Duit AS ke WHO selama ini jadi tulang punggung pendanaan organisasi kesehatan dunia tersebut, namun keputusan politik terbaru di Washington mengubah peta kekuatan itu secara drastis. Langkah pemutusan aliran dana ini bukan hanya memukul neraca anggaran WHO, tapi juga memicu kekhawatiran soal nasib program kesehatan global yang selama ini bergantung pada kontribusi Amerika Serikat.
Latar belakang hubungan finansial Washington dan WHO
Hubungan keuangan antara Amerika Serikat dan WHO sudah terbangun sejak awal berdirinya badan kesehatan di bawah PBB itu. Selama puluhan tahun, AS menempatkan diri sebagai salah satu penyumbang terbesar, baik lewat iuran wajib maupun donasi sukarela untuk program tertentu.
Peran AS di WHO bukan cuma soal citra sebagai negara maju yang peduli kesehatan global, tapi juga menjadi instrumen pengaruh geopolitik. Lewat kucuran dana besar, Washington punya ruang tawar dalam penyusunan agenda, prioritas program, hingga penempatan pejabat kunci di berbagai komite teknis WHO.
Ketika ketegangan politik meningkat, pendanaan ke WHO sering jadi alat tekan yang mudah dimainkan. Ancaman pemotongan dana, penundaan pembayaran, sampai penarikan total, berulang kali muncul setiap kali kebijakan WHO dinilai tidak sejalan dengan kepentingan strategis Amerika Serikat.
Rincian nominal setoran Amerika Serikat per tahun
Selama bertahun tahun, total kontribusi AS ke WHO berkisar antara sekitar 400 juta sampai 900 juta dolar AS per tahun. Angka ini naik turun tergantung kebijakan pemerintahan yang sedang berkuasa, prioritas isu kesehatan global, serta besaran hibah tematik yang disalurkan lewat jalur sukarela.
Secara garis besar, ada dua komponen utama setoran tahunan. Pertama adalah assessed contributions atau iuran wajib yang besarannya ditetapkan berdasarkan formula PBB yang memperhitungkan ukuran ekonomi dan kemampuan bayar suatu negara. Kedua adalah voluntary contributions atau sumbangan sukarela yang diarahkan ke program spesifik seperti polio, HIV, TBC, malaria, dan kesiapsiagaan pandemi.
Dalam beberapa tahun terakhir sebelum keputusan hengkang, iuran wajib AS biasanya berada di kisaran 110 sampai 120 juta dolar AS per tahun. Sementara donasi sukarela bisa melampaui 300 hingga 600 juta dolar AS, terutama ketika Washington mendorong agenda tertentu seperti penguatan keamanan kesehatan global, respons darurat, atau program imunisasi massal di negara negara berpendapatan rendah.
Jika dijumlahkan, kontribusi tahunan AS sering kali mencapai sekitar 15 sampai 20 persen dari total anggaran operasional WHO. Posisi ini menempatkan Amerika Serikat sebagai salah satu penyumbang terbesar, bersaing dengan Jerman, Inggris, dan lembaga filantropi seperti Bill & Melinda Gates Foundation.
Komponen iuran wajib dan sumbangan sukarela
Iuran wajib yang dibayar AS ke WHO bersifat tidak terikat dan bisa digunakan untuk mendanai fungsi inti organisasi. Dana ini menopang biaya administrasi, gaji staf, operasi kantor pusat di Jenewa, serta kantor regional dan perwakilan di negara negara anggota.
Berbeda dengan itu, sumbangan sukarela umumnya sudah dikunci untuk tujuan tertentu sejak awal. Pemerintah AS lewat berbagai lembaga seperti Departemen Kesehatan, USAID, dan CDC, menyalurkan hibah ke WHO dengan mandat jelas, misalnya untuk program eradikasi polio, penguatan laboratorium, atau surveilans penyakit menular.
Ketergantungan WHO pada dana sukarela membuat struktur anggaran menjadi timpang. Meski iuran wajib penting untuk menjaga independensi organisasi, porsinya terus menyusut, sementara donasi tematik dari negara donor besar, termasuk AS, semakin dominan. Kondisi ini memunculkan kritik bahwa agenda WHO terlalu mudah dipengaruhi kepentingan politik dan prioritas spesifik para penyumbang utama.
