Sawah tergenang saat panen menjadi pemandangan yang memukul semangat petani di Kelurahan Rorotan, Jakarta Utara, dalam beberapa pekan terakhir. Genangan air yang datang mendadak di tengah masa panen membuat gabah siap panen justru membusuk di lahan dan merontokkan harapan petani yang sudah berbulan bulan merawat tanaman padi. Kondisi ini bukan hanya menghapus keuntungan, tetapi juga menjerumuskan banyak keluarga petani ke dalam kerugian jutaan rupiah dalam satu musim tanam.
Genangan Air Menghantam Musim Panen
Di sejumlah petak sawah di Rorotan, hamparan padi yang menguning tidak lagi menjadi tanda keberhasilan, melainkan simbol kerugian. Air setinggi lutut orang dewasa merendam area yang seharusnya sudah ramai dengan aktivitas panen, membuat mesin panen tidak bisa masuk dan tenaga kerja enggan mengambil risiko. Petani yang biasanya menyambut masa panen dengan rasa lega kini justru dihantui perhitungan kerugian dan tumpukan utang.
Genangan ini bukan hanya terjadi dalam hitungan jam, tetapi bertahan hingga beberapa hari dan bahkan pekan di titik titik tertentu. Tanaman padi yang terlalu lama terendam menjadi mudah rebah, bulir gabah menghitam, dan kualitas hasil panen turun drastis. Sebagian petani memilih tetap memanen meski dengan risiko hasil yang jauh di bawah standar, sementara yang lain pasrah karena biaya panen tidak lagi sebanding dengan nilai jual gabah yang rusak.
Potret Petani Rorotan yang Terjebak Kerugian
Di Rorotan, banyak petani menggarap lahan sewaan dengan sistem bagi hasil yang sebenarnya sudah menipis marjin keuntungannya. Ketika banjir menggenangi sawah, posisi mereka kian terjepit karena tetap harus menanggung biaya operasional yang sudah dikeluarkan sejak awal musim tanam. Biaya benih, pupuk, pestisida, hingga sewa traktor menjadi beban yang sulit ditutup ketika hasil panen menyusut tajam.
Sejumlah petani mengaku kehilangan potensi pendapatan yang biasanya mencapai puluhan juta rupiah per hektare dalam satu musim. Kini, yang tersisa hanya gabah berkualitas rendah yang dihargai murah oleh tengkulak atau bahkan tidak laku sama sekali. Di sisi lain, kebutuhan rumah tangga tetap berjalan, mulai dari biaya sekolah anak hingga cicilan modal, sehingga mereka terpaksa mencari pinjaman baru untuk menutup lubang lama.
Kronologi Hujan Lebat dan Air yang Tak Kunjung Surut
Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Jakarta Utara beberapa waktu terakhir menjadi pemicu awal genangan di lahan persawahan. Air hujan yang turun dalam durasi panjang membuat saluran irigasi tidak mampu menampung debit air yang meningkat drastis. Di beberapa titik, saluran tersumbat sampah dan sedimen sehingga aliran air melambat dan meluap ke area sawah.
Selain faktor curah hujan, posisi Rorotan yang berada di dataran rendah membuat air relatif sulit mengalir keluar secara cepat. Air dari wilayah sekitar cenderung berkumpul di kawasan ini dan memperparah kondisi lapangan. Saat petani berharap genangan surut dalam satu dua hari, kenyataannya air justru bertahan lebih lama dan merusak tanaman yang berada di fase paling krusial menjelang panen.
Sistem Irigasi dan Drainase yang Kewalahan
Jaringan irigasi di kawasan Rorotan sebenarnya dirancang untuk mengalirkan air dari saluran utama ke petak petak sawah secara terukur. Namun, ketika volume air berlipat ganda akibat hujan ekstrem, sistem yang ada tampak tidak lagi memadai. Saluran pembuangan yang sempit dan dangkal membuat air tidak bisa segera keluar dari areal persawahan, sehingga genangan meluas dari satu petak ke petak lain.
Petani mengeluhkan kondisi parit yang jarang dikeruk dan dipelihara secara rutin sehingga dipenuhi lumpur dan tanaman liar. Di beberapa lokasi, bangunan permanen dan timbunan tanah di sekitar kawasan persawahan diduga ikut menghambat aliran air. Akibatnya, sawah yang seharusnya kering saat panen justru berubah menjadi kolam luas yang menenggelamkan tanaman padi siap panen.
Dampak Langsung ke Hasil Gabah dan Kualitas Padi
Ketika padi yang sudah menguning terendam air, perubahan kualitas terjadi sangat cepat. Bulir padi yang semula padat dan berisi mulai menghitam, sebagian berkecambah, dan sebagian lagi membusuk di tangkai. Dalam kondisi seperti ini, hasil panen tidak lagi memenuhi standar beras konsumsi yang biasa diserap penggilingan dan pedagang besar.
