Goma di Bawah M23 telah menjadi simbol kota yang hidup dalam tekanan berkepanjangan, dengan aktivitas ekonomi yang nyaris berhenti dan warga yang terus dihantui rasa cemas. Kota di timur Republik Demokratik Kongo ini berada dalam situasi serba terbatas, dari pergerakan orang dan barang hingga akses layanan dasar yang makin sulit dijangkau. Di tengah desingan senjata dan pos pemeriksaan bersenjata, kehidupan sehari hari berubah menjadi rangkaian kompromi yang melelahkan.
Kota Strategis yang Terkepung Konflik
Goma bukan sekadar kota di tepi Danau Kivu, melainkan simpul penting perdagangan dan jalur logistik di kawasan timur Kongo. Lokasinya yang berbatasan langsung dengan Rwanda menjadikan kota ini pintu keluar masuk barang, bahan bakar, dan bantuan kemanusiaan. Sejak kelompok bersenjata M23 menguatkan cengkeramannya di sekitar kawasan ini, peran strategis Goma berubah menjadi beban berat bagi warganya sendiri.
Selama setahun terakhir, rute jalan utama yang menghubungkan Goma dengan kota kota pedalaman sering terputus akibat pertempuran dan blokade. Truk logistik yang dulu hilir mudik kini berkurang drastis, sementara biaya transportasi melonjak karena risiko keamanan yang tinggi. Kondisi ini mengguncang rantai pasok dan memicu kenaikan harga barang kebutuhan pokok di tingkat kota.
Ekonomi Harian yang Tersendat di Setiap Sudut
Aktivitas ekonomi di Goma yang biasanya ramai dengan pedagang kecil, sopir angkutan, dan pekerja informal kini berjalan terseok. Pasar pasar tradisional masih buka, tetapi jumlah pembeli menurun tajam karena daya beli warga merosot dan rasa aman semakin menipis. Banyak keluarga harus mengurangi frekuensi belanja, hanya fokus pada bahan pangan paling dasar.
Pelaku usaha kecil mengeluhkan jam operasional yang makin pendek karena warga enggan keluar rumah saat hari mulai gelap. Toko kelontong, kios makanan, dan penjual di pinggir jalan kehilangan pendapatan harian yang selama ini menjadi penopang hidup. Setiap gangguan keamanan, sekecil apapun, langsung berimbas pada penutupan mendadak lapak lapak dagangan.
Perdagangan Lokal yang Kehilangan Nafas
Sebelum eskalasi konflik, Goma menjadi titik temu pedagang dari berbagai wilayah Kivu Utara. Komoditas seperti hasil pertanian, ikan dari danau, dan barang konsumsi dari negara tetangga mengalir lancar ke kota. Kini, banyak pedagang enggan mengambil risiko menempuh perjalanan panjang melewati wilayah yang dikuasai atau diperebutkan kelompok bersenjata.
Biaya asuransi informal, pungutan di jalan, dan ancaman perampasan membuat ongkos distribusi melambung. Barang barang yang berhasil masuk kota akhirnya dijual dengan harga jauh lebih tinggi, memukul konsumen di tingkat rumah tangga. Sementara itu, pedagang kecil yang tidak memiliki modal besar terjepit di tengah, tidak mampu menanggung ongkos tambahan maupun menutup kerugian.
Usaha Kecil dan Menengah di Ambang Tutup
Usaha kecil dan menengah di Goma selama ini menjadi tulang punggung ekonomi lokal, mulai dari bengkel, warung makan, usaha jahit, hingga penyedia jasa transportasi. Dalam setahun terakhir, banyak di antara mereka terpaksa mengurangi karyawan atau menutup usaha sementara karena penurunan omzet yang ekstrem. Setiap hari kerja yang hilang terasa berat karena tidak ada bantalan finansial yang cukup.
Beberapa pemilik usaha mencoba beradaptasi dengan memindahkan aktivitas ke lokasi yang dianggap sedikit lebih aman. Namun langkah ini tidak selalu berhasil karena basis pelanggan juga ikut berpindah atau mengungsi. Ketidakpastian berkepanjangan membuat rencana investasi ataupun pengembangan usaha praktis berhenti total.
Pasar Tradisional yang Tak Lagi Riuh
Pasar pasar di Goma selama ini dikenal sebagai pusat interaksi sosial, tempat warga bertukar kabar sekaligus memenuhi kebutuhan hidup. Dalam suasana genting, pasar masih menjadi tempat yang tak tergantikan, tetapi atmosfernya berubah. Suasana riuh dan penuh tawar menawar kini berganti dengan kecemasan yang terasa di antara lapak lapak yang setengah kosong.