Ketika Amerika Serikat memutuskan hengkang dan menghentikan aliran dana, yang paling terpukul adalah program program yang selama ini dibiayai lewat hibah sukarela. Iuran wajib memang bisa digantikan secara bertahap oleh anggota lain, namun lubang di dana tematik jauh lebih sulit ditutup, karena menyangkut desain program yang sudah berjalan bertahun tahun di lapangan.
Alasan politik di balik pemutusan dana
Keputusan memutus dana ke WHO tidak lahir dalam ruang hampa, melainkan sebagai puncak dari akumulasi ketegangan politik. Pemerintah di Washington menilai WHO terlalu lunak terhadap beberapa kekuatan besar lain, terutama dalam penanganan fase awal pandemi global yang lalu, dan menuduh organisasi itu gagal bersikap transparan.
Narasi yang dibangun adalah bahwa WHO tidak cukup kritis dan terlambat mengeluarkan peringatan keras, sehingga memperparah penyebaran wabah. Dari perspektif politik domestik Amerika Serikat, tudingan ini kemudian dijadikan landasan untuk menggoyang legitimasi WHO dan mengalihkan sorotan publik dari kegagalan kebijakan dalam negeri.
Selain faktor pandemi, ada juga dimensi persaingan geopolitik. Washington menuding pengaruh negara tertentu di WHO semakin besar, sementara kontribusi dan kepentingan Amerika justru tidak terakomodasi sebanding dengan setoran dana yang selama ini digelontorkan. Ketidakseimbangan ini dipakai sebagai justifikasi bahwa aliran uang AS tidak lagi sepadan dengan manfaat strategis yang diperoleh.
Langkah pemutusan dana akhirnya diumumkan sebagai sinyal keras bahwa Washington siap menarik diri dari arsitektur kesehatan global yang dianggap tidak menguntungkan. Keputusan ini menyasar bukan hanya WHO sebagai institusi, tetapi juga mengirim pesan ke negara negara lain bahwa struktur tata kelola kesehatan dunia bisa diguncang jika tidak mengakomodasi kepentingan kekuatan utama.
Respons resmi WHO dan negara anggota lain
WHO merespons langkah tersebut dengan nada diplomatis, namun jelas menunjukkan kekhawatiran mendalam. Pimpinan organisasi menegaskan bahwa lembaga ini bekerja berdasarkan mandat negara anggota secara kolektif, bukan mengikuti kehendak satu negara, seberapa pun besar kontribusinya.
Dalam pernyataannya, WHO berulang kali menekankan pentingnya solidaritas global dan mengingatkan bahwa virus dan penyakit menular tidak mengenal batas negara. Organisasi itu juga menggarisbawahi bahwa pemotongan dana secara tiba tiba dapat mengganggu program esensial, mulai dari imunisasi anak sampai penanganan wabah di negara miskin.
Negara negara anggota lain bereaksi beragam, namun banyak yang menyatakan penyesalan atas keputusan Washington. Sejumlah pemerintah Eropa menyatakan siap meningkatkan kontribusi untuk menambal sebagian kekurangan, meski mengakui bahwa menutupi seluruh porsi AS bukan hal mudah. Di sisi lain, ada juga negara yang melihat ini sebagai momentum untuk mendorong reformasi tata kelola dan pendanaan WHO agar tidak terlalu tergantung pada satu donor besar.
Di forum forum multilateral, isu ini segera menjadi perdebatan hangat. Ada tekanan agar WHO memperkuat transparansi, memperbaiki sistem peringatan dini, dan menata ulang mekanisme evaluasi respons terhadap wabah. Namun di saat yang sama, banyak pihak mengingatkan bahwa reformasi butuh waktu, sementara pemutusan dana berdampak instan terhadap program yang sedang berjalan.
Program kesehatan global yang paling terdampak
Pemutusan aliran dana AS langsung menimbulkan pertanyaan soal nasib program program yang selama ini bergantung pada kontribusi Washington. Salah satu yang paling disorot adalah inisiatif pemberantasan polio, di mana AS menjadi salah satu penyumbang terbesar untuk kampanye imunisasi di puluhan negara.
