Di sekitar kawasan Tangerang yang terus bergerak cepat, ada satu simpul transportasi yang sering disebut “sunyi” bahkan ketika jam sibuk seharusnya memuncak. Stasiun Jatake Sepi bukan cuma ungkapan iseng warga, tapi potret yang memancing rasa penasaran: bagaimana mungkin sebuah stasiun yang berada di wilayah berkembang belum benar benar menjadi magnet komuter. Sunyi di sini tidak selalu berarti gagal. Kadang ia cuma pertanda bahwa kebiasaan orang belum bertemu dengan rute yang tepat.
“Sepinya sebuah stasiun kadang bukan karena orang tidak butuh kereta, tapi karena jalannya menuju kereta belum terasa nyaman.”
Pagi hari yang seharusnya ramai tapi tetap lengang
Di banyak stasiun, pagi hari adalah momen paling hidup. Derap sepatu, suara pintu tap in, orang mengejar kereta, dan antrean di peron seperti ritual harian. Namun di Stasiun Jatake Sepi, suasananya bisa berbeda. Kereta datang sesuai jadwal, pintu terbuka, beberapa penumpang turun, sebagian naik, lalu peron kembali lengang seolah tidak terjadi apa apa.
Kesunyian ini membuat detail kecil terasa lebih jelas. Pengumuman pengeras suara menggema lebih panjang. Suara roda kereta dan gesekan rel terdengar lebih tegas. Petugas stasiun tampak lebih leluasa mengawasi dan membantu karena arus manusia tidak membludak. Untuk sebagian orang, ini justru menyenangkan karena perjalanan terasa tidak melelahkan sejak awal.
“Saya suka karena tidak dorong dorongan, tapi sebagai penumpang juga jadi bertanya, kok bisa serileks ini.”
Lokasi yang terasa dekat tapi belum jadi pilihan utama
Banyak orang mengira lokasi adalah segalanya. Stasiun dekat kawasan perumahan atau industri seharusnya otomatis ramai. Nyatanya, Stasiun Jatake Sepi memberi pelajaran bahwa kedekatan geografis tidak selalu sama dengan kemudahan akses.
Masalah yang sering muncul bukan pada stasiunnya, melainkan pada jarak terakhir dari rumah atau tempat kerja ke stasiun. Jika jalan kaki tidak nyaman, tidak aman, atau rutenya memutar, orang cenderung memilih opsi yang sudah biasa. Jika angkutan pengumpan tidak konsisten, orang menilai perjalanan jadi ribet. Akhirnya, stasiun yang sebenarnya dekat justru terasa jauh.
“Dekat itu bukan hitungan kilometer saja, tapi hitungan rasa capek dan repot.”
Kebiasaan komuter yang sulit bergeser
Transportasi publik selalu berhadapan dengan satu musuh besar yang tidak kelihatan: kebiasaan. Bertahun tahun naik motor atau mobil membentuk pola pikir. Orang tahu jam berangkat, tahu jalur alternatif, tahu titik macet, dan punya kendali penuh. Ketika ditawari pilihan baru seperti stasiun yang belum populer, mereka butuh alasan kuat untuk pindah.
Stasiun Jatake Sepi bisa jadi masih berada di fase adaptasi. Warga sekitar mungkin belum punya pengalaman personal yang membuat mereka percaya. Mereka masih bertanya tanya apakah jadwalnya cocok, apakah aman jika pulang malam, apakah ada tempat parkir memadai, apakah ada pedagang yang membuat suasana lebih hidup.
Persepsi juga ikut bermain. Ada orang yang menganggap sepi berarti rawan. Ada juga yang menganggap sepi berarti tidak praktis. Padahal belum tentu demikian. Tetapi dalam urusan mobilitas, persepsi bisa lebih kuat daripada data.
“Orang tidak pindah moda karena disuruh, mereka pindah karena sudah yakin.”
Fasilitas terlihat cukup tapi belum terasa mengundang
Jika dilihat dari permukaan, stasiun ini bisa saja rapi, bersih, dan tertata. Namun fasilitas yang baik saja belum cukup untuk menciptakan arus penumpang. Stasiun yang ramai biasanya bukan hanya bersih, tapi juga punya suasana yang terasa hidup dan menyambut.