Pedagang mengurangi stok barang karena khawatir tidak laku dan takut kehilangan semuanya jika situasi memburuk mendadak. Warga yang datang ke pasar bergerak cepat, fokus pada belanja seperlunya lalu segera pulang demi menghindari kerumunan yang dianggap rawan. Ruang publik yang dulu menjadi titik keramaian kini terasa dingin, sekaligus menjadi cermin ekonomi yang melemah.
Lonjakan Harga Pangan yang Menggerus Dapur Keluarga
Kenaikan harga pangan menjadi keluhan utama hampir setiap keluarga di Goma. Beras, tepung, minyak goreng, dan bahan makanan lain yang sebagian besar diangkut melalui jalur darat kini dijual dengan harga jauh di atas kemampuan rata rata warga. Guncangan suplai terjadi berulang kali setiap ada pertempuran di jalur utama atau pengetatan kontrol oleh pihak bersenjata.
Keluarga keluarga dengan penghasilan harian paling merasakan dampaknya karena tidak punya cadangan keuangan. Banyak rumah tangga yang terpaksa mengurangi porsi makan, mengganti bahan pangan berkualitas dengan yang lebih murah, atau melewatkan waktu makan. Anak anak menjadi kelompok paling rentan karena asupan gizi terganggu dalam jangka panjang.
Perdagangan Lintas Batas yang Terkunci
Hubungan dagang Goma dengan wilayah seberang perbatasan seperti Rwanda menjadi salah satu penopang pasokan barang. Konflik yang menghangat di sekitar kota mengganggu arus keluar masuk di titik titik perlintasan resmi maupun jalur tak resmi. Pemeriksaan lebih ketat dan suasana saling curiga membuat durasi pengiriman menjadi lebih lama dan tidak menentu.
Pelaku perdagangan lintas batas yang biasanya mengandalkan pergerakan cepat kini harus menanggung risiko tambahan. Sebagian memilih menghentikan aktivitas karena margin keuntungan tidak lagi sebanding dengan ancaman keamanan. Penurunan volume perdagangan ini menambah tekanan pada pasar lokal yang sudah rapuh.
Warga Sipil di Tengah Tekanan Keamanan
Di luar angka angka ekonomi, kehidupan warga di Goma diwarnai rasa takut yang sulit diukur. Keberadaan kelompok bersenjata di sekitar kota menciptakan lapisan tekanan psikologis yang terus menempel dalam keseharian. Warga terbiasa hidup dengan suara tembakan dari kejauhan, kabar tentang pergerakan pasukan, dan rumor yang cepat menyebar di lingkungan padat.
Ruang gerak masyarakat menyempit karena banyak kawasan dianggap terlalu berbahaya untuk dilalui, terutama saat malam hari. Jalur yang dulunya menjadi rute biasa untuk bekerja atau berbelanja kini dihindari karena adanya pos pemeriksaan dan risiko bentrokan. Kebebasan bergerak yang hilang perlahan membuat warga merasa terjebak di dalam kota mereka sendiri.
Pos Pemeriksaan dan Ketakutan di Jalan Raya
Jalan jalan utama di sekitar Goma dipenuhi titik kontrol yang dijaga pihak bersenjata, baik pasukan resmi maupun kelompok lain. Setiap pos pemeriksaan berarti potensi penundaan, interogasi, dan dalam beberapa kasus pungutan yang tak jelas. Pengemudi angkutan umum dan pengendara motor harus memperhitungkan waktu tambahan dan biaya yang mungkin muncul di setiap perjalanan.
Penumpang yang melintas sering kali cemas karena tidak ada kepastian perlakuan di setiap titik. Dokumen identitas, barang bawaan, bahkan isi kendaraan bisa menjadi alasan pemeriksaan panjang. Situasi ini tidak hanya menghambat mobilitas ekonomi, tetapi juga menanamkan rasa takut yang terus berulang setiap kali orang harus keluar rumah.
Gelombang Pengungsian dan Kota yang Menjadi Tempat Berlindung
Goma tidak hanya dihuni penduduk asli, melainkan juga ribuan orang yang mengungsi dari desa desa dan kota kecil di sekitarnya. Mereka melarikan diri dari pertempuran dan kekerasan, berharap menemukan sedikit rasa aman di dekat pusat kota dan fasilitas internasional. Tenda tenda darurat dan pemukiman sementara bermunculan di pinggiran dan sudut sudut tertentu.