Selain polio, program penanggulangan HIV AIDS dan TBC yang dijalankan bersama berbagai mitra juga ikut terancam. Banyak proyek lapangan yang mengandalkan dukungan teknis dan pendanaan dari WHO, yang sebagian besar dananya bersumber dari hibah sukarela Amerika Serikat. Tanpa kepastian dana, layanan seperti distribusi obat, pelatihan tenaga kesehatan, hingga penguatan laboratorium bisa tersendat.
Kesiapsiagaan menghadapi wabah baru juga ikut terdampak. Selama ini, sebagian besar dukungan untuk surveilans penyakit menular, pengembangan kapasitas laboratorium referensi, dan pelatihan tim respons cepat di negara berkembang, dibiayai oleh kombinasi dana dari AS dan mitra lainnya lewat WHO. Ketika salah satu pilar pendanaan runtuh, kemampuan negara negara rentan untuk mendeteksi dan merespons ancaman baru ikut melemah.
Di luar penyakit menular, program kesehatan ibu dan anak, gizi, serta pengendalian penyakit tidak menular seperti diabetes dan hipertensi juga berpotensi merasakan efek domino. WHO mungkin harus memangkas skala proyek, mengurangi dukungan teknis, atau menunda ekspansi program ke wilayah baru karena ketidakpastian anggaran.
Perubahan peta pendanaan di dalam WHO
Pemutusan dana dari Amerika Serikat memaksa WHO melakukan penyesuaian internal yang tidak kecil. Organisasi ini harus menata ulang prioritas, memangkas biaya operasional, dan mencari sumber dana alternatif, baik dari negara anggota lain maupun mitra non negara seperti yayasan filantropi dan sektor swasta.
Di tingkat manajemen, WHO mulai meninjau ulang portofolio program dan mengidentifikasi mana yang paling krusial untuk dipertahankan. Beberapa inisiatif yang dinilai bisa diambil alih oleh lembaga lain atau pemerintah nasional, berpotensi dikurangi peran WHO nya. Sementara program yang terkait langsung dengan pencegahan dan penanggulangan wabah, cenderung dipertahankan sebisa mungkin.
Perubahan peta pendanaan juga membuka ruang bagi negara lain untuk meningkatkan pengaruhnya. Ketika satu donor besar mundur, negara negara Eropa dan beberapa kekuatan ekonomi lain melihat celah untuk memperkuat posisi dalam pengambilan keputusan di WHO. Namun ini juga memunculkan kekhawatiran baru, bahwa keseimbangan kekuatan di dalam organisasi bisa bergeser secara tajam ke blok tertentu.
Di sisi lain, ketergantungan berlebihan pada dana sukarela dari segelintir donor dinilai tidak sehat untuk jangka panjang. Diskusi pun menguat soal perlunya menaikkan porsi iuran wajib negara anggota, agar WHO memiliki ruang gerak yang lebih stabil dan tidak mudah terguncang oleh manuver politik satu negara.
Manuver negara lain menambal kekosongan
Setelah sinyal hengkang dari Washington menguat, beberapa negara segera mengumumkan rencana peningkatan kontribusi. Jerman, misalnya, menyatakan siap menambah setoran dan mengambil peran lebih besar dalam mendukung program program WHO, terutama terkait keamanan kesehatan global dan kesiapsiagaan pandemi.
Inggris, Prancis, dan beberapa negara Nordik juga menyatakan dukungan serupa. Mereka melihat keberlanjutan WHO sebagai kepentingan bersama, karena tidak ada negara yang benar benar aman dari ancaman wabah jika sistem kesehatan global melemah. Namun mereka juga menegaskan bahwa peningkatan dana harus diiringi dengan perbaikan tata kelola, transparansi, dan akuntabilitas.
Di luar Eropa, beberapa negara dengan ekonomi besar juga mulai memosisikan diri sebagai pemain kunci baru. Kenaikan kontribusi dari kekuatan ekonomi Asia dan Timur Tengah membuka babak baru kompetisi pengaruh di dalam WHO. Negara negara ini tidak hanya membawa dana, tetapi juga agenda dan prioritas masing masing, yang bisa mempengaruhi arah kebijakan organisasi ke depan.
Meski begitu, menambal kekosongan yang ditinggalkan AS tidak sekadar soal nominal. Selama ini, Washington juga memasok keahlian teknis lewat lembaga seperti CDC dan NIH yang bekerja rapat dengan WHO. Kehilangan kombinasi dana dan kapasitas teknis ini membuat tantangan yang dihadapi WHO jauh lebih kompleks daripada sekadar mencari pengganti finansial.
