IHSG Babak Belur dalam beberapa pekan terakhir dan tekanan jual terlihat masif di hampir semua sektor. Indeks yang sempat mencetak rekor justru berbalik arah dan tergelincir tajam, memicu kekhawatiran investor ritel. Di tengah situasi ini, Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa justru menyebut kondisi sekarang sebagai good time to buy bagi investor yang berani dan sabar.
Tekanan Jual Menghantam Bursa Domestik
Koreksi tajam yang menimpa indeks saham domestik tidak terjadi dalam semalam, melainkan akumulasi sentimen negatif yang menumpuk. Investor asing mulai mencatatkan net sell dalam jumlah besar, sementara pelaku lokal banyak yang memilih menepi. Kombinasi ini membuat tekanan ke bawah di indeks makin kuat dan berkepanjangan.
Pergerakan indeks yang labil juga memicu kepanikan di kalangan trader jangka pendek. Banyak yang memilih cut loss ketika level teknikal penting jebol, sehingga memperparah tekanan jual. Dalam situasi seperti ini, psikologi pasar cenderung didominasi rasa takut, bukan pertimbangan rasional atas fundamental emiten.
Latar Belakang Koreksi: Dari Global Sampai Domestik
Pelemahan indeks tidak bisa dilepaskan dari gejolak global yang belum mereda. Ketidakpastian arah suku bunga acuan Amerika Serikat serta kekhawatiran perlambatan ekonomi dunia membuat investor global lebih hati hati. Aliran dana cenderung bergerak ke aset yang dianggap aman, sementara pasar saham negara berkembang menjadi korban arus keluar modal.
Dari sisi domestik, pasar juga dihadapkan pada penyesuaian ekspektasi pertumbuhan ekonomi dan kinerja emiten. Beberapa sektor yang sebelumnya digadang sebagai motor penggerak ternyata tidak sekuat perkiraan awal. Di saat yang sama, isu politik dan regulasi juga mewarnai sentimen, walau dampaknya lebih bersifat psikologis ketimbang fundamental.
Pandangan Purbaya: Momentum Beli Saat Harga Tertekan
Purbaya Yudhi Sadewa menilai koreksi tajam yang terjadi justru membuka peluang bagi investor yang berpikir jangka panjang. Menurutnya, ketika valuasi saham turun jauh di bawah nilai wajar, risiko penurunan tambahan relatif lebih terbatas dibanding potensi kenaikan di masa depan. Dalam kacamata ini, pasar yang lesu bukan hanya soal kerugian, tetapi juga kesempatan masuk di harga diskon.
Ia menekankan, kondisi perbankan dan stabilitas sistem keuangan Indonesia masih terjaga. Rasio kecukupan modal bank kuat dan likuiditas masih longgar, sehingga risiko sistemik relatif rendah. Dengan fondasi makro yang masih solid, Purbaya memandang koreksi di pasar saham lebih banyak dipicu faktor sentimen ketimbang kerusakan mendasar pada ekonomi.
Alasan Optimisme di Tengah Koreksi
Optimisme Purbaya bertumpu pada keyakinan bahwa ekonomi Indonesia masih berada di jalur pertumbuhan moderat. Konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama dan belanja pemerintah berjalan, meski tidak meledak. Di sisi lain, beberapa sektor seperti komoditas, infrastruktur, dan keuangan dinilai masih menyimpan potensi pemulihan harga.
Ia juga melihat bahwa siklus pasar saham memang bergerak naik turun dan tidak pernah lurus ke atas. Dalam siklus penurunan, harga cenderung bergerak di bawah nilai intrinsik akibat kepanikan dan aksi jual berlebihan. Ketika situasi berbalik dan ketakutan mereda, harga biasanya kembali mendekati atau bahkan melewati nilai wajarnya.
Kondisi Makroekonomi Masih Relatif Terkendali
Di tengah guncangan pasar, indikator makro domestik belum menunjukkan tanda alarm keras. Inflasi relatif terkendali dan masih dalam kisaran target otoritas moneter, meski tekanan harga pangan sesekali muncul. Stabilitas harga ini membantu menjaga daya beli masyarakat, yang menjadi fondasi utama pertumbuhan ekonomi.
