihadapi masyarakat. Ia memahami bahwa fatwa tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial, ekonomi, dan budaya setempat. Karena itu, ia menghindari jawaban yang terlalu tekstual tanpa melihat dampaknya di lapangan.
Pendekatan seperti ini membuatnya sering menjadi rujukan ketika warga menghadapi persoalan baru yang belum banyak dibahas di pengajian umum. Ia berusaha mencari titik tengah yang tidak keluar dari koridor syariat, tetapi juga tidak memberatkan warga secara berlebihan. Pola inilah yang kemudian diikuti oleh banyak kader yang kini menjadi rujukan di kampung kampung.
Gagasan Sosial Keagamaan yang Inklusif
Dalam ranah sosial keagamaan, ia mendorong sikap inklusif dan menghargai keberagaman. Ia memandang masyarakat sebagai mozaik yang terdiri dari berbagai latar belakang, baik dari sisi agama, budaya, maupun pilihan politik. Bagi dirinya, tugas ulama adalah menjaga agar perbedaan itu tidak berubah menjadi sumber permusuhan yang merusak tatanan sosial.
Ia mendorong dialog lintas kelompok dan menolak cara pandang yang menutup diri dari pergaulan sosial. Ia percaya bahwa keyakinan justru akan semakin kokoh ketika diuji dalam perjumpaan dengan pihak lain, bukan dengan mengurung diri dalam lingkaran yang sempit. Gagasan ini kemudian menjadi salah satu ciri khas cara berpikir banyak aktivis keagamaan di Blitar.
Transformasi Gerakan NU Blitar Raya dari Masa ke Masa
Gerakan NU di Blitar mengalami berbagai fase perubahan seiring perkembangan zaman. Dari masa ketika organisasi lebih banyak berkutat pada urusan keagamaan tradisional, hingga periode ketika NU mulai aktif di bidang sosial, pendidikan modern, dan advokasi kebijakan. Di setiap fase itu, nilai dasar yang diwariskan para kiai menjadi kompas yang menjaga arah.
Perubahan ini tidak selalu mulus. Ada masa ketika organisasi harus beradaptasi dengan cepat terhadap dinamika politik nasional, perubahan kebijakan negara, dan munculnya arus keagamaan baru yang lebih keras. Dalam situasi seperti itu, warisan ketenangan dan kebijaksanaan para ulama pendahulu, termasuk KH Imam Suhrowardi, menjadi penyangga yang penting.
Tantangan Zaman dan Respons Organisasi
Perkembangan teknologi informasi, perubahan pola ekonomi, dan arus ideologi transnasional membawa tantangan baru bagi kader di Blitar. Informasi menyebar cepat, konflik bisa dipicu dari percakapan di media sosial, dan pemahaman keagamaan yang kaku mudah masuk melalui berbagai kanal. Di tengah situasi ini, organisasi dituntut untuk sigap merespons tanpa kehilangan jati diri.
NU di Blitar kemudian mengembangkan berbagai strategi. Pengajian diperkuat dengan materi yang relevan dengan isu kekinian. Kader muda didorong aktif di ruang digital untuk menyebarkan konten keagamaan yang menyejukkan. Di sisi lain, penguatan basis di tingkat ranting dan desa juga terus dilakukan agar ikatan sosial tetap kokoh di tengah gempuran budaya individualistik.
Konsistensi Menjaga Tradisi dan Keterbukaan Inovasi
Salah satu tantangan utama adalah menjaga keseimbangan antara tradisi dan inovasi. Di satu sisi, tradisi keilmuan pesantren, amalan amalan keagamaan, dan budaya lokal merupakan identitas yang tidak boleh hilang. Di sisi lain, dunia terus berubah dan menuntut cara kerja yang lebih efektif, transparan, dan adaptif terhadap teknologi baru.
Dalam konteks ini, nilai yang diwariskan KH Imam Suhrowardi memberi pegangan. Ia menunjukkan bahwa tradisi tidak harus bertentangan dengan pembaruan, selama pembaruan itu dijalankan dengan pertimbangan matang dan tidak merusak fondasi utama. Sikap seperti ini membantu kader dalam mengambil keputusan, terutama ketika dihadapkan pada pilihan yang tampak saling bertentangan antara modernitas dan kelestarian tradisi.
Pengaruh Figur Kiai Lokal terhadap Karakter Kader
Kader NU Blitar Raya tumbuh dalam lingkungan yang kaya dengan figur kiai lokal yang karismatik. KH Imam Suhrowardi adalah salah satu di antara mereka, namun ia menjadi simbol yang sering dijadikan rujukan ketika berbicara tentang integritas, kebijaksanaan, dan keberanian moral. Pengaruh figur ini tidak hanya dirasakan oleh mereka yang pernah menjadi santri langsung, tetapi juga oleh generasi yang hanya mendengar kisahnya.
Cerita cerita tentang cara ia mengambil keputusan, menegur dengan halus, atau menolak tawaran yang tidak sejalan dengan prinsip, menjadi bahan pelajaran tidak tertulis. Di forum forum kecil, nama dan contoh sikapnya kerap muncul sebagai referensi ketika kader membahas langkah yang harus diambil dalam situasi sulit.
Teladan Sederhana yang Melekat di Ingatan
Banyak teladan sederhana yang terus diceritakan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Misalnya, kebiasaannya menyambut tamu tanpa membedakan status sosial, atau cara ia memprioritaskan kepentingan warga yang datang meminta bantuan dibanding urusan pribadinya. Hal hal seperti ini tampak sepele, tetapi justru meninggalkan kesan mendalam di hati orang yang menyaksikannya.
Kader yang tumbuh dalam suasana seperti itu belajar bahwa kepemimpinan bukan soal gaya bicara di podium, melainkan sikap sehari hari. Mereka melihat bahwa kiai besar pun tetap hidup sederhana, tidak berjarak dengan warga, dan tidak memamerkan keistimewaan. Teladan ini kemudian menjadi standar moral yang mereka gunakan ketika menilai diri sendiri dan tokoh lain di sekitar mereka.
Pengaruh pada Cara Berorganisasi dan Mengambil Sikap
Dalam berorganisasi, pengaruh nilai yang diwariskan KH Imam Suhrowardi terlihat pada cara kader mengelola perbedaan. Mereka cenderung menghindari konflik terbuka yang tidak perlu, dan lebih memilih jalur musyawarah. Kritik disampaikan dengan cara yang menghormati, bukan dengan mempermalukan di ruang publik. Pola ini membuat dinamika internal tetap hidup, tetapi tidak mudah pecah.
Dalam mengambil sikap terhadap isu isu publik, kader juga berusaha menimbang dari berbagai sisi. Mereka tidak terburu buru mengeluarkan pernyataan keras tanpa data yang cukup. Kebiasaan ini sejalan dengan ajaran para kiai yang mengutamakan kehati hatian dalam bicara, terutama ketika menyangkut nama baik orang lain dan stabilitas sosial. Di tengah arus informasi yang serba cepat, sikap ini menjadi sangat berharga.

Comment