Dampak ke proyek lapangan di negara berkembang
Di tingkat lapangan, pemutusan dana terasa paling cepat di negara negara berpendapatan rendah dan menengah yang selama ini menjadi sasaran utama program WHO. Banyak proyek kesehatan di Afrika, Asia Selatan, dan sebagian kawasan Pasifik yang bergantung pada dukungan teknis dan logistik dari kantor perwakilan WHO.
Tenaga kesehatan di wilayah terpencil mengandalkan pasokan vaksin, obat, dan peralatan yang sebagian besar dibiayai oleh kombinasi dana donor, termasuk AS. Ketika arus dana terganggu, distribusi logistik bisa melambat, pelatihan tertunda, dan kegiatan pemantauan penyakit berisiko terpangkas. Situasi ini membuka celah bagi kebangkitan kembali penyakit yang sebelumnya sudah berhasil ditekan.
Beberapa pemerintah nasional memang berupaya menutup kekurangan dengan mengalokasikan anggaran domestik lebih besar. Namun ruang fiskal negara berkembang sangat terbatas, apalagi di tengah tekanan ekonomi global. Tanpa dukungan eksternal yang memadai, target target kesehatan seperti penurunan angka kematian ibu dan bayi, pengendalian malaria, atau peningkatan cakupan imunisasi, terancam meleset jauh.
Lembaga swadaya masyarakat dan mitra lokal yang selama ini bermitra dengan WHO juga ikut terdampak. Banyak dari mereka mengandalkan kontrak proyek yang dananya bersumber dari hibah internasional. Ketidakpastian pendanaan membuat perencanaan jangka menengah sulit dilakukan, dan risiko penghentian program secara mendadak menjadi bayang bayang yang terus menghantui.
Perdebatan soal ketergantungan WHO pada satu donor besar
Langkah hengkang Amerika Serikat memantik kembali perdebatan lama tentang ketergantungan WHO pada satu atau dua donor dominan. Selama bertahun tahun, para pengamat sudah mengingatkan bahwa struktur pendanaan yang terlalu terpusat pada segelintir penyumbang membuat organisasi rentan terhadap guncangan politik.
Ketika satu negara menyumbang porsi besar, godaan untuk memakai pendanaan sebagai alat tekanan politik menjadi sangat kuat. WHO berada dalam posisi sulit, karena di satu sisi membutuhkan dana untuk menjalankan mandat, namun di sisi lain harus menjaga independensi ilmiah dan netralitas politik. Keseimbangan ini tidak mudah dijaga ketika ancaman pemotongan dana selalu menggantung.
Perdebatan juga menyentuh soal transparansi penentuan prioritas program. Banyak pihak menilai bahwa agenda WHO terlalu sering mencerminkan kepentingan donor besar, bukan semata kebutuhan kesehatan masyarakat global yang paling mendesak. Dengan hengkangnya salah satu penyumbang utama, muncul peluang untuk menata ulang prioritas berdasarkan bukti ilmiah dan kebutuhan lapangan yang lebih objektif.
Namun peluang itu hanya bisa dimanfaatkan jika struktur pendanaan ikut dibenahi. Tanpa reformasi, ada risiko ketergantungan hanya bergeser dari satu donor besar ke donor besar lain, tanpa mengubah masalah mendasar. Karena itu, wacana peningkatan iuran wajib dan diversifikasi sumber dana menjadi semakin mendesak untuk dibahas serius di antara negara anggota.
Usulan reformasi skema iuran dan tata kelola
Di tengah gejolak pendanaan, berbagai usulan reformasi mulai mengemuka. Salah satu gagasan utama adalah meningkatkan porsi iuran wajib negara anggota agar WHO memiliki fondasi keuangan yang lebih stabil dan tidak terlalu bergantung pada hibah sukarela yang terikat agenda tertentu.
Kenaikan iuran wajib ini diusulkan dilakukan secara bertahap, dengan mempertimbangkan kemampuan ekonomi masing masing negara. Negara berpendapatan tinggi diharapkan menanggung porsi lebih besar, sementara negara miskin tetap mendapat keringanan. Dengan cara ini, WHO diharapkan punya lebih banyak ruang untuk mendanai fungsi inti seperti koordinasi respons wabah, pengembangan pedoman teknis, dan dukungan sistem kesehatan.