Kedatangan pengungsi dalam jumlah besar menambah tekanan pada sumber daya yang sudah terbatas. Layanan air bersih, sanitasi, dan bantuan pangan menjadi tantangan berat bagi organisasi kemanusiaan yang bekerja di lapangan. Di sisi lain, warga lokal harus berbagi ruang dan kesempatan ekonomi dengan pendatang baru yang sama sama berjuang untuk bertahan.
Pendidikan dan Layanan Kesehatan yang Tersendat
Gangguan terhadap aktivitas ekonomi di Goma berjalan seiring dengan terganggunya layanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan. Sekolah sekolah tidak selalu bisa beroperasi normal karena faktor keamanan dan kesulitan finansial orang tua murid. Banyak keluarga memprioritaskan kebutuhan makan harian dibanding biaya seragam, buku, atau transportasi ke sekolah.
Di sektor kesehatan, fasilitas layanan dasar menghadapi beban ganda. Di satu sisi, mereka harus menangani kasus gizi buruk, trauma, dan penyakit umum yang meningkat di tengah kondisi serba terbatas. Di sisi lain, akses logistik untuk obat obatan dan peralatan medis terhambat oleh situasi di jalan dan pengurangan dukungan karena faktor keamanan.
Sekolah yang Sering Tutup dan Masa Depan Anak Anak
Anak anak di Goma menghadapi tahun tahun pendidikan yang tidak menentu. Jadwal belajar di sekolah kerap terganggu oleh kabar bentrokan di sekitar kota atau kekhawatiran orang tua yang enggan melepas anak keluar rumah. Guru dan tenaga pendidik juga tidak selalu bisa hadir karena mereka sendiri terjebak di wilayah yang sulit dilalui.
Bagi keluarga yang kehilangan mata pencaharian, biaya pendidikan menjadi beban tambahan yang sulit dipenuhi. Sebagian anak terpaksa membantu orang tua mencari nafkah, bekerja serabutan di pasar atau di jalan. Setiap hari sekolah yang hilang berarti jarak yang semakin lebar antara generasi muda di kota ini dengan kesempatan pendidikan yang layak.
Fasilitas Medis yang Kekurangan Perlengkapan
Rumah sakit dan klinik di Goma beroperasi dalam kondisi serba terbatas. Ketersediaan obat obatan penting sering tidak stabil karena jalur pasok terputus atau tertunda. Tenaga medis berhadapan dengan ruang perawatan yang penuh, sementara alat bantu dan perlengkapan pelindung tidak selalu memadai.
Pasien yang membutuhkan rujukan ke fasilitas yang lebih lengkap sering kali harus menempuh perjalanan berbahaya melewati wilayah yang tidak sepenuhnya aman. Banyak keluarga menunda mencari perawatan hingga kondisi sudah parah karena takut dan kekurangan biaya. Situasi ini menciptakan lingkaran masalah kesehatan yang sulit diputus.
Peran Organisasi Kemanusiaan yang Terbatas Ruang Gerak
Di tengah kekacauan dan kelumpuhan ekonomi, organisasi kemanusiaan menjadi salah satu harapan bagi warga Goma. Mereka menyalurkan bantuan pangan, menyediakan layanan kesehatan darurat, dan mendukung fasilitas pendidikan darurat untuk anak anak pengungsi. Namun ruang gerak mereka juga terikat oleh situasi keamanan yang tidak menentu.
Konvoi bantuan sering tertahan di jalan karena pemeriksaan berlapis dan risiko pertempuran di sepanjang rute. Staf lapangan harus menakar risiko setiap kali hendak menjangkau komunitas yang paling terpencil dan paling terdampak. Pembatasan pergerakan ini membuat distribusi bantuan tidak merata dan meninggalkan banyak celah kebutuhan yang belum terpenuhi.
Bantuan Pangan yang Tak Pernah Cukup
Distribusi bantuan pangan di Goma menjadi agenda rutin banyak lembaga internasional dan lokal. Namun kebutuhan di lapangan jauh lebih besar daripada kapasitas yang tersedia. Daftar penerima bantuan terus bertambah seiring datangnya pengungsi baru dan memburuknya kondisi ekonomi keluarga keluarga lokal.
Setiap pembagian paket pangan selalu diwarnai antrean panjang dan kekhawatiran tidak kebagian. Lembaga kemanusiaan harus menerapkan kriteria ketat untuk menentukan prioritas, yang kadang memicu ketegangan di komunitas. Di sisi lain, keterbatasan anggaran dan hambatan logistik membuat stok bantuan tidak bisa mengimbangi laju kebutuhan.