Nilai tukar rupiah memang menghadapi tekanan, namun belum menyentuh level yang mengancam stabilitas keuangan. Bank Indonesia masih memiliki ruang intervensi dan cadangan devisa yang memadai untuk meredam gejolak berlebihan. Dengan situasi seperti ini, risiko krisis keuangan besar dinilai cukup jauh, meski kewaspadaan tetap diperlukan.
Peran Kebijakan Moneter dan Fiskal
Kebijakan suku bunga yang cenderung hati hati membuat otoritas moneter tidak terburu buru memberikan stimulus agresif. Pendekatan ini dimaksudkan untuk menyeimbangkan antara dukungan ke pertumbuhan dan penjagaan stabilitas nilai tukar. Dalam konteks pasar saham, langkah ini bisa membuat pemulihan berlangsung lebih gradual, tetapi memberi kepastian jangka menengah.
Dari sisi fiskal, pemerintah berupaya menahan defisit anggaran agar tidak melebar secara liar. Belanja tetap diarahkan ke sektor produktif seperti infrastruktur, kesehatan, dan bantuan sosial terarah. Walau ruang fiskal tidak luas, keberlanjutan kebijakan menjadi sinyal penting bagi investor bahwa pemerintah tidak mengambil risiko berlebihan.
Valuasi Saham Mulai Terlihat Menarik
Koreksi berkepanjangan membuat banyak saham diperdagangkan di bawah rata rata valuasi historisnya. Rasio harga terhadap laba beberapa emiten unggulan turun ke level yang sebelumnya jarang terlihat. Bagi investor yang menilai saham berdasarkan fundamental, kondisi ini mulai mengundang minat untuk melakukan akumulasi bertahap.
Di sektor perbankan misalnya, harga saham sejumlah bank besar turun signifikan meski kinerja keuangan masih solid. Pertumbuhan kredit memang melambat, tetapi kualitas aset relatif terjaga dan profitabilitas tetap positif. Gap antara kinerja fundamental dan harga di pasar inilah yang sering disebut sebagai peluang bagi investor sabar.
Sektor Sektor yang Tertekan Namun Prospektif
Selain perbankan, sektor konsumer juga ikut tertekan oleh arus jual, meski penjualan masih ditopang kebutuhan sehari hari. Emiten makanan dan minuman besar misalnya, tetap mencatat pertumbuhan pendapatan, walau margin tertekan biaya bahan baku. Koreksi harga saham yang terlalu dalam bisa membuka ruang pemulihan ketika tekanan biaya mulai mereda.
Di sisi lain, sektor komoditas menghadapi tantangan dari fluktuasi harga global. Namun untuk komoditas tertentu, permintaan jangka panjang masih terjaga seiring kebutuhan energi dan bahan baku industri. Jika harga komoditas berbalik naik, emiten di sektor ini berpotensi mencatat lonjakan laba yang tercermin ke harga saham.
Psikologi Pasar: Ketakutan vs Peluang
Pergerakan pasar saham sering kali lebih dipengaruhi emosi ketimbang data. Saat indeks jatuh, rasa takut kehilangan uang dengan cepat menyebar di kalangan investor ritel. Banyak yang menjual saham bukan karena fundamental memburuk, tetapi karena takut harga turun lebih dalam. Pola ini berulang di hampir setiap siklus koreksi.
Dalam pandangan pelaku pasar berpengalaman, fase ketakutan berlebihan justru sering menjadi momen paling menarik. Ketika mayoritas pelaku pasar menyerah, harga saham bisa jatuh ke level yang tidak masuk akal secara fundamental. Di titik inilah, investor dengan horizon panjang dan analisis matang biasanya mulai mengisi portofolio.
