Kisah di balik persiapan pertarungan selalu menjadi salah satu sisi paling menarik dalam dunia MMA. Kali ini perhatian publik kembali tertuju pada kombinasi legendaris antara Khabib Nurmagomedov, Islam Makhachev, dan pelatih kepala American Kickboxing Academy, Javier Mendez. Dalam sebuah wawancara terbaru, Mendez membuka cerita yang sebelumnya jarang terungkap tentang bagaimana Khabib diam diam melatih Islam untuk menghadapi skenario paling krusial sebelum pertarungan melawan Dustin Poirier, termasuk latihan guillotine rahasia yang disebut sebagai salah satu kunci persiapan.
Pengungkapan ini sontak menarik rasa ingin tahu publik karena guillotine choke merupakan senjata yang kerap menjadi ancaman terbesar bagi grappler elit. Kisah ini tidak hanya memperlihatkan kecerdasan bertarung Khabib, tetapi juga menunjukkan kedalaman ikatan antara dirinya dan Islam sebagai rekan latihan sekaligus saudara.
“Terkadang rahasia terbesar bukan terletak pada teknik, tetapi pada kesungguhan orang orang yang mempersiapkannya.”
Hubungan Khabib Dan Islam Yang Lebih Dari Sekadar Rekan Latihan
Sebelum masuk ke cerita tentang latihan rahasia, penting memahami konteks hubungan mereka. Islam bukan hanya atlet berbakat, tetapi juga salah satu petarung yang paling dekat dengan Khabib sejak remaja. Keduanya tumbuh dalam lingkungan yang sama, menjalani latihan keras di Dagestan, dan mengikuti etos kerja yang serupa.
Hubungan mereka lebih menyerupai kakak dan adik, bukan sekadar partner dalam latihan. Khabib telah menyaksikan perjalanan Islam sejak awal, sedangkan Islam menganggap Khabib sebagai pemandu yang tidak hanya mengajarinya teknik, tetapi juga prinsip mental seorang juara.
Yang membuat dinamika mereka istimewa adalah kedisiplinan yang konsisten. Khabib tidak pernah membiarkan Islam merasa puas terlalu cepat. Bahkan menjelang pertarungan besar Makhachev, Khabib kerap menghadirkan simulasi ekstrem, termasuk latihan guillotine yang kini menjadi sorotan.
Javier Mendez Mengungkap Latihan Guillotine Tersembunyi
Dalam talkshow MMA terbaru, Javier Mendez menceritakan sebuah sesi latihan yang berlangsung sebelum Islam dijadwalkan melawan Dustin Poirier. Poirier dikenal dengan kemampuan guillotine choke yang tajam dan sangat agresif. Banyak petarung mengakui bahwa meskipun Poirier jarang menyelesaikan pertarungan melalui guillotine, ancamannya bisa memukul ritme lawan.
Karena itu, Mendez mengungkap bahwa Khabib mengambil inisiatif pribadi untuk melatih Islam menghadapi ancaman tersebut. Bukan sekadar latihan biasa, tetapi latihan guillotine intensif yang dilakukan tanpa liputan, tanpa kamera, dan tanpa publikasi.
Khabib secara khusus mempelajari pola gerak Poirier, memprediksi skenario pertarungan, dan merancang latihan ekstrem yang membuat Islam harus mengatasi tekanan guillotine seperti sedang bertarung sungguhan. Menurut Mendez, sesi itu berlangsung berkali kali.
“Jika kau ingin memahami mengapa mereka hebat, lihat bagaimana mereka melatih satu sama lain, bukan hanya bagaimana mereka bertarung.”
Mengapa Guillotine Poirier Disebut Sebagai Ancaman Serius
Meski Poirier terkenal dengan striking-nya, ancaman guillotine selalu menjadi bagian dari identitasnya. Beberapa aspek teknis yang membuatnya berbahaya antara lain:
- Transisi cepat dari serangan berdiri ke choke
- Grip yang kuat dan spontan
- Kemampuan membaca momentum lawan ketika menurunkan level
Dalam pertarungan melawan Khabib dulu, Poirier nyaris mengunci guillotine yang membuat banyak penonton terpaku. Khabib sendiri setelah pertarungan mengakui bahwa choke tersebut cukup ketat, meski tidak pada titik yang membuatnya panik.
Pengalaman itu menjadi fondasi pelatihan Khabib untuk Islam. Ia tahu bagaimana rasanya berada dalam posisi itu dan tidak ingin Islam mengalaminya tanpa persiapan matang.
Bagaimana Latihan Rahasia Itu Dilakukan Menurut Mendez
Javier Mendez menggambarkan sesi latihan tersebut sebagai salah satu yang paling intens dan teknis dalam sejarah AKA. Khabib memposisikan dirinya layaknya Poirier, memulai guillotine dari berbagai sudut yang pernah digunakan Poirier dalam pertarungannya.