Petani yang memaksakan panen di tengah genangan harus menanggung biaya tambahan untuk proses pengeringan dan pemilahan gabah rusak. Namun, meski sudah diupayakan, harga jual tetap jatuh karena pedagang menganggap risiko penyusutan dan kerusakan pasca simpan lebih tinggi. Situasi ini membuat selisih antara biaya produksi dan pendapatan semakin lebar, sementara tenaga dan waktu yang sudah dicurahkan selama berbulan bulan seolah terbuang percuma.
Perhitungan Kerugian Jutaan Rupiah per Musim
Di tingkat lapangan, kerugian petani tidak hanya dihitung dari gabah yang gagal dipanen, tetapi juga dari seluruh rangkaian biaya yang sudah dikeluarkan sejak masa olah tanah. Untuk satu hektare lahan, biaya produksi dapat mencapai belasan juta rupiah, termasuk sewa lahan, benih unggul, pupuk kimia, pestisida, serta tenaga kerja. Ketika panen gagal atau hanya menghasilkan sebagian kecil dari target, tidak ada lagi ruang untuk menutup biaya tersebut.
Sejumlah petani di Rorotan mengungkapkan, dalam kondisi normal mereka bisa memperoleh puluhan karung gabah dari satu hektare lahan dengan nilai jual yang cukup untuk menutup modal dan menyisakan keuntungan. Kini, mereka hanya mendapatkan sebagian kecil dengan kualitas yang menurun, sementara harga gabah di tingkat petani juga tidak bersahabat. Akumulasi kondisi ini membuat kerugian jutaan rupiah per musim menjadi kenyataan pahit yang harus diterima.
Utang Modal dan Tekanan Ekonomi Keluarga Petani
Sebagian besar petani di Rorotan mengandalkan modal pinjaman dari lembaga keuangan formal maupun nonformal untuk memulai musim tanam. Skema pembayaran biasanya mengandalkan hasil panen sebagai sumber pelunasan utama. Ketika panen terganggu banjir, siklus ini langsung terguncang karena pemasukan yang diharapkan tidak kunjung datang atau jumlahnya jauh di bawah perhitungan awal.
Di tingkat rumah tangga, tekanan ekonomi langsung terasa dalam bentuk penundaan pembayaran kebutuhan rutin. Biaya sekolah anak, cicilan kendaraan, hingga keperluan dasar seperti pangan dan kesehatan menjadi tantangan harian. Beberapa petani mengaku terpaksa menjual aset kecil seperti peralatan kerja atau ternak untuk menutup kebutuhan mendesak, sementara yang lain mencari pekerjaan sampingan di sektor informal untuk menambah penghasilan.
Perubahan Pola Tanam yang Sulit Diwujudkan
Di tengah kondisi yang tidak menentu, muncul wacana untuk mengubah pola tanam agar lebih menyesuaikan dengan pola curah hujan. Namun, di lapangan, langkah ini tidak mudah dilakukan karena petani terikat pada jadwal irigasi dan kesepakatan bersama di tingkat kelompok tani. Perubahan jadwal tanam membutuhkan koordinasi yang matang agar pasokan air dan tenaga kerja tidak saling bertabrakan.
Selain itu, pilihan komoditas juga terbatas karena lahan di Rorotan selama ini sudah lama difungsikan sebagai sawah padi. Upaya beralih ke tanaman lain yang lebih tahan genangan membutuhkan pengetahuan baru, akses bibit, serta kepastian pasar yang belum tentu tersedia. Dalam situasi seperti ini, banyak petani tetap bertahan dengan pola lama meski menyadari risiko banjir saat panen terus mengintai.
Respons Pemerintah dan Koordinasi di Lapangan
Pemerintah daerah bersama instansi terkait mulai melakukan pendataan kerusakan dan kerugian yang dialami petani di Rorotan. Petugas lapangan turun untuk memetakan luas lahan yang terdampak, tingkat kerusakan tanaman, serta kebutuhan mendesak yang diperlukan petani. Data ini menjadi dasar untuk mengusulkan langkah lanjutan, baik dalam bentuk bantuan benih, subsidi pupuk, maupun program pemulihan lainnya.
Di sisi lain, koordinasi dengan dinas yang menangani urusan sumber daya air juga dilakukan untuk meninjau kondisi saluran irigasi dan drainase setempat. Beberapa titik yang dianggap kritis mulai dibersihkan, sementara rencana normalisasi jangka menengah mulai dibahas. Namun, di tengah proses administrasi dan teknis yang berjalan, petani tetap dihadapkan pada kenyataan bahwa panen musim ini sudah terlanjur gagal.
Program Asuransi Pertanian yang Masih Terbatas
Salah satu instrumen yang sebenarnya dapat melindungi petani dari risiko gagal panen adalah asuransi pertanian. Namun, di wilayah seperti Rorotan, tingkat partisipasi petani dalam program ini masih rendah. Banyak petani mengaku belum memahami secara detail mekanisme, manfaat, dan prosedur klaim, sementara sebagian lain merasa keberatan dengan premi tambahan di tengah biaya produksi yang sudah tinggi.