Peran Investor Ritel di Tengah Gejolak
Investor ritel di Indonesia mengalami lonjakan jumlah sejak masa pandemi, ketika suku bunga rendah dan aktivitas digital meningkat. Banyak pendatang baru masuk pasar di saat indeks sedang naik, sehingga belum merasakan siklus penuh naik turun. Ketika koreksi tajam datang, sebagian kaget dan tidak siap dengan volatilitas.
Di tengah kondisi seperti sekarang, literasi keuangan dan kemampuan membaca risiko menjadi krusial. Investor ritel yang hanya mengandalkan rekomendasi singkat tanpa memahami bisnis emiten rentan panik. Sebaliknya, mereka yang meluangkan waktu mempelajari laporan keuangan dan prospek industri cenderung lebih tenang menghadapi gejolak.
Strategi Masuk Pasar di Tengah Koreksi
Pernyataan bahwa ini good time to buy bukan ajakan membeli secara serampangan. Investor tetap perlu strategi terukur agar tidak terjebak dalam penurunan yang lebih dalam. Salah satu pendekatan yang sering dipakai adalah masuk bertahap menggunakan skema pembelian berkala. Dengan cara ini, risiko salah timing bisa ditekan.
Selain itu, pemilihan saham menjadi kunci utama. Fokus umumnya diarahkan ke emiten dengan fundamental kuat, tata kelola baik, dan prospek usaha jelas. Saham seperti ini biasanya mampu bangkit lebih cepat ketika kondisi pasar membaik, dibanding emiten yang sudah bermasalah sejak sebelum koreksi.
Pentingnya Manajemen Risiko
Manajemen risiko tidak bisa diabaikan meski valuasi terlihat menarik. Investor perlu menentukan batas kerugian yang sanggup ditanggung dan porsi saham dalam portofolio secara disiplin. Diversifikasi lintas sektor dan jenis aset juga membantu meredam guncangan ketika satu segmen pasar terkena tekanan berat.
Penggunaan dana pinjaman untuk berinvestasi di tengah volatilitas tinggi sebaiknya dipertimbangkan matang matang. Leverage bisa memperbesar keuntungan, tetapi juga mempercepat kerugian jika pasar bergerak berlawanan. Dalam fase tidak pasti seperti ini, pendekatan konservatif umumnya lebih aman bagi mayoritas investor.
Peran Lembaga Keuangan dan Regulator
Stabilitas pasar modal tidak hanya bergantung pada perilaku investor, tetapi juga kesiapan lembaga keuangan dan regulator. Otoritas pasar modal memantau pergerakan indeks dan transaksi untuk mengantisipasi gejolak berlebihan. Jika diperlukan, sejumlah kebijakan teknis dapat diaktifkan untuk menjaga perdagangan tetap teratur.
Lembaga penjamin simpanan seperti LPS juga memainkan peran penting dalam menjaga kepercayaan publik terhadap sistem perbankan. Dengan memastikan simpanan masyarakat terlindungi sampai batas tertentu, potensi rush ke bank dapat diminimalkan. Kepercayaan pada perbankan berdampak tidak langsung ke pasar saham, karena bank adalah penopang utama pembiayaan ekonomi.
Sinergi Kebijakan untuk Menjaga Kepercayaan
Koordinasi antara pemerintah, bank sentral, otoritas pasar modal, dan lembaga penjamin simpanan menjadi kunci dalam situasi penuh ketidakpastian. Pesan yang konsisten dan transparan membantu mengurangi spekulasi liar yang bisa memicu kepanikan. Di sisi lain, data dan kebijakan perlu disampaikan dengan jujur agar pasar dapat menilai risiko secara realistis.
Dalam konteks ini, pernyataan tokoh seperti Purbaya yang menekankan stabilitas sistem keuangan dan peluang di pasar saham memberi warna tambahan. Pesan tersebut bukan sekadar optimisme, tetapi juga upaya menyeimbangkan narasi yang terlalu fokus pada sisi negatif. Dengan demikian, investor memiliki gambaran lebih utuh sebelum mengambil keputusan.
