Mulai 15 November 2020, ATB Tidak Lagi Kelola Air Bersih di Batam

WAJAHBATAM.ID – Batam | PT. Adhya Tirta Batam (ATB) yang merupakan badan pengelolaan air bersih di Batam, pada 14 November 2020 ini akhiri masa kontraknya dengan BP Batam setelah 25 tahun menjalankan tugasnya di Batam. Hal ini disampaikan oleh Presiden Direktur ATB Benny Andrianto dalam konfrensi persnya yang diselenggarakan di Instalasi Air Duriangkan, Senin (7/9).

Dalam keterangan persnya Beni mengatakan bahwa awalnya BP Batam akan ambil alih langsung SPAM Kota Batam dan berencana membentuk Stategi Bussines Unit ( BSU) dan telah melakukan proses orientasi sejak 15 Mei 2020 lalu. BP Batam juga telah berjanji untuk merekrut seluruh karyawan ATB untuk masuk dalam SBU yang dibentuk dalam suatu pertemuan di Tumenggung Abdul Jamal Batam (13/5).

Benny kembali mengatakan bahwa proses itu tidak berjalan sesuai dengan rencana yang kenyataannya. Benny menganggap BP Batam tidak mampu. Selanjutnya pihak BP Batam melanjutkan dengan proses lelang pemilihan operator transisi. Disini Benny juga menilai keputusan itu terlalu tergopoh-gopoh sehingga diduga melanggar sejumlah peraturan perundang-undangan, salah satunya Perpres Nomor 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. “Aturan tersebut tidak mengenal Pemilihan Langsung seperti yang digunakan BP Batam”, ungkapnya.

Selain itu dalam proses lelang ATB juga diberi persyaratan harus mematuhi dan melaksanakan seluruh notisi yang dilakukan BPKP selambat-lambatnya tanggal 31 Oktober 2020 yang harus dituangkan dalam bentuk pernyataan bermaterai, jika ATB menolak maka ATB tidak berhak ikut proses dalam Pemilihan Langsung tersebut.

Menurut Benny, BP Batam telah manyalahgunakan kewenangannya dengan menggunakan notis BPKP yang tidak sesuai dengan tujuan awal, dimana penunjukan BPKP adalah untuk proses pengakhiran konsesi, bukan untuk syarat lelang. “Prasyarat BP Batam ini tidak pada tempatnya dan mengada-ada“, ujar Benny mengakhiri.

Pada pertemuan tersebut, menjawab pertanyaan undangan yang hadir Benny mengatakan bahwa dalam kontrak awal ATB hanya melayani sekitar 170 ribu pelanggan, sementara saat ini ATB harus melayani 290 ribu lebih pelanggan. Disamping itu BP Batam dari awal hingga saat ini tidak mengeluarkan anggaran satu sen pun, sementara jika ditotal secara keseluruhan ATB telah memberi kontribusi sekitar 2 Trilyun kepada BP Batam. “Kalaupun ATB memakai asset BP Batam, itu bukan gratis tapi sewa” ujarnya.

Tanggapan BP Batam

Pada tempat terpisah, Dendi Gustinandar (Kabag. Humas Promosi dan Protokoler BP Batam mengatakan via WhatsApp nya ke Media WB bahwa BP Batam menyelenggarakan tender Pengelolaan dan Operasi Sistem Pengelolaan Air Minum untuk masa transisi (6 Bulan).

Untuk mendapatkan mitra penyelenggaraan operasi dan pemeliharaan selama masa transisi (6 bulan) sistem penyediaan air minum di Batam, BP Batam memabg melakukan tender terkait hal tersebut yang dimulai pada tanggal 12 Agustus 2020.
Panitia mengundang perusahan-perusahaan yang mempunyai pengalaman dalam pengelolaan SPAM di Indonesia dengan pengalaman mengelola SPAM dengan kapasitas minimun 3000 l/detik, termasuk PT ATB.
Berdasarkan hasil evaluasi penawaran yang dimasukkan oleh para peserta, ditetapkan peserta terbaik adalah PT Moya Indonesia.
Penetapan PT Moya sebagai pemenang sudah dilakukan pada tanggal 4 September 2020 kemarin, selanjutnya bagi peserta yang keberatan dapat melakukan sanggahan pada tanggal 7 sampai dengan 9 September 2020. Demikian Dendi Gustinandar menyampaikan klarifikasinya.

*Sh*

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0

Jadwal Pemadaman Listrik Sementara 7-10 September 2020

Bermukim di Sekitar Jaringan Transmisi SUTT, Berbahayakah ?