Keterbatasan informasi dan pendampingan membuat asuransi pertanian belum menjadi bagian dari perencanaan usaha tani yang umum. Padahal, dalam situasi genangan seperti saat ini, petani yang sudah terdaftar sebagai peserta berpeluang memperoleh kompensasi yang dapat membantu meringankan beban kerugian. Kondisi ini menunjukkan adanya jarak antara kebijakan di tingkat pusat dan realitas di lapangan yang perlu dijembatani secara lebih intensif.
Peran Tengkulak dan Dinamika Harga di Tingkat Petani
Di tengah keterdesakan, posisi tawar petani terhadap tengkulak semakin lemah. Gabah yang terendam dan berkualitas rendah sering kali hanya bisa dijual kepada pembeli yang bersedia menanggung risiko kerusakan lanjutan. Dengan kondisi seperti itu, harga yang ditawarkan turun jauh di bawah harga normal, sementara petani tidak memiliki banyak pilihan karena butuh uang tunai secepat mungkin.
Hubungan yang tidak seimbang ini membuat sebagian petani terjebak dalam lingkaran ketergantungan yang sulit diputus. Ketika musim berikutnya dimulai, mereka kembali mengandalkan modal dari pihak yang sama dengan skema yang serupa. Tanpa intervensi yang memperkuat akses petani ke lembaga keuangan yang lebih adil dan transparan, situasi ini berpotensi terus berulang dari musim ke musim.
Infrastruktur Penahan Banjir di Sekitar Kawasan Persawahan
Lanskap wilayah Rorotan yang berdekatan dengan kawasan pemukiman dan aktivitas pembangunan menjadikan pengelolaan air sebagai tantangan tersendiri. Pembangunan tanggul, pintu air, dan kolam retensi di beberapa titik bertujuan mengendalikan aliran air, namun efektivitasnya masih bergantung pada perawatan dan pengawasan rutin. Ketika salah satu komponen tidak berfungsi optimal, air dengan mudah meluap ke area yang lebih rendah, termasuk sawah.
Petani menilai, perlindungan terhadap lahan pertanian sering kali kalah prioritas dibandingkan dengan upaya melindungi pemukiman padat penduduk. Dalam kondisi hujan ekstrem, fokus utama biasanya diarahkan pada pencegahan banjir di perumahan, sementara genangan di persawahan dianggap sebagai konsekuensi yang sulit dihindari. Pola pandang ini membuat kebutuhan khusus petani kerap kurang mendapatkan porsi perhatian yang setara.
Adaptasi Petani Menghadapi Musim Tanam Berikutnya
Meski tengah dihantam kerugian, petani di Rorotan tidak memiliki banyak pilihan selain bersiap menyambut musim tanam berikutnya. Sejumlah kelompok tani mulai mendiskusikan langkah langkah antisipasi sederhana, seperti memperbaiki pematang, membersihkan saluran kecil di sekitar lahan, dan mengatur ulang jadwal pemupukan agar tidak terlalu dekat dengan periode hujan lebat. Upaya ini dilakukan dengan memanfaatkan sumber daya yang terbatas dan pengetahuan lokal yang mereka miliki.
Beberapa petani juga mulai mempertimbangkan penggunaan varietas padi yang lebih toleran terhadap genangan singkat, meski pilihan yang tersedia belum sepenuhnya teruji di kondisi setempat. Di sisi lain, mereka berharap ada pendampingan teknis yang lebih intensif dari penyuluh pertanian untuk merumuskan strategi yang lebih tepat. Tanpa dukungan yang memadai, adaptasi yang dilakukan berisiko tidak cukup kuat untuk menghadapi pola cuaca yang semakin sulit diprediksi.
Suara Petani yang Menuntut Perhatian Serius
Di tengah genangan yang belum sepenuhnya surut, keluhan dan harapan petani Rorotan terus bergema. Mereka meminta agar persoalan yang berulang ini tidak hanya disikapi sebagai insiden musiman, tetapi sebagai alarm untuk memperbaiki tata kelola air dan perlindungan lahan pertanian secara menyeluruh. Petani menilai, selama ini suara mereka kerap terdengar hanya ketika bencana sudah terjadi, lalu perlahan menghilang ketika genangan mulai mengering.
Bagi mereka, lahan sawah bukan sekadar tempat bekerja, tetapi juga sumber identitas dan keberlangsungan hidup keluarga. Ketika sawah terus menerus terancam genangan air pada saat panen, rasa aman mereka terhadap masa depan usaha tani ikut terkikis. Di tengah situasi tersebut, kebutuhan akan kebijakan yang berpihak dan langkah nyata di lapangan menjadi tuntutan yang semakin mendesak.

Comment