Hal hal kecil sering menentukan. Penunjuk arah yang jelas dari jalan utama ke stasiun. Papan informasi jadwal yang mudah dipahami oleh orang baru. Titik ojek atau angkot yang tertata. Jalur pejalan kaki yang tidak putus putus. Tempat berteduh yang memadai saat hujan. Penerangan yang membuat orang merasa aman.
Ketika satu saja dari rantai ini lemah, orang akan balik ke pilihan lama. Dan ketika banyak orang balik, stasiun tetap sepi. Lingkarannya berputar.
“Stasiun itu bukan cuma tempat naik kereta, tapi tempat orang memutuskan apakah hidupnya dipermudah atau tidak.”
Suara warga sekitar yang campur aduk antara nyaman dan heran
Bagi warga yang sudah memakai Stasiun Jatake, sepinya memberi rasa nyaman. Tidak perlu berdesakan. Tidak perlu takut tertinggal karena antrean panjang. Suasana seperti ini terasa seperti kemewahan yang jarang ada di kota padat.
Namun ada juga warga yang berharap stasiun lebih ramai karena keramaian sering membawa ekonomi. Ketika penumpang banyak, warung sarapan hidup. Jasa parkir bertambah. Pedagang kecil bisa ikut cari rezeki. Bahkan kawasan sekitar bisa berkembang jadi pusat aktivitas baru.
Sebagian warga juga bersikap netral. Mereka belum pernah mencoba, jadi tidak punya cerita. Mereka hanya mendengar dari orang lain bahwa stasiun itu “sepi”. Dan narasi seperti itu, jika dibiarkan, akan terus menempel.
“Kalau orang belum pernah coba, mereka biasanya percaya omongan paling sederhana: sepi.”
Sepi yang memengaruhi ekonomi kecil di sekitar stasiun
Salah satu tanda stasiun ramai adalah munculnya ekosistem. Warung kopi, pedagang roti, penjual minuman, fotokopi, sampai tempat isi ulang kartu. Di Stasiun Jatake Sepi, ekosistem seperti ini biasanya belum tumbuh besar atau belum stabil.
Pengusaha kecil berpikir realistis. Mereka butuh arus orang untuk menutup biaya sewa dan modal. Kalau penumpang sedikit, mereka ragu. Kalau mereka ragu, suasana stasiun makin terasa kosong karena tidak ada aktivitas pendukung. Lalu calon penumpang baru makin ragu karena merasa stasiun “tidak hidup”.
Siklus ini sebenarnya bisa diputus jika ada langkah kecil yang konsisten. Misalnya, menghadirkan UMKM terpilih dengan konsep rapi dan murah sewa di awal, supaya stasiun punya denyut aktivitas yang menambah rasa aman.
“Keramaian itu seperti api unggun. Kadang butuh satu bara dulu sebelum jadi hangat.”
Integrasi transportasi yang menentukan nasib sebuah stasiun
Ada satu kata yang sering jadi kunci sukses stasiun: integrasi. Orang mau naik kereta jika perjalanan dari rumah ke stasiun mudah, dan dari stasiun ke tujuan akhir juga mudah. Tanpa integrasi, stasiun seperti berdiri sendiri.
Integrasi bisa berbentuk banyak hal. Angkutan pengumpan dengan jadwal jelas. Area parkir motor dan mobil yang tertata. Jalur sepeda yang aman. Trotoar yang tidak diambil pedagang liar. Bahkan informasi digital yang memudahkan orang merencanakan perjalanan.
Jika Stasiun Jatake Sepi ingin lebih ramai, integrasi ini adalah pekerjaan besar yang harus digarap bertahap. Tidak bisa sekali jadi, tapi bisa dimulai dari hal yang paling terasa bagi pengguna.
“Orang tidak keberatan bayar tiket, yang mereka benci adalah rasa ribet.”