Islam diminta:
- Bertahan dari choke dalam berbagai variasi
- Mencari celah keluar tanpa panik
- Membangun kebiasaan membaca bahaya sedetik sebelum choke mengunci
Khabib juga memberi tekanan fisik seperti dalam pertarungan asli. Tidak ada pengurangan intensitas. Semua dilakukan secara realistis.
Mendez mengatakan bahwa sesi itu menjadi bukti betapa dalamnya dedikasi tim mereka. Tidak ada ego, tidak ada gengsi, hanya dua petarung besar yang ingin memastikan persiapan dilakukan dengan sempurna.
Dampak Latihan Itu Pada Mental Dan Ketahanan Islam
Bagi seorang petarung, persiapan mental sama pentingnya dengan persiapan teknik. Islam mendapatkan keduanya sekaligus. Ia tidak hanya belajar cara keluar dari guillotine, tetapi juga membangun rasa aman mental ketika berada dalam posisi genting.
Perasaan aman inilah yang membuat petarung mampu berpikir jernih dalam tekanan. Latihan tersebut memperkuat ketahanan fisik sekaligus ketahanan batin, dua hal yang menjadi karakter khas petarung Dagestan.
“Petarung terbaik bukan mereka yang tidak pernah masuk ke posisi berbahaya, tetapi mereka yang tetap tenang saat berada di dalamnya.”
Bagaimana Khabib Masih Menjadi Bagian Dari Perjalanan Islam
Sejak pensiun, Khabib memang lebih jarang terlihat di dalam arena, tetapi kontribusinya terhadap karier Islam masih besar. Ia memainkan peran mentor, analis, sekaligus sparring partner dalam momen momen tertentu.
Khabib memahami perjalanan yang sedang ditempuh Islam. Ia tahu tekanan menjadi juara, ekspektasi publik, dan kritik yang datang bertubi tubi. Karena itu, bimbingannya lebih mendalam dari sekadar pelatih fisik ia memberikan arahan sebagai seseorang yang telah melewati jalur yang sama.
Kehadiran Khabib sering disebut sebagai “keheningan yang menjaga”. Ia tidak selalu tampil di kamera, tetapi pekerjaannya terlihat dari bagaimana Islam bertarung.
Bagaimana Poirier Berada Di Puncak Persiapan Strategis
Walaupun Islam memiliki keunggulan grappling, Poirier tetap lawan yang kompleks. Striking yang tajam, pengalaman yang matang, dan pertahanan yang kuat membuatnya selalu diperhitungkan.
Setiap detail perlu diperhatikan. Itu sebabnya Khabib melihat guillotine sebagai aspek yang tidak boleh dianggap remeh. Dengan memperdalam persiapan ini, ia memastikan Islam siap menghadapi skenario paling ekstrem.
Publik melihatnya sebagai bentuk persahabatan, tetapi bagi mereka berdua ini adalah bentuk profesionalisme tingkat tinggi.
Mendeskripsikan Intensitas Sesi Latihan Menurut Mendez
Mendez menyebut latihan itu sebagai “brutal tetapi indah.” Brutal karena intensitasnya tinggi. Indah karena hubungan mentor murid yang begitu kuat, terjalin dalam setiap gerakan.
Keduanya mendorong satu sama lain tanpa kompromi. Tidak ada rasa sungkan, tidak ada rasa kasihan. Mereka hanya berfokus pada satu hal persiapan yang sempurna.
Mendez juga mengungkap bahwa beberapa pelatih lain yang menyaksikan latihan itu mengatakan bahwa sesi tersebut terlihat seperti dua juara dunia sedang saling menguji, bukan sekadar pelatih dan murid.
“Kadang intensitas latihan memperlihatkan cinta yang lebih besar daripada kata kata.”
Publik Menyambut Pengakuan Ini Dengan Antusias
Sejak cerita ini dirilis, penggemar MMA membanjiri media sosial dengan reaksi positif. Banyak yang menyebut bahwa hal ini adalah salah satu alasan mengapa tim Dagestan selalu mendominasi.
Beberapa komentar menyebut bahwa latihan rahasia ini menunjukkan mengapa Islam Makhachev berkembang sangat pesat. Ada pula yang menyoroti bagaimana Khabib tetap berperan dalam dunia MMA meski sudah pensiun.
Bagi sebagian fans, cerita ini memperlihatkan nilai nilai Dagestan seperti loyalitas, kerja keras, dan kebersamaan.
Peran Javier Mendez Sebagai Penghubung Keduanya
Javier Mendez bukan hanya pelatih, tetapi juga orang yang memahami dinamika antara Khabib dan Islam. Ia sering menyebut mereka sebagai dua petarung dengan “jiwa pemimpin.”
Mendez tahu kapan harus mendorong, kapan harus menahan, dan kapan harus membiarkan keduanya saling menempa diri tanpa intervensi. Dalam cerita ini, ia berperan sebagai narator yang memberi gambaran kepada publik tentang sisi manusiawi persiapan pertarungan.
Ia mengatakan bahwa melihat keduanya bekerja sama adalah salah satu pengalaman paling berharga dalam kariernya.

Comment