Dampak ke Portofolio Dana Besar
Koreksi tajam di pasar saham juga memaksa manajer investasi dan pengelola dana pensiun melakukan penyesuaian. Portofolio yang terlalu agresif di saham mungkin perlu diimbangi dengan instrumen pendapatan tetap. Namun di sisi lain, penurunan harga saham memberi peluang rebalancing bagi dana besar yang berorientasi jangka panjang.
Banyak pengelola dana institusi memiliki mandat investasi bertahun tahun, bahkan puluhan tahun. Dengan horizon sepanjang itu, fluktuasi jangka pendek dianggap sebagai bagian dari perjalanan. Mereka cenderung memanfaatkan koreksi untuk memperkuat posisi di emiten unggulan yang sebelumnya dinilai terlalu mahal.
Pergerakan Asing dan Konsekuensinya
Aksi jual investor asing sering menjadi pemicu utama tekanan di indeks. Ketika dana global keluar, likuiditas menurun dan harga mudah tergelincir. Namun sejarah menunjukkan, arus modal asing juga bisa kembali ketika prospek membaik dan valuasi dinilai menarik. Siklus keluar masuk dana asing ini menjadi dinamika yang harus dipahami investor lokal.
Dalam situasi sekarang, investor domestik berpotensi menjadi penyeimbang jika berani memanfaatkan harga murah. Peningkatan peran investor lokal di bursa dalam beberapa tahun terakhir memberi harapan bahwa pasar tidak sepenuhnya bergantung pada dana asing. Meski begitu, kemampuan menyerap tekanan jual besar tetap terbatas dan perlu waktu.
Peluang bagi Investor Jangka Panjang
Bagi investor dengan orientasi jangka panjang, fokus utama bukan pada pergerakan indeks harian. Yang lebih penting adalah tren kinerja bisnis emiten dan kesehatan ekonomi dalam beberapa tahun ke depan. Jika keyakinan terhadap prospek jangka panjang Indonesia masih kuat, koreksi saat ini dapat dilihat sebagai bagian dari perjalanan menuju level yang lebih tinggi.
Pendekatan ini mensyaratkan kesabaran dan disiplin tinggi. Investor perlu siap menghadapi volatilitas lanjutan dan tidak tergoda bereaksi berlebihan terhadap berita jangka pendek. Di sisi lain, pemantauan berkala tetap dibutuhkan untuk memastikan tesis investasi awal masih relevan dengan perkembangan terbaru.
Menyusun Ulang Strategi di Era Volatil
Era volatilitas tinggi menuntut penyesuaian cara pandang terhadap pasar. Pola beli dan simpan tanpa evaluasi berkala menjadi kurang relevan ketika perubahan terjadi cepat. Investor perlu menggabungkan analisis fundamental dengan pemahaman teknikal dasar agar tidak buta terhadap level level penting di pasar.
Penggunaan skenario juga bisa membantu. Misalnya, menyiapkan rencana jika indeks turun lagi beberapa persen, atau jika tiba tiba berbalik naik dengan volume besar. Dengan memiliki skenario, keputusan tidak diambil secara panik, tetapi mengikuti rambu yang sudah disusun sebelumnya.
Perspektif ke Depan untuk Bursa Saham Domestik
Perjalanan pasar saham Indonesia ke depan akan banyak dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik. Arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat, perkembangan ekonomi Tiongkok, dan harga komoditas utama akan terus menjadi sorotan. Di dalam negeri, kebijakan pemerintah baru, kelanjutan proyek infrastruktur, serta reformasi struktural akan ikut membentuk sentimen.
Dalam kerangka inilah pernyataan bahwa sekarang good time to buy perlu dibaca secara proporsional. Bagi sebagian investor yang siap dengan risiko dan memiliki horizon panjang, koreksi tajam memang bisa menjadi pintu masuk menarik. Namun bagi yang belum siap secara mental dan finansial, langkah paling bijak adalah memperkuat pemahaman sebelum menambah eksposur di pasar saham.

Comment