Selain soal iuran, tata kelola internal juga menjadi sorotan. Mekanisme pengambilan keputusan, transparansi penggunaan dana, dan sistem evaluasi program dinilai perlu diperkuat. Beberapa usulan mendorong pembentukan badan pengawas independen yang bisa memberikan penilaian objektif terhadap kinerja WHO dan memastikan bahwa anggaran digunakan secara efisien.
Reformasi juga menyentuh hubungan WHO dengan donor non negara seperti yayasan filantropi dan sektor swasta. Ada dorongan agar kemitraan ini diatur lebih ketat untuk mencegah konflik kepentingan, tanpa menghambat masuknya sumber daya tambahan yang dibutuhkan untuk menjalankan program kesehatan global.
Dinamika politik domestik di Amerika Serikat
Keputusan memutus dana ke WHO tidak lepas dari dinamika politik domestik di Amerika Serikat yang sangat terpolarisasi. Di dalam negeri, langkah itu dibingkai sebagai upaya menegaskan kedaulatan dan menolak apa yang disebut ketergantungan pada lembaga internasional yang dianggap tidak akuntabel.
Namun pandangan di Washington sendiri tidak tunggal. Sebagian kalangan, termasuk pakar kesehatan masyarakat, mantan pejabat kesehatan, dan sejumlah legislator, menilai pemutusan dana sebagai langkah yang merugikan kepentingan nasional jangka panjang. Mereka berargumen bahwa keterlibatan aktif di WHO justru memberi AS akses informasi dini, pengaruh dalam penyusunan standar global, dan saluran koordinasi saat krisis kesehatan lintas negara.
Perubahan pemerintahan di AS kerap diikuti perubahan sikap terhadap lembaga internasional, termasuk WHO. Kebijakan yang diambil satu pemerintahan bisa dibalik oleh pemerintahan berikutnya, menciptakan ketidakpastian bagi mitra internasional. Pola tarik ulur ini membuat banyak negara lain bertanya seberapa jauh mereka bisa mengandalkan konsistensi komitmen Amerika Serikat di panggung kesehatan global.
Perdebatan di Kongres juga berkutat pada soal efisiensi penggunaan dana luar negeri dan prioritas anggaran domestik. Di tengah tekanan fiskal, program bantuan internasional termasuk kontribusi ke WHO sering menjadi sasaran pemangkasan, meski para pendukungnya menegaskan bahwa investasi di kesehatan global justru mencegah biaya jauh lebih besar jika wabah besar kembali terjadi.
Implikasi bagi arsitektur kesehatan global ke depan
Meski aliran Duit AS ke WHO diputus dan status resmi hengkang diumumkan, perdebatan soal bagaimana arsitektur kesehatan global harus dibangun kembali justru semakin menguat. Banyak pihak menilai bahwa ketergantungan pada satu badan internasional untuk menangani semua aspek kesehatan global sudah tidak memadai di tengah kompleksitas ancaman baru.
Sejumlah negara mulai mendorong penguatan jaringan regional, seperti pusat penyakit di tingkat benua dan mekanisme koordinasi antarblok. Gagasan ini bukan untuk menggantikan WHO, tetapi untuk melengkapinya dengan struktur yang lebih dekat ke wilayah terdampak dan lebih lincah merespons situasi darurat.
Di saat yang sama, ada kesadaran bahwa meski ada kelemahan, WHO tetap menjadi satu satunya lembaga dengan mandat universal untuk mengoordinasikan respons kesehatan global. Standar vaksin, pedoman terapi, dan deklarasi darurat kesehatan publik internasional tetap membutuhkan satu otoritas yang diakui bersama. Tanpa itu, dunia berisiko terjebak dalam fragmentasi standar dan kebijakan yang justru memperlambat penanganan krisis.
Peristiwa hengkangnya Amerika Serikat dari WHO dan pemutusan aliran dana besar memaksa komunitas internasional meninjau ulang fondasi kerja sama kesehatan global. Diskusi tentang pendanaan, tata kelola, dan distribusi kekuasaan di dalam organisasi kini tidak lagi bisa ditunda, karena konsekuensinya sudah terasa langsung di lapangan lewat program yang tersendat dan target kesehatan yang terancam meleset.

Comment