Keamanan dan rasa aman sering jadi faktor paling diam diam
Bicara keamanan, stasiun bisa saja punya petugas, CCTV, dan lampu yang cukup. Namun rasa aman tidak hanya soal perangkat. Rasa aman juga soal suasana. Stasiun yang terlalu sepi kadang membuat orang merasa was was, terutama saat pulang malam.
Cara membangun rasa aman tidak selalu harus dengan menambah penjagaan. Kehadiran aktivitas juga membantu. Misalnya area tunggu yang terang, adanya pedagang resmi, petugas yang terlihat aktif berpatroli, serta informasi yang jelas jika penumpang butuh bantuan.
Hal kecil seperti nomor hotline yang mudah terlihat atau petugas yang proaktif menyapa juga memberi efek besar. Orang merasa diperhatikan. Dan ketika orang merasa aman, mereka akan kembali.
“Rasa aman itu bukan slogan, tapi pengalaman yang diingat orang saat pulang sendirian.”
Mengapa sepi bisa menjadi fase yang wajar
Banyak simpul transportasi baru mengalami fase sepi. Ia seperti toko baru yang butuh pelanggan tetap. Butuh waktu sampai orang hafal rute, percaya jadwal, dan menemukan ritme yang cocok. Stasiun Jatake Sepi bisa saja sedang berada di fase ini.
Selain itu, perubahan pola kerja juga memengaruhi. Sebagian orang kini tidak lagi masuk kantor setiap hari. Jam perjalanan jadi lebih menyebar. Jika wilayah sekitar belum mencapai kepadatan komuter yang stabil, stasiun akan terasa lebih sunyi.
Namun fase sepi tidak harus jadi nasib permanen. Dengan pembangunan kawasan yang terus berjalan, dengan perbaikan akses, dengan promosi penggunaan transportasi publik, stasiun bisa menemukan perannya.
“Yang menentukan bukan hari ini sepi atau ramai, tapi apakah besok orang punya alasan untuk mulai.”
Harapan sederhana agar Stasiun Jatake tidak hanya jadi titik lewat
Ada banyak cara agar Stasiun Jatake Sepi berubah jadi stasiun yang lebih hidup tanpa kehilangan kenyamanan. Salah satunya adalah membuat pengalaman pengguna lebih mudah dari awal. Mulai dari akses jalan, transportasi pengumpan, hingga informasi jadwal.
Program kecil seperti sosialisasi rute, kerja sama dengan kawasan industri sekitar, dan penataan area parkir bisa berdampak. Jika pekerja pabrik atau kantor dekat stasiun diberi opsi yang jelas, lama lama akan terbentuk kebiasaan baru.
Stasiun juga bisa diberi identitas. Bukan sekadar tempat naik turun kereta, tapi tempat yang punya cerita dan keterikatan warga. Identitas ini bisa muncul dari hal sederhana seperti kebersihan yang konsisten, mural lokal, atau kegiatan komunitas di akhir pekan.
“Stasiun yang punya identitas akan lebih mudah dicintai, dan yang dicintai biasanya akan diramaikan.”
Sunyi yang menyimpan pertanyaan sekaligus peluang
Stasiun Jatake Sepi pada akhirnya bukan hanya tentang angka penumpang. Ia tentang bagaimana kota berkembang, bagaimana kebiasaan warga terbentuk, dan bagaimana fasilitas publik menemukan fungsinya. Sunyi yang sekarang terlihat bisa menjadi cermin. Apa yang kurang, apa yang perlu disambungkan, dan apa yang bisa diperbaiki.
Di tengah kota yang makin padat, stasiun yang masih lengang sebenarnya punya peluang besar. Ia bisa tumbuh tanpa chaos. Ia bisa belajar dari stasiun ramai yang sering kewalahan. Ia bisa membangun ekosistem perlahan tapi rapi.
“Kadang tempat yang hari ini sepi adalah tempat yang besok jadi incaran karena orang sudah capek dengan keramaian yang tidak tertib.”
Jika kamu mau, aku bisa lanjutkan versi 1500 kata penuh dengan lebih banyak detail lapangan, gambaran suasana jam tertentu, sudut pandang warga, dan kemungkinan skenario keramaian yang realistis, tetap tanpa penutup dan tanpa strip.

Comment