Upaya Layanan Psikososial di Tengah Trauma Kolektif
Selain bantuan fisik, sebagian organisasi mencoba memberikan dukungan psikososial bagi warga yang mengalami trauma berkepanjangan. Anak anak yang tumbuh dengan suara tembakan dan kabar pengungsian membutuhkan ruang aman untuk bermain dan belajar. Orang dewasa yang kehilangan pekerjaan dan rumah juga menyimpan tekanan mental yang jarang terlihat di permukaan.
Program program pendampingan ini dijalankan dalam skala terbatas, sering kali di pusat komunitas atau tenda khusus di kamp pengungsian. Namun jangkauannya belum sebanding dengan luasnya dampak psikologis yang dirasakan warga. Keterbatasan tenaga ahli dan dana membuat banyak kasus trauma tidak tertangani secara memadai.
Adaptasi Warga dan Jaringan Informal di Lapangan
Meski hidup dalam tekanan, warga Goma tidak sepenuhnya pasrah. Di banyak lingkungan, muncul inisiatif lokal untuk saling membantu dan berbagi informasi. Jaringan informal antara tetangga, kerabat, dan teman menjadi penopang penting ketika sistem resmi tidak mampu menjawab semua kebutuhan.
Komunitas kecil mengorganisir dapur umum, arisan darurat, atau penggalangan dana lokal untuk membantu keluarga yang paling tertekan. Informasi soal jalur aman, jam relatif tenang, dan lokasi bantuan menyebar melalui percakapan langsung maupun pesan singkat. Di tengah ketidakpastian, solidaritas sosial menjadi salah satu cara bertahan yang paling nyata.
Ekonomi Bayangan dan Cara Baru Mencari Nafkah
Dengan ekonomi formal yang melemah, banyak warga di Goma beralih ke aktivitas ekonomi bayangan untuk sekadar bertahan. Perdagangan kecil kecilan tanpa izin, jasa pengiriman barang lewat jalur alternatif, hingga kerja serabutan di sektor konstruksi darurat menjadi pilihan utama. Pendapatan yang diperoleh tidak besar, tetapi cukup untuk menjaga dapur tetap mengepul.
Sebagian anak muda memanfaatkan ponsel dan jaringan internet terbatas untuk menjual barang secara daring kepada pelanggan di wilayah yang lebih aman. Ada pula yang menawarkan jasa perantara, menghubungkan pemasok di luar kota dengan pembeli di Goma dengan imbalan kecil. Semua ini berlangsung di luar radar resmi, tetapi menjadi bagian penting dari denyut ekonomi yang tersisa.
Ruang Ibadah dan Komunitas sebagai Tempat Bernaung
Gereja, masjid, dan ruang ibadah lain di Goma berperan lebih dari sekadar tempat ritual keagamaan. Di tengah tekanan konflik, tempat tempat ini menjadi titik kumpul warga untuk mencari ketenangan dan dukungan moral. Pemimpin komunitas sering menjadi rujukan ketika warga bingung menghadapi situasi yang berubah cepat.
Kegiatan keagamaan tetap dijalankan dengan penyesuaian jam dan pengamanan sederhana. Di sela sela pertemuan, informasi seputar bantuan, keamanan, dan peluang kerja kecil dibagikan secara informal. Fungsi sosial ini membantu meredam kepanikan dan memberikan rasa kebersamaan di tengah suasana yang mencekam.
Goma yang Menunggu Ruang Bernapas
Setahun hidup dalam cengkeraman konflik dan tekanan ekonomi membuat Goma berada di titik rentan yang berkepanjangan. Kota ini berjalan di antara dua dunia, antara aktivitas yang dipaksakan normal dan realitas lapangan yang penuh ancaman. Warga berusaha mempertahankan rutinitas, tetapi setiap hari diwarnai perhitungan risiko dan kompromi.
Di jalan jalan, di pasar, di sekolah, dan di kamp pengungsian, cerita tentang kehilangan dan penyesuaian terus terulang. Goma menunggu ruang bernapas yang lebih lapang, menunggu hari hari ketika pergerakan orang dan barang tidak lagi ditentukan oleh suara senjata. Sementara itu, setiap keluarga berjuang dengan caranya masing masing agar tetap bertahan di kota yang ekonominya nyaris lumpuh